Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Dua kemungkinan


__ADS_3

Di sinilah Cahyo sekarang. Duduk seperti seorang pasien meski perasaannya sedikit berbeda. “Kau yang memeriksaku, kan? Apa ada yang salah?” Di depannya saat ini adalah dokter yang memeriksa tentang kesehatan tubuh dan juga kehamilan Nana selama ini.


Dokter itu melepas kacamatanya, “Aku masih menyimpan datamu, Cahyo. Semua bisa saja terjadi, kan? Bukan kita yang punya keajaiban, tapi Tuhan yang punya semesta ini.”


Cahyo membuang muka, “Aku mau memeriksakan diri lagi. Kalau Nana hamil dengan Anton, aku harus tahu Yuni hamil dengan siapa, rasanya semua ini membuatku gila.” Berdiri untuk melepas pakaiannya dan berbaring di ranjang.


Dokter yang sudah kenal baik dengan Cahyo itu, mengode suster agar memberi gel ke perut Cahyo, USG hanya pemeriksaan awal, tapi semua hormon bisa terlihat di sana. “Semua sama, begadang dan banyak minum membuat milikmu lemah, apa aku harus mengambilnya untuk penelitian lebih lanjut?” Mengusap gel itu dan memperbesar hasil USG-nya.


“Aku benci saat itu, tapi ambil saja, aku tidak tahu mana yang benar dan salah.” Cahyo pun duduk, menunggu suster membawa alat khusus untuk mengeluarkan benih itu dengan paksa dari tubuhnya, “Lalu, Nana minum vitamin dan hamil, bagaimana jika Yuni juga melakukan hal yang sama?”


Dokter itu menggeleng, “Kita pernah membahasnya dulu, apa kau sudah menyuruh Yuni beli vitamin itu?”


Cahyo menggeleng dengan menyesal, bahkan resep vitamin itu masih tersimpan rapi di mobil, dan Yuni sudah hamil. Suster mendekat, memasukkan miliknya ke dalam alat khusus, hingga semua proses selesai, Cahyo pun mengusapnya dengan situ dan merapikan pakaiannya lagi. “Bagaimana jika itu anakku?” Ucapnya memang pelan, tapi dia yakin dokter itu pun mendengar.


Tersenyum, “Ada dua kemungkinan, pertama makananmu saat itu sangat baik dan badanmu tidak dalam keadaan lelah, sedangkan yang ke dua Yuni yang sudah siap secara hormon dan raga, dia kuat dan tingkat basa di dalam sangat bagus, semua bisa terjawab kalau Yuni ke sini juga.”


Cahyo menggeleng, “Dia sudah pergi dan aku tidak tahu apa masih punya kesempatan bertemu lagi.” Menoleh, Cahyo mengingat suatu hal, “Kalau Nana datang ke sini, periksa saja, kalau Yuni bisa hamil dengan dua kemungkinan itu, Nana berarti juga bisa, kan?”


Dokter itu mengangguk, “Kamu tahu itu sangat sulit, kan? Tapi begitu anak itu lahir, aku akan segera memberi tahumu mana yang benar, oke?”

__ADS_1


Cahyo mengangguk lalu berdiri, “Apa puan yang kamu temukan, segera kabari aku.” Berbalik dan pergi. Seolah di dunia ini tak ada yang bisa dipercaya selain dokter itu, bahkan Surya pun tidak, Ratih pasti ikut campur setelah pernikahan.


Yuni... menyeka air mata setelah Mr mengurai pelukan, “Aku tidak ingin Ratih tahu aku menangis, Mr.”


“Apa tuan Cahyo menyakiti Anda?” Memberikan tisu ke Yuni untuk membersihkan apa yang kurang pantas dan Mr merangkul Yuni ke luar setelah cukup tenang.


Yuni menggeleng, “Tidak, Mr. Aku mau ketemu Ratih, siapa tahu dia tidak menahan kepergianku.” Melihat Mr mengangguk, Yuni pun segera mendekati Ratih yang ternyata sedang bercanda dengan Hendra.


“Itu Yuni, dari mana sih? Lama kita nungguin kamu.” Ratih berganti merangkul Yuni agar menjauh dari Mr. Entah kenapa Ratih tak suka dengan kedekatan itu.


Yuni terkekeh, “Aku kan tidak bisa jalan cepat, Rat.” Menoleh ke Hendra dan melemparkan senyumnya.


Yuni membuka mulutnya takjub, “Hai, Yuni.” Mengulurkan tangan untuk menyambut wanita bernama Dyah, “Kamu harus lebih bersabar menghadapi Hendra, ya? Dia sangat keras kepala.”


Semua orang tertawa kecuali Hendra, “Aku ini pria yang baik.” Agak kesal dengan kalimat Yuni tadi, dia ingin membuang muka, tapi malah melihat Mr, dan dari sana pula dia tahu kalau Yuni bersama Mr sekarang. Entah kenapa dengan Cahyo, sepertinya memang ada hal yang sengaja disimpan oleh Yuni.


Dyah yang dari tadi tangannya digandeng oleh Hendra, mengusap lengan kekasihnya, “Dia memang seperti itu, tapi aku punya stok sabar segunung di rumah, jadi jangan kawatir.” Semua pun tertawa semakin keras.


Yuni menoleh ke Ratih setelah tawanya usai, “Aku pulang dulu, ya? Kamu tahu, kan? Aku harus banyak istirahat.”

__ADS_1


Ratih pun memeluk Yuni, “Berjanjilah untuk menjaganya dengan baik dan jangan pergi lagi. Aku akan mengutukmu kalau tidak menghubungiku.”


Yuni terkekeh, “Aku pulang dulu, ya? Hendra, jaga Dyah. Dy, aku pulang, ya? Aku sudah dari tadi, jadi nikmati pestanya, dadah!” Yuni menoleh ke Mr, membiarkan pria itu berpamit juga, baru setelahnya pulang bersama dengan bergandeng tangan.


Dyah mengusap lagi lengan Hendra, “Dia cantik dan baik, pantas saja kamu tidak bisa melupakannya, Hen.” Sandiwaranya cukup meyakinkan, dia hanya teman curhat Hendra, meski hanya menyimpan perasaannya sendiri, Dyah suka hanya seperti ini saja dengan Hendra.


Hendra tertawa, “Kita makan, yuk!” Itu lebih baik dari pada membahas Yuni dengan Dyah.


Mr sesekali menoleh ke Yuni, dia senang mengemudi sendiri dari pada dengan sopir saat bersama Yuni, menurutnya ini lebih indah dan membuat Yuni nyaman. “Apa Anda ingin mampir terlebih dahulu? Oiya, malam ini vila mati lampu, ada perbaikan mendadak, jadi kita akan menginap di apartemen untuk beberapa hari.” Mr tersenyum saat Yuni menatapnya.


“Beberapa hari? Biasanya mati lampu hanya lima atau enam jam, kan?” Yuni rasa Mr terlalu mengada-ada.


Terkekeh dengan keras, “Ya, ada yang harus dibangun di belakang, jadi semua listrik sengaja diputus agar aman, setelah kondusif kita bisa kembali dan perbaikan juga bisa dilanjutkan.” Memang itu yang terjadi dan Mr tak menutupi apa pun ke Yuni.


Yuni mengangguk, “Aku baru tahu kalau ada perbaikan di vila, mungkin karena aku jarang ke luar kamar, tamu seperti apa aku ini?” Merapikan rambutnya sambil tersipu menyembunyikan wajah.


Mr tertawa, “Wanita hamil harus banyak istirahat, Nona Yuni. Jangan terlalu banyak dipikirkan.” Belok kiri ke apartemen dan menurunkan Yuni di lobi, “Kamar seratus dua sandinya tanggal lahirmu. Maaf aku harus ke suatu tempat lebih dulu, kalau Anda ikut akan kelelahan nanti, apa tidak masalah, Nona Yuni?”


Yuni mengangguk, “Tentu saja tidak. Aku masuk dulu, Mr.” Yuni tersenyum saat menuju ke lift, apartemen Mr dengan sandi tanggal lahirnya, Yuni tahu semua sangat berarti, dan apakah tebakannya termasuk normal?

__ADS_1


__ADS_2