
Surya segera menarik Hendra, “ Apa ini?!” Dia akan meminta tanda tangan tadi dan kejadian di balik pintu malah membuatnya terkejut.
Hendra menepis tangan Surya, dia membuang muka, malas melihat Cahyo yang masih saja mengejeknya.
Cahyo terkekeh, “Lihat! Dia memukul orang yang selama ini memberinya gaji.” Belum juga berniat bangun dari lantai, membiarkan dirinya tetap duduk di sana, menunggu siapa lagi yang akan masuk dan membuatnya terkejut.
“Berengsek! Kau yang lebih dulu memukuli Yuni, Cahyo!” Hendra mendekati lagi, sepertinya Cahyo belum kapok juga sebelum pingsan oleh tinjunya, dan Hendra harus menuntaskan pelajaran ini.
“Cukup! Cukup!!” Surya terus menahan Hendra sekuat tenaga, “Tahan emosimu, Hen. Keluaran dulu!” Menyeret Hendra hingga ke luar ruang kerja dan kembali masuk sambil mengunci pintu. Dia menggeleng melihat Cahyo yang tertawa sambil bangun dari lantai.
Merapikan pakaiannya yang lusuh, mengambil ponsel untuk melihat seperti apa wajahnya yang terasa perih ini, sepertinya Yuni akan senang melihatnya nanti.
“Kau tidak membalas Hendra?” Surya heran dengan tingkah Cahyo. Dia yakin, tenaga Hendra tak sebesar itu untuk membuat wajah Cahyo babak belur, tapi semua terlihat terlalu mudah.
__ADS_1
Cahyo menggeleng, “Tidak. Untuk apa aku membalasnya? Aku malah diuntungkan oleh Hendra, Yuni akan membenci Hendra, dan keduanya tak saling jatuh cinta lagi.” Cahyo duduk dan menoleh ke Surya, “Kenapa ke sini?”
Surya menggeleng sambil menyodorkan dokumen yang dibawanya tadi, “Bukankah kau sendiri yang bilang kalau tidak mungkin Yuni menyukai Hendra, apa karena kebaikan Hendra kau jadi ketakutan, huh?!”
Cahyo menggeleng lagi, “Tidak. Aku hanya mencegah hal yang tak seharusnya terjadi. Sudah, kembalilah ke ruanganmu, dan pastikan Hendra tidak datang lagi ke mari. Wajahku rasanya panas.” Cahyo meringis, wajahnya terasa kaku, mungkin memarnya lebih parah dari yang dia kira.
“Kau mau aku memecat Hendra sekarang?” Surya hanya memastikan apa keputusan Cahyo.
“Tidak suah, bukankah perusahaan masih membutuhkannya? Kalau Hendra dipecat siapa yang akan memegang pantai? Kau tahu sendiri Mr bahkan terlihat begitu tidak menyukaiku, entah apa alasannya. Suruh saja dia kembali, aku tidak mau pekerjaan di pantai jadi terhambat karena ini, aku akan pulang kalau dia sudah pergi.” Cahyo memeriksa kembali laptopnya, dia akan menunda dan mengobati lukanya lebih dulu, mungkin beristirahat di rumah lebih nyaman sebelum bertemu dengan Yuni di apartemen.
“Apa?! Aku yakin Ratih tahu lebih dulu dari pada aku dan kamu masih bertanya kenapa?” Hendra menggeleng tak percaya dengan ucapan Surya. Dia tahu kalau Surya dan Cahyo itu berteman, tak mungkin Surya tidak tahu mengenai penganiayaan ini, gila, kan?
Surya menghela napas lagi, “Bagaimana pun juga, Cahyo itu bos kita, pulanglah, banyak hal yang harus kamu kerjakan, kan? Yuni tinggal bersama mertuanya, ada orang yang lebih tahu harus melakukan apa selain kita, jadi jangan gegabah.”
__ADS_1
“Apa aku dipecat hari sini juga?” Hendra pun sudah siap jika harus pergi.
“Sayangnya tidak. Cahyo lebih takut kehilangan proyek besar di pantai dari pada pukulanmu tadi. Pulanglah.” Surya tahu seperti apa perasaan Hendra, tapi tak ada jalan untuk membela hubungan yang salah itu.
Cahyo terkekeh setelah menerima telepon dari Surya yang mengatakan kalau Hendra sudah pergi. Dia pun segera mengemasi barangnya dan pulang. Banyak karyawan yang memperhatikannya, Cahyo tetap melenggang tanpa gugup, anggap saja dia menjadi artis sekarang, dan pusat perhatian sebuah keharusan, kan?
Cahyo segera memacu mobil menuju rumah, ini masih terlalu siang, dan menemukan mobil Yuni di sana, semesta memang selalu memihak orang baik seperti dirinya. Cahyo segera turun, dia masuk, melempar senyum padahal mamanya menatapnya tajam. “Aku pulang, Ma, Yun. Kamu... ada di sini ternyata.” Basa basinya terdengar begitu indah.
“Mas, wajahmu?” Yuni tidak menyangka Hendra benar-benar melakukannya.
“Kamu jatuh di mana? Apa kenapa azab karena memecuti Yuni?” Mama Cahyo menebak asal. Dia masih marah jika mengingat hal itu, apa lagi lengan Yuni masih terdapat ruam, pasti rasanya juga masih sakit.
Cahyo tersenyum, “Iya, Ma. Aku kena azab, Hendra datang dan memukuliku.” Memasang wajah memelas agar Yuni cepat kembali ke rumah ini.
__ADS_1
“Hendra?!” Yuni menggeleng, ternyata memang benar, Yuni pun segera berdiri, ingin melihat luka itu lebih dekat lagi.
Mama Cahyo tak percaya begitu saja, “Tunggu, Yun!”