Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Datanglah padaku


__ADS_3

Tanpa memberi kabar, Cahyo segera masuk ke apartemen Nana, wanitanya itu sedang tidur. Cahyo naik ke ranjang, menyerang Nana tanpa permisi dan menimbulkan gencatan selama beberapa menit. Setelah puas dan hasratnya tuntas, Cahyo pun berbaring di samping Nana.


Nana memeluk Cahyo, “Kapan kamu pulang?” tanyanya.


“Tadi, aku segera ke sisi, kamu tidak ke kantor?” tanya Cahyo, dia membiarkan Nana terus mengusap perutnya.


Nana menggeleng, “Aku malas kalau kamu tidak di kantor, lagi pula ada Hendra, dia bisa memudahkan pekerjaanku, bukankah tidak masalah aku tidak masuk, aku masih kekasihmu, Cahyo.”


Cahyo terkekeh, dia menyisikan tangan Nana, bangun dan memakai pakaiannya lagi.


“Ke mana?” tanya Nana yang tetap berebah.


“Pulang. Besok aku akan menjemputmu, tapi aku tidak bisa lama-lama di sini, Yuni—“


“Yuni membuatmu tunduk padanya?” potong Nana cepat. Dia menyeringai setelah mengejek perasaan Cahyo.


Cahyo menghela napas, “Jangan mengajakku berdebat, Nana. Lama atau sebentar aku tetap milikmu, Yuni hanya pajangan di rumah dan kamu pun tahu, jadi jangan membuatku marah.” Cahyo yang kembali rapi, memastikan tidak ada yang tertinggal, setelahnya benar-benar pulang tanpa peduli Nana yang terlihat marah padanya.


Di rumah Cahyo tak bicara banyak, hanya membahas beberapa pekerjaan dengan papanya, makan malam, dan tidur. Tak peduli dengan Yuni yang juga sama diamnya. Andai Yuni tahu kalau dia ingin Yuni menyambutnya, menanyakan apa saja yang dilakukan selama beberapa hari di luar kota, dan hal yang membuatnya lelah. Bukan malah meninggalkannya tanpa perhatian seperti itu.


***


Cahyo menggeliat. Yuni tak lagi ada di sampingnya, tapi minuman yang terlihat panas, seolah baru saja ditaruh. Cahyo menyeruputnya pelan, cukup berhasil merayu emosinya agar redam. Cahyo mandi dan saat selesai Yuni sudah di kamar sedang menata pakaian kantornya.


Yuni tersenyum, membantu Cahyo bersiap, “Mas, ke kantor dengan sopir saja, Mas pasti lelah. Apa aku ikut ke kantor?”


“Tidak usah. Ada rapat nanti. Bukankah tokomu sibuk, aku tidak mau mengganggumu.” tolak Cahyo. Dia membiarkan Yuni memasangkan dasi untuknya.

__ADS_1


Yuni tersenyum lagi, “Gak apa-apa, Mas.” Yuni ketahuan menangis kemarin dan mama Cahyo menyuruhnya bersabar atas sikap Cahyo, sama tahu kalau Cahyo sebenarnya hanya rindu tapi tidak bisa mengungkapkannya. “Aku akan ikut mobil Mas ke kantor, tapi turunkan kau di toko, aku malas dengan sopir sendiri, jadi nanti siang kita bisa makan bersama.” imbuhnya.


“Terserah kamu saja, Yun.” Cahyo segera turun, dia tidak mau terlambat. Segera sarapan dan mengajak Yuni berangkat bersama setelah pamit dengan orang tuanya.


Yuni melambaikan tangan sesampainya di toko bunga, masuk untuk mengapa pekerjanya, dan membuka laptop untuk memeriksa keuangan. Dia melihat bunga baru di meja dan segera bertanya ke pekerjanya.


“Bang Hendra yang ke sini, membeli bunga itu kemarin dan menyuruhnya meletakkan di meja untuk Mbak Yuni, aku tidak bisa menolaknya, Mbak Yun.”


Yuni pun meletakkan bunga itu di tempat sampah. Baru akan masuk dan Ratih meneleponnya, “Ada apa? Ini masih pagi, Ratih?” tanyanya sambil tertawa.


“Kamu tahu? Aku sedang menyetir mobil dan sekarang aku ke toko bungamu, kita akan ke luar nonton film dan jalan-jalan di mall, bersiaplah, aku tidak mau menunggu lama.” Ratih memutus sambungan telepon itu.


Yuni yang masih tertawa, bersiap, dan menunggu Ratih, tapi dia melupakan satu hal. Saat Ratih datang dan Yuni ikut ke mobil Ratih, Yuni pun menelepon Cahyo untuk pamit.


“Jangan lupa, nanti makan siang denganku, aku sudah pesan tempat, aku tidak mau membatalkannya.” Cahyo yang sedang rapat penting, hanya bergumam dan menyimpan ponselnya. “Dari mana tadi?” tanyanya ke Surya yang sedang presentasi dan berhenti sebentar karena telepon Yuni barusan.


Nana mengangguk, “Tapi jangan salahkan kalau aku pulang dulu, aku paling malas ke luar kota.”


Hendra juga sama mengangguknya, “Ya, tidak masalah, setelah tujuh puluh lima persen, Mbak Nana bisa pulang dulu.”


Surya mengangguk, memberi tanda tangan dalam keputusan yang baru saja disetujui, dan melanjutkan rapat lagi. Cukup lancar, di jam sebelas semua sudah selesai, “Sudah, Pak Cahyo. Silakan tanda tangan di sini.” Pintanya dan menyerahkan semua dokumen itu ke Cahyo.


“Ya. Kita bersantai sejenak untuk hari ini.” Ucap Cahyo sambil membubuhkan tanda tangan. Setelah selesai dia pun kembali ke ruangannya. Baru saja duduk dan Nana sudah berdiri dan memamerkan senyum, “Ada apa, hm?!” menepuk pangkuan agar Nana naik ke sana.


Nana naik dengan manja, “Aku semalam tidak bisa tidur, Sayang. Bisakah kita melakukannya? Sebentar saja, aku janji tidak akan menahan-nahanmu lagi. Kumohon ....” tangannya yang lincah segera membelai rahang Cahyo, menggoda, dan tanpa sungkan segera meraih bibir Cahyo dengan bibirnya.


Sedangkan Yuni... saat ini makan es krim di mall dengan Ratih. Baru beberapa sendok dan Hendra terlihat tersenyum sambil melambaikan tangan. “Kamu mengajak Hendra?” tanyanya ke Ratih.

__ADS_1


“Iya, mana?” Ratih menoleh, dengan cepat menemukan Hendra, “Sini! Kita lamaaaa banget gak ngumpul, aku mau temu kangen, habis ini aku kerja, nanti kita jarang ketemu, terus kalau kerja ternyata gak enak aku mau nikah.” Ratih tertawa setelahnya.


Hendra mengangguk, dia jadi canggung melihat Yuni, wanita itu selalu sukses membuatnya jatuh hati. Hingga semua pembicaraan selesai, Hendra hanya menimpali sesekali tanpa banyak bicara.


“Bentar. Surya telepon.” Ratih segera mengangkatnya sambil membelakangi Yuni dan Hendra.


“Kamu ...sudah menerima bungaku?” tanya Hendra.


Yuni mengangguk, “Tapi kalau kamu masih mau berteman denganku, apa boleh aku minta jangan memberiku bunga lagi? Aku sudah bersuami, Hendra.”


Hendra mengangguk, “Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku tetap di sini. Kapan pun kamu datang, aku tetap menerimamu.”


“Anggap saja aku tidak akan pernah datang karena bagiku hanya ke Cahyo saja seluruh hidupku.” Yuni cukup memberi batasan agar tak melukai hati siapa pun.


“Aku senang melihat kesetiaanmu, kudoakan semoga kamu bahagia, Yuni.” Hendra masih ingin bicara, tapi Ratih baru saja menyelesaikan teleponnya, dia pun urung. Memilih untuk menikmati makanannya lagi.


“Yuni, maaf ya aku ke bawah, Surya di sini, dia baru saja parkir, aku sepertinya tidak bisa mengantarmu pulang.” Ratih benar-benar tidak merencanakan semua ini.


“Gak apa-apa, aku naik taksi saja. Surya di bawah, kan? Aku pulang, ya? Apa pun keputusanmu, aku mendukungmu. Dadahhh.” Yuni mencium pipi Ratih dan pergi.


Setelah Yuni menjauh, Hendra pun ikut pamit, sebisa mungkin segera mengejar Yuni, “Ayo!” ajaknya. Motor yang dikendarai, tepat di depan Yuni saat ini.


Yuni menggeleng, “Aku naik taksi saja, Hendra.” Cahyo akan ke toko, Yuni tidak mau Cahyo melihatnya dibonceng Hendra.


“Aku gak akan mampir, lebih baik kamu cepat sampai, kan? Aku janji gak akan memaksamu lagi setelah ini, aku juga gak ngasih apa pun lagi, beneran.” Hendra terus mengulurkan helmnya ke Yuni.


Yuni pun mengangguk, segera mengambil helm itu, “Agak ngebut, ya? Aku mau cepet sampai sebelum jam makan siang.”

__ADS_1


“Iyaaaa, Yun.” Hendra melajukan motor dengan kecepatan yang sesuai dengan permintaan Yuni.


__ADS_2