
Yuni melambaikan tangan ke Hendra, dia baru saja diantar pulang dengan motor yang dudukannya lumayan tinggi itu, dan saat akan masuk, betapa kagetnya melihat Cahyo di depannya. “Mas... sudah pulang?” Yuni tersenyum dengan kaku, yakin kalau Cahyo akan menghukumnya, apa lagi dia sempat melambaikan tangan ke Hendra juga tadi.
“Ya, lumayan. Ke luar ke mana sama Hendra?” Cahyo mendekati Yuni, merapikan rambut Yuni, dan mengecup kening juga. Dia tak suka melihat Yuni pergi dengan Hendra, tapi di saat seperti ini, dia akan kehilangan Yuni kalau mengasarinya. Dia sedang tak ingin berdebat untuk menyelamatkan semua.
“Aku ke panti, Mas. Mama juga pernah ke sana, bisanya ajudan kita yang mengirim sumbangan, tapi karena tadi Hendra juga membicarakan anak-anak aku jadi ingin ke sana.” Yuni heran melihat Cahyo tak langsung memukulinya.
Cahyo mengangguk, “Kapan-kapan kalau ingin ke sana, ajak aku saja, ya? Jangan sama Hendra. Aku tidak suka.”
Yuni mengangguk juga, “Tapi Mas tadi di pantai, sedang sibuk, aku tidak ingin membuat Mas repot.”
Cahyo malah terkekeh, “Setelah ini tidak ada yang repot, Yun. Aku pasti ada waktu. Asal jangan pas rapat, okey? Kamu ngerti, kan?” Melihat Yuni mengangguk, Cahyo pun merangkul Yuni, “Kamu mandi dulu, aku pengen ngajak kamu makan malam di luar.”
“Iya, Mas.” Setelah Cahyo menjauh, Yuni segera menghela napas, “Mas Cahyo sangat aneh.” Tak ingin terlalu berpikir keras, dia segera ke kamar meletakkan tasnya, dan akan membersihkan diri. Yuni sedang berdiri di ruang ganti saat Cahyo masuk, dia tersenyum dan langsung menunduk, malu juga melihat Cahyo.
“Kamu belum siap?” Cahyo mendekat, menyisikan handuk yang menggulung rambut Yuni, dan mengecup pundak itu.
Yuni menggeleng, “Apa makan malam ini sama klien Mas juga? Aku agak bingung memilih baju.”
“Tidak, hanya ada kita berdua. Aku ingin lebih sering bersamamu.” Cahyo menarik dagu Yuni, memagut bibir itu, *******, dia begitu panas saat bersama Yuni. Seleranya berubah, Yuni begitu menggoda, dan dia suka. Sepertinya dulu tak seperti ini.
__ADS_1
Yuni hanya mengikuti apa pun yang Cahyo mau. Dia juga suka, dia cinta, dia tak ingin kehilangan, dan pernikahan yang seperti inilah yang benar. Yuni sudah menginginkannya sejak lama dan saat semuanya datang, Yuni tak ingin membuang kesempatan. Saat Cahyo membuang handuk itu entah ke mana, menarik kakinya agar membelit tubuh Cahyo, “Aahhh ....” Yuni hanya bisa mendesah kala miliknya dikocok begitu saja oleh Cahyo.
Cahyo tersenyum, melihat Yuni memejamkan mata sambil menengadah, kenapa indah sekali? Dia tak butuh waktu lama, tak membiarkan Yuni menyiapkan diri karena dirinya malah mengeluarkan juga miliknya dan memasukkannya ke milik Yuni. Berdiri dan saling membelit, Cahyo memuaskan apa yang begitu membumbung dalam dirinya, Cahyo sangat berselera.
Desah demi desah yang bersahutan dari kamar ganti, entah berapa menit hingga ke duanya merengkuh asa bersama, Cahyo tersenyum dan memberi kecupan di kening Yuni. “Maaf, aku membuatmu berkeringat lagi, Yun.” Cahyo mengusap keringat di kening Yuni.
“Aku... aku... akan mandi lagi, Mas.” Yuni masih lemas, jangan banyak tanya, Cahyo.
Malah terkekeh, Cahyo melepas miliknya, “Bersihkan itu, Yun. Kutunggu di kamar mandi.” Mengecup kening Yuni lagi dan berlalu.
***
Pagi ini, Cahyo bangun lebih dulu, semalam setelah makan malam dia masih membuat Yuni tak berdaya, dan pagi ini sengaja tak membangunkan Yuni. Tahu kalau istrinya itu pasti lelah. Apa? Istri? Cahyo terkekeh, bahkan dia sudah bisa menyebut wanita di ranjang yang masih tidur itu dengan kata istri, tak seperti dulu saat dia masih terlalu membenci.
“Selamat pagi, Pa, Ma.” Cahyo melempar senyum, duduk, dan segera mengambil sarapan.
“Ke mana Yuni?” tanya papa Cahyo.
__ADS_1
“Masih tidur, kecapekan, kan Papa yang nyuruh Yuni ke kantor. Pekerjaan di kantor itu sangat berat.” Cahyo melahap nasi goreng sambil tersenyum ke mamanya.
Mencebikkan bibir, “Mama harap kamu tahu apa yang terbaik, Cahyo. Mama dan Papa sudah banyak kecewa denganmu.”
Cahyo mengangguk, “Aku bisa mengaturnya, Ma. Jangan kawatir.”
“Pastikan kalau itu memang anakmu, bukan mama tidak percaya, tapi semua yang ada di dunia ini, mengandung misteri, Cahyo. Mama tidak mau kecewa lagi.” Mama Cahyo tak mau menceritakan apa yang pernah dia lihat. Tanpa bukti semua tak berarti apa pun.
Cahyo mengangguk lagi, “Aku berangkat dulu, Pa, Ma. Ada rapat pagi ini.” Menghabiskan minumannya dan pergi.
Papa Cahyo menoleh ke istrinya, “Apa maksud ucapanmu tadi? Nana tidak mengandung anak Cahyo?”
Mama Cahyo mengangguk.
“Kenapa kamu diam saja?!” bentak papa Cahyo.
“Lalu? Aku bisa apa, Pa? Kita tidak punya bukti. Cahyo dan kamu itu sama, hanya insting tak akan berarti apa pun, dan aku tidak tahu harus mencari bukti itu ke mana.” Mama Cahyo tidak mau disalahkan.
__ADS_1
Papa Cahyo mengangguk, “Apa membunuh orang di negara ini pasti dipenjara?”