
Yuni tersenyum di depan cermin, mengusap perut yang bahkan belum menggembung sedikit pun, rasanya dia ingin segera memeluk buah hatinya ini. “Sayang, kita akan bahagia setelah ini. Cepatlah besar dan kuat, mama akan selalu ada untukmu, kita akan terus bersama, oke?” Tahu kalau malam semakin larut, Yuni naik ke ranjang, dan merebahkan diri agar besok kembali segar.
***
Tiga hari berlalu dengan cepat dan tak ada yang berubah. Yuni di vila dengan Mr sedangkan Cahyo menjadi lebih pendiam dari biasanya. Dia sarapan seperti biasa, bersikap tak ada yang berbeda dan aneh, tapi saat tak sengaja mendongak dan melihat mamanya yang menatap, Cahyo tersenyum, “Ada apa, Ma?” Kembali melahap makanannya lagi setelah bertanya.
“Ponsel Yuni tidak aktif.” Mama Cahyo hanya mengatakan kalimat itu saja.
Cahyo terkekeh, “Aku tidak tahu, Ma. Pekerjaan di kantor sangat banyak, aku tidak bisa mengurus hal remeh seperti itu, mungkin dia sedang bersenang-senang sekarang.” Segera menghabiskan makanannya agar cepat lolos dari mamanya.
Papa Cahyo menahan tangan istrinya, sengaja melakukan itu agar istrinya menoleh, dan menggeleng saat bertemu tatap. “Aku ada pekerjaan di luar kota untuk beberapa hari, Mamamu akan ikut denganku, kuharap kamu tak kesepian di rumah sendiri.” Meneguk air putih agar makanan di tenggorokannya semakin lancar.
__ADS_1
Cahyo mengangguk, “Aku berangkat dulu, Pa, Ma.” Mengambil tas kerjanya dan pergi ke kantor.
Mama Cahyo segera menoleh suaminya lagi, “Pa?!”
“Jangan kawatir.” Meski dia juga memikirkan keberadaan Yuni, tak ingin istrinya semakin panik, “Siapkan saja baju kita, melihat Cahyo membuat hatimu sakit, kan? Aku akan mengajakmu jalan-jalan.” Tersenyum sambil berdiri. Papa Cahyo segera ke luar untuk menemui sopirnya.
Cahyo... langsung masuk ruang kerja Surya, “Tanya ke Ratih di mana Yuni sekarang, Sur.”
Surya yang masih sibuk dengan pekerjaannya, mengerutkan kening, “Kenapa kau menyuruhku? Bukankah kamu yang butuh informasi itu? Tanya saja sendiri ke Ratih. Aku tidak mau ikut campur.” Kembali fokus ke pekerjaannya lagi.
__ADS_1
Cahyo menggertakkan gigi, langsung duduk di meja sambil menumpu ke meja, “Apa kau lupa kalau aku bosnya di sini?”
Surya terkekeh sambil menyandarkan punggung, “Ya, kau memang bosnya, tapi mencari di mana Yuni bukan bagian dari pekerjaanku. Dia memang pemilik saham terbesar di perusahaan ini, tapi dengan tanda tanganmu saja semua pekerjaan bisa berjalan, jadi menurutku tidak penting bagiku mencari keberadaan Yuni. Kalau kau mau bertanya ke Ratih tentang Yuni, datanglah ke apartemenku, dia di sana, dan biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku yang banyak ini, Tuan Cahyo.” Surya tersenyum. Dia belum menyentuh laptopnya lagi, menunggu Cahyo akan mengatakan apa, tapi yang didapat malah kepergian Cahyo dari ruang kerjanya.
“Berengsek! Berani sekali dia bersikap seperti itu? Apa dia pikir aku tidak berani memecatnya karena aku menganggapnya teman? Cuih!” Cahyo masuk ruang kerjanya. Dia membuka laptop untuk bekerja, tapi kenapa pikirannya terus lari ke Yuni.
‘Bruak!’ Rasanya sangat memuakkan. Setelah menggebrak meja, Cahyo tak tahan lagi, dia berdiri dan akan menemui Ratih sekarang juga. Tak mungkin Yuni mampu pergi jauh, bukankah Yuni mencintainya?
Cahyo terkekeh dalam perjalanan, “Aku akan menemukanmu, Yun. Setelah membuatmu mengakui siapa ayah dari anak haram itu, aku sendiri yang akan mengeluarkannya dari perutmu, kau pikir siapa dirimu itu, huh?! Hahahahaha.”
__ADS_1
Sopir yang mengantar Cahyo menuju sebuah apartemen, hanya bisa menelan ludah, dia tak tahu dengan apa yang terjadi, tapi ucapan itu terdengar sangat jelas. Setelah sampai, memastikan Cahyo masuk apartemen, sedangkan dirinya segera mengambil ponselnya untuk menelepon. Tak butuh waktu lama, orang di seberang sana pun segera mengangkat, ada perasaan lega yang merasuk ke dada.