
Hari berganti. Yuni bangun dengan tubuh yang tertegun mengejut dan nyatanya Cahyo memang ada di sebelahnya.
Cahyo pun ikut bangun, gerakan itu terlalu tiba-tiba, “Ada apa, Yun?” Sambil mengucek mata, Cahyo menyadarkan diri, tubuhnya sangat lelah dan masih mengantuk, dia pulang pagi tadi.
Yuni tersenyum, “Tidak, Mas. Aku... aku sudah janji mau bikin sarapan sama mama. Kupikir sudah telat tadi bangunnya, ternyata masih jam lima, aku turun dulu, ya?” Yuni berbohong, dia tak ingin Cahyo membaca isi hatinya, “Hm... Mas, semalam ke mana? Aku mengirimimu pesan—“
“Ponselku mati. Terjatuh jadi layarnya retak. Aku harus segera membeli yang baru.” Cahyo mengatakan yang sebenarnya kali ini. Setelah semalam bergulat dengan Nana, Cahyo ingin melihat pesan dari Yuni, tapi ponselnya mati begitu saja dan tak bisa dinyalakan.
Yuni mengangguk, “Aku turun dulu, Mas.” Yuni segera mengikat rambutnya dan ke kamar mandi sebelum turun ke dapur. Dia tersenyum melihat mamanya, “Ma, masak apa?”
Mama Cahyo tersenyum juga, “Tumis tahu dan udang, kamu nanti jadi ke luar?”
Yuni mengangguk, memang dia sudah bilang ke mamanya kalau dia akan ujian SIM hari ini, “Mama, ikut?”
Mama Cahyo menggeleng, “Tidak, Sayang. Papamu sedang banyak proyek, entahlah, mama sangat suka pekerjaan papamu yang sekarang. Aku punya teman juga di sana dan dia sangat menyenangkan.”
“Karena itu Mama selalu ikut papa?” Yuni saja merasa bosan saat Cahyo mengajaknya ke lapangan untuk mengecek pekerjaan.
“Iya, Sayang. Kapan-kapan kamu mama ajak ke sana juga, ya? Sangat seru saat bicara dengannya, percayalah!” Mama Cahyo bercerita sambil terus memasak.
Yuni hanya tertawa, dia selalu bersyukur saat mertuanya seterbuka ini dengannya, dan percakapan ini pun berlangsung lama tanpa Yuni sadari Cahyo sudah turun dengan pakaian kantor. “Mas, aku lupa ....” Yuni meringis. Dia yakin Cahyo mencari pakaian kantornya sendiri tadi.
Cahyo terkekeh, “Kamu kalo sama Mama pasti melupakanku, Yun.” Duduk di ruang makan dan segera mengupas alpukat.
Mama Cahyo mencebikkan bibirnya, “Lagian kamu kan selalu mandiri, ada Yuni atau tidak bukan masalah besar, iya, kan, Yun?” Terkekeh, dia adalah orang pertama yang ada di belakang Yuni untuk mendukung.
Cahyo tertawa sambil menggeleng, intimidasi itu tak akan pernah berhasil, Cahyo lebih tahu mana yang terbaik.
Yuni segera menata makanan di meja, mengambilkan sarapan untuk Cahyo, dan duduk di sebelahnya untuk menemani. “Papa belum bangun, Ma?” tanyanya saat mertuanya ikut bergabung juga untuk sarapan.
“Katanya minta dibangunkan jam tujuh tadi. Kamu makan juga, Yun.” Mama Cahyo menggapai piring Yuni dan membaliknya agar Yuni ikut bergabung.
__ADS_1
Yuni hanya tersenyum sambil mengambil sarapan. Setelah mengatar Cahyo ke tempat parkir, Yuni segera bersiap, dia ingin segera ujian agar gugupnya hilang.
Sedangkan Cahyo yang baru sampai kantor, terkekeh saat Surya menjemputnya di lobi, “Kenapa?”
“Ponselmu ke mana?” Surya ikut berjalan beriringan dengan Cahyo.
“Rusak, dibanting Nana kemarin, ada rapat mendadak? Aku semalam tidak sempat mengecek email.” Cahyo terus berjalan menuju ke ruangannya setelah ke luar dari lift.
Surya menggeleng, “Mr tiba-tiba mengirim email, katanya dia mau perubahan di pantai, apa kita bertanya ke Hendra? Tidak mungkin dia tidak tahu, ada Anton, kan? Mereka pasti mengobrol.”
Cahyo mengangguk, “Suruh saja Hendra ke sini sekarang. Telepon saja, kita cepat menangani semua urusan dengan Mr.”
Surya mengangguk, dia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Hendra, “Kamu sudah bangun? Bisa ke sini sekarang?” tanyanya setelah Hendra mengangkat telepon.
“Aku tidak bisa kalau hari ini, Pak Surya. Anton mengajakku membahas tentang tangga yang katanya lebih bagus penempatannya, kalau aku ke sana sekarang, dia akan kecewa karena kemarin kami gagal membahasnya.” jawab Hendra.
"Ada apa?" Cahyo ikut penasaran. Nada bicara itu mengandung permasalahan. Semoga saja hanya tebakan salah saja.
Hendra menarik napas panjang dan dalam, “Tidak, Pak Surya. Hanya saja tangga yang sejajar akan terlihat jelek, aku masih membahasnya separuh dan Anton akan memberikan jawabannya nanti. Setelah itu baru aku akan menceritakannya ke pada Anda dan tuan Cahyo.”
“Oke. Kabari secepatnya.” Surya segera memutus sambungan telepon itu. Melihat wajah Cahyo yang penuh tanda tangan, Surya pun menghela napas, “Anton dan Hendra akan rapat nanti siang, Mr belum mengabari apa pun, lebih baik cepat beli ponsel baru dan tanyakan ke Mr.”
Cahyo mengangguk, “Apa ada rapat dan dokumen yang harus kutanda tangani? Kalau iya, cepat bawa ke sini, setelah itu aku beli ponsel dan menelepon Mr.”
Surya mengangguk dan ke luar dari ruang kerja Cahyo, dia akan mengambil dokumen dan melihat jadwal rapat di jurnalnya.
Yuni... “Yeeee!!” Yuni melompat-lompat di depan Ratih, dia memamerkan SIM dengan foto dirinya, “Apa aku harus mentraktirmu?” Memainkan mata centilnya ke Ratih.
“Sorry, apa aku terlambat?” Hendra berjalan cepat ke arah Yuni dan Ratih yang duduk di depan ruang foto.
__ADS_1
“Hen? Kamu ke sini?” Yuni awalnya kaget, tapi dia memamerkan juga SIM barunya ke Hendra.
“Pokoknya kita harus merayakan ini. Kemarin kan kita nontonnya gak seru, hari ini kita nonton lagi, terus makan, terus habis itu antarin aku pulang sampai rumah.” Ratih berkacak pinggang, dia yang menyetir saat berangkat tadi, dan dia ingin merasakan disopiri oleh Yuni saat pulang nanti.
“Siap, Bos!” Yuni mengambil hormat untuk Ratih dan ketiganya pun tertawa bersama.
“Kamu sama Ratih saja, kita parkir sebelahan, ya? Nanti pulangnya aku langsung ke pantai.” Hendra bersikap seolah tak pernah terjadi apa pun antara dirinya dan Yuni, padahal dia kemarin sangat bersedih hati setelah ditolak lagi oleh Yuni, tapi demi bisa bersama terus seperti ini, kenapa tidak?
Yuni mengangguk, “Tapi kamu sudah tidak sibuk, kan?”
Hendra menggeleng, “Tidak. Hari ini Anton ke luar kota. Jadi aku bisa pergi juga. Bukankah pilihan bekerja di pantai sangat cerdas?”
Ratih menggeleng, “Kalau aku bosmu, aku akan memecatmu sekarang juga.”
Yuni dan Hendra tertawa, “Sudah-sudah. Yuk berangkat!” Yuni pun menggandeng tangan Ratih dan ketiganya segera ke mall. Menonton film dengan tema komedi dan segera beralih ke penjual makanan setelah film itu selesai.
Hendra tertawa, Yuni dan Ratih masih membahas kelucuan di film tadi, “Apa yang membuat kalian suka nonton di bioskop? Kalian di dalam lebih banyak ngobrolnya tadi.”
Ratih tertawa, “Itulah kami! Hahahaha.” Baru saja ingin bicara lagi, ponselnya berdering dan itu telepon dari Surya, “Iya, Sayang?”
Yuni langsung mengajak Hendra diam, dia menikmati makanannya sepelan mungkin agar tak membuat keributan saat Ratih bertelepon ria.
“Oke, aku ke sana, ya? Oke. Dadah!” Ratih meringis ke Yuni dan Hendra, “Kayaknya aku harus duluan deh. Gaunku sudah jadi, kalian tahu, kan? Aku menikah bulan depan. Gak apa-apa ya kalau aku balik duluan?”
Yuni mengangguk, “Iyaaaa... sukses, ya? Nanti soal bunga, awas gak ambil di aku.” Mengacungkan tinju kecilnya ke Ratih.
“Tentu, Sayanggggg... aku balik dulu.” Ratih berdiri untuk memeluk Yuni dan melambaikan tangan ke Hendra.
Hendra hanya berdua dengan Yuni di meja ini, “Kamu mau pulang? Nanti kuantar, makanannya kita bungkus saja.” Dia tak enak, tahu kalau Yuni selalu tak nyaman jika hanya makan berdua bersamanya, meski harus berbohong ke Surya agar tak ke kantor, makan bersama yang gagal ini tak masalah. Toh! Dia sudah melihat Yuni lulus ujian SIM tadi.
__ADS_1
Yuni tersenyum, “Gak usah. Kita makan dulu sampai habis, baru setelah itu pulang, kamu kan guruku. Ayo!” Yuni segera melahap makanannya.