
Senja cepat datang. Yuni tersenyum menyambut kepulangan Cahyo, “Bagaimana tadi di kantor, Mas?” Mengambil tas kerja Cahyo dan berjalan beriringan dengan suaminya ke kamar.
“Ya... masih seperti biasanya. Papa belum pulang? Mama?” Cahyo bahkan merangkul Yuni.
“Mama ikut papa, Mas. Hm... boleh gak, kita makan malam di luar?” Yuni tersenyum semanis mungkin.
Cahyo malah terkekeh, “Boleh. Aku mandi dulu, ya? Kamu siap-siap, habis ini kita berangkat.” Cahyo mengecup kening Yuni dan berlalu ke kamar mandi.
Yuni segera mencari gaun yang indah dan saat Cahyo ke luar dari kamar mandi, dia sudah hampir menyelesaikan riasannya. “Kita makannya di mall ya, Mas? Jangan di restoran.” Agak berteriak karena kawatir Cahyo tak mendengarnya.
“Ya!” Cahyo segera menarik resleting celana dan ke luar, berdiri di belakang Yuni sambil menyisir rambutnya, “Kenapa? Makanan di mall tidak ada yang sehat, Yun.”
Yuni berbalik, dia merapikan kemeja yang dikenakan Cahyo sambil tersenyum, “Aku janjian sama Ratih, Mas. Surya juga ada di sana, kita mau double date, jadi jangan bahas pekerjaan nanti di sana.”
Cahyo menghela napas, “Yun, aku sudah tua, gak pantes gitu-giuan.”
“Kata siapa? Mas, ini masih muda. Ayo!” Yuni yakin Cahyo sudah siap, dia segera menarik Cahyo, tak ingin terlambat nonton film di bioskop atau Ratih akan marah padanya. “Hey!” Agak berlari setelah melihat Ratih dan memeluk, “Maaf telat dikit.”
Ratih memutar bola matanya malas, “Tahu gitu gua tinggal lu!” Dia sudah dongkol karena film hampir saja dimulai.
Yuni malah meringis, “Mana tiketku?” Mengambilnya dan menggandeng tangan Cahyo, “Ayo, Mas!” Menyeret pria yang sedari tadi diam.
“Habis ini kita makan apa?” tanya Ratih yang mendekat ke Yuni, film sudah diputar, dan itu waktu yang tepat untuk bergosip pelan. Surya di sebelah kiri dan Yuni di kanannya bersebelahan dengan Cahyo.
“Kita cari sate saja, terus jadi belanja, kan? Aku mau beli kemeja, aku ada acara besok.” Yuni menjawab tanpa menoleh ke Ratih. Baru saja mendengar jawaban Ratih, Cahyo malah menarik tangannya, "Apa, Mas?” Yuni bingung karena Cahyo menariknya keras.
“Ini bioskop, jangan bicara sendiri, ini kan fasilitas umum, gak sopan.” Cahyo berbisik agar ucapannya tidak didengar Ratih. Tak enak ke Surya.
Yuni terkekeh, dia menjatuhkan kepala ke pundak Cahyo, ucapan itu benar, dia tak akan bergosip lagi. Hingga film yang diputar selesai dan lampu dinyalakan, barulah Yuni tersenyum ke Cahyo, “Mas, gak capek, kan?”
Cahyo menggeleng. Ini cukup menyenangkan baginya.
Surya malah tertawa, Yuni memang lucu, terlihat bagaimana perbedaan umur yang sangat mencolok, tapi melihat keduanya berkencan, Surya ikut bahagia.
“Ayo!” Ratih menarik Surya agar berjalan lebih cepat, “Aku sama Yuni belanja bentar, setelah ini baru cari makan, ya, Sayang?" Mencium pipi kanan Surya dan masuk butik.
Yuni jadi malu, dia menoleh ke Cahyo sambil menunjuk Ratih, seolah mengisyaratkan kalau dia akan melakukan hal yang sama.
Cahyo mengangguk, menarik tangan Yuni agar lebih dekat dan mengecup pipi Yuni, “Aku di sini sama Surya.” Melambaikan tangan ke Yuni lalu mengajak Surya duduk di bangku tak jauh dari Ratih belanja.
Surya tertawa lagi, “Gitu dong!”
Cahyo malah terkekeh, “Tadi pulang kerja Yuni ngajak ke sini, gak bilang kalau sama Ratih, kita malah dijadiin satpam.” Tertawa, dia merasa di umurnya, apa yang dilakukan sangat konyol.
“Ya, aku sudah sering jadi sopir Ratih dan rasanya memang menyenangkan. Apa kamu tetap akan menikah dengan Nana?” Surya memang mengenal Cahyo dengan baik dan pengaruh Yuni begitu besar akhir-akhir ini.
__ADS_1
Cahyo mengangguk, “Dia mengandung anakku, Sur. Aku tidak mungkin membiarkan anakku besar tanpa aku.”
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu?” Surya yakin kalau Cahyo sudah jatuh cinta ke Yuni.
Cahyo menggeleng, “Aku tidak tahu.”
Yuni... mengambil satu kemeja dan ditempelkan ke tubuhnya sendiri, “Bagaimana dengan ini, Rat?”
Segera menoleh, “Ini sangat formal, kamu mau melamar kerja, Yun?” Ratih tertawa, dia mengambil gaun dengan potongan dada terbuka, dan menempelkan ke tubuh Yuni, “Ini lebih cocok untuk merayu Cahyo.” Tertawa terbahak-bahak.
“Dasar!” Yuni menyahutnya dari tangan Ratih dan mengembalikannya ke gantungan, “Aku mau ngurus SIM besok, kamu ikut, ya?”
“SIM? Sejak kapan kamu bisa nyetir? Hebattttt ....” Ratih bertepuk tangan. Kejutan dari Yuni sangat menggemparkan.
“Jangan cerita ke siapa pun, aku diajari Hendra, dan sudah siap ujian SIM besok.” Yuni bersedekap dada. Bolehlah sombong dikit.
Ratih membuka mulutnya lebar. “Kamu bisa membunuh Hendra kalau Cahyo sampai tahu.” Ratih menggeleng dengan kenekatan Yuni.
Yuni tersenyum, “Kamu kan tahu, gosip di luar rame soal Nana hamil dengan mas Cahyo, aku harus bisa nyetir kalo mau cari bukti, Rat. Mas Cahyo cuma iya-iya saja pas aku bilang pengen bisa nyetir dan hanya Hendra jalannya. Janji, ya? Jangan bilang siapa pun.” Yuni tahu Ratih selalu menceritakan apa pun ke Surya dan kali ini dia berharap Ratih tak cerita soal ini.
Ratih mengangguk lalu memeluk Yuni, “Pasti! Asal besok aku yang ngantar kamu ujian SIM, deal?” Ratih mengurai pelukan dan mengacungkan jari kelingkingnya.
Ratih mengangguk, “Cepet bayar, habis ini kita makan, aku laper banget.”
“Oke!” Yuni pun berjalan cepat ke kasir dan segera mengajak Ratih ke luar.
Cahyo dan Surya menoleh bersamaan kala mendengar dua wanita bercanda semakin dekat, melihat ternyata memang Yuni dan Ratih, Cahyo pun berdiri, “Apa sudah selesai? Kita cari makan sekarang?”
Yuni dan Ratih mengangguk bersamaan, memesan makanan yang menurut mereka enak, dan memilik tempat duduk di tengah, sengaja ingin berbaur dengan banyak orang meski tak ada yang mereka kenal.
“Oiya, aku besok mau ke salon sama Yuni, boleh, kan?” Ratih tersenyum ke Cahyo.
“Ya, ajak dia ke mana pun, aku suka kalau Yuni sering ke luar, di toko akan membuatnya bosan.” Cahyo menoleh ke Yuni.
Hanya terkekeh, “Kalo di toko sama kamu ya gak bakalan bosan. Iya, kan, Yun?” Surya ikut menyumbang suara.
Yuni tersipu malu, “Sudah cepat makan, cacingnya keburu protes nanti.” Yuni tak ingin diledek terus terusan. Setelah makan tak ada yang dilakukan, Yuni pun mengajak Cahyo pulang, dia tak ingin kelelahan untuk hari esok.
Sesampainya di rumah, Cahyo menarik tangan Yuni yang akan masuk kamar, “Kamu tidur dulu, ya? Aku mau ke ruang kerja, lampunya masih nyala, kayaknya papa di dalam.”
Yuni mengangguk, “Mas, nanti tidurnya jangan malam-malam, ya?”
Cahyo mengangguk, mengecup kening Yuni dan pergi ke ruang kerja, dan benar tebakannya kalau papanya memang di sana. “Pa, akhir-akhir ini sering banget ke luar.” Cahyo duduk di seberang papanya.
__ADS_1
Papa Cahyo terkekeh, “Kamu gak pengen lihat lapangan golf papa? Ke sanalah kapan-kapan, bukannya kamu juga suka golf? Ajak Yuni juga.” Meraih ponsel dan mengirimkan sebuah alamat ke Cahyo.
Mendengar ponselnya berbunyi, Cahyo membukanya, tak hanya pesan dari papanya, banyak juga pesan dan panggilan tak terjawab di sana, dan semua dari Nana. Cahyo meringis, “Aku akan ke sana besok.”
“Ajak Yuni juga. Kamu lihat mama, kan? Papa suka mengajak mamamu ke mana-mana. Papa pun ingin seluruh dunia tahu kalau Yuni itu istrimu.” Papa Cahyo tersenyum, dia masih sibuk dengan laptopnya, apa yang dikerjakan hampir seratus persen, dan karena itulah jangan sampai lengah.
Cahyo mengangguk, “Jangan tidur malam-malam, Pa. Aku... ke kamar dulu.” Cahyo segera ke luar, dia melupakan sebuah janji, dan bukan pria sejati jika dia ingkar. Cahyo pun segera ke luar lagi sebelum sempat pamit ke Yuni. Dia yakin Yuni sudah tidur.
Yuni... baru saja membersihkan diri. Melihat pintu balkon yang terbuka, Yuni pun ke luar untuk menutupnya, tapi dia malah melihat mobil Cahyo yang melintas, “Ke mana kamu, Mas? Malam-malam begini?” Yuni pun ke luar, dia akan bertanya ke satpam karena Cahyo biasanya meninggalkan pesan kalau buru-buru, mungkin saja ada sesuatu yang genting.
“Mau ke mana, Yun?”
Yuni menoleh, melihat papanya yang ke luar dari ruang kerja, “Mas Cahyo ke mana, Pa?”
Papa Cahyo malah mengerutkan kening, “Kamu ini kok lucu, Yun? Cahyo tadi bilang mau cepet tidur, sekarang kamu yang nyariin dia, apa dia di dapur? Minuman kalian habis? Nanti biar pelayan dapur kutegur.” Terkekeh karena pasangan muda di depannya ini sangat lucu.
Yuni meringis, “Mungkin, Pa. Hm... aku ke dapur dulu. Papa jaga kesehatan, ya?”
“Ya, papa mau tidur dan kamu juga cepat tidur.” Menepuk lengan Yuni beberapa kali dan pergi ke kamarnya. Papa Cahyo sudah ngantuk sekali.
Yuni segera ke luar, dia yakin Cahyo tak ada di dapur, tapi baru saja ke luar dari pintu samping, dia bertemu dengan sopir pribadi Cahyo, “Pak, mas Cahyo tadi mau ke mana?”
“Oh! Ada urusan kayanya, Non. Mendadak ada telepon, jadi tuan Cahyo langsung pergi, nanti pulangnya agak telat gitu katanya.” Sopir itu menjawab dengan sopan.
Yuni pun mengangguk, dia yakin tak ada yang bisa ditunggu lagi, langsung kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Yuni ragu mau menelepon, tapi kalau tidak ditanya hatinya tak akan rela, Yuni pun hanya mengirim pesan singkat, dan naik ke ranjang. Menutup tubuh dengan selimut, berharap dengan begitu dia cepat mengantuk dan tidur, meski kenyataannya pikirannya tetap melayang-layang.
Cahyo... baru saja tiba. Dia segera turun dan naik ke lantai atas. Baru saja membuka pintu apartemen, Nana sudah melotot padanya, dan itu sukses membuat Cahyo tertawa. “Kamu seperti seorang istri sekarang, Na.” Duduk di sebelah Nana dan membuka tangan agar Nana memeluknya.
Nana malah membuang muka, “Apa artinya diriku bagimu? Setelah aku hamil bukannya kebahagiaan yang kudapatkan, tapi malah kamu yang memakan hatiku setiap waktu.”
Cahyo tertawa lagi, “Aku—“ Ponselnya berbunyi, dia ingin membaca itu pesan dari siapa, tapi Nana malah dengan lancang menyambarnya.
“Jangan bicara dengan orang lain saat bersamaku, Sayang. Aku akan cemburu.” Nana melempar ponsel Cahyo ke sofa lain yang kosong dan dia segera naik ke pangkuan Cahyo. Dia sudah menyiapkan semuanya, memakai baju tidur seksi, dan itu memudahkannya untuk melepas hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang tepat di pangkuan Cahyo.
Cahyo terkekeh, dia membiarkan Nana melepas kancing kemejanya satu persatu, hanya dengan seperti itu saja kenapa adiknya cepat bangun? Nana sangat pandai membangun situasi. Saat Nana menggoda dadanya dengan menjilat, Cahyo malah menyamankan diri, membiarkan Nana terus melakukan kewajibannya, hingga dirinya pun sama polosnya dengan Nana.
Tersenyum, “Aku tak akan membiarkan ini tegak begitu saja, Sayang.” Nana segera menjilat pangkal, mengitari apa yang tegak dari bawah hingga ujung, dan menghisap kepalanya.
“Uhhhhh... you so ****, Baby. I love your fu ck.” Cahyo tersenyum, melihat kepala yang naik turun di depannya, dan inilah yang harus diakui betapa sulitnya melepas Nana.
Nana mengulum, menghisap, menjilat hingga batang itu terlalu basah. Setelahnya dia meludahi batang itu dan baik ke kursi, “Fuc king you, Baby.” Nana membimbing milik Cahyo, mengarahkan padanya, dan membiarkan menegak di dalam kehangatannya, “Oughhhh... i love you, Baby.”
Cahyo terkekeh, melihat apa yang menegang dan tepat di depan mata, Cahyo memegangi pinggang Nana agar tak jatuh, sedangkan mulutnya sendiri sibuk mengulum ****** kemerahan Nana. Tak ada bedanya kanan atau pun kiri. Cahyo mengulumnya bergantian. Menyelaraskan dengan apa yang ter servis dengan sempurna di bawah sana.
__ADS_1