
Lega rasanya Yuni sudah tenang, meski dia kecewa dengan dirinya sendiri, kenapa tadi pergi lebih dulu tanpa mengajak Yuni, mungkin jika Ratih memperhitungkan itu, kejadian semacam ini tak akan terjadi.
Ratih mengambil kunci mobilnya, memencet tombol pengunci agar segera terbuka, dan berniat masuk. Namun, Ratih segera membanting pintu mobil, melihat ada mobil lain yang parkir di seberang jalan, dan dia pun mendekatinya. Segera memukul pintu mobil itu agar pemilik segera membukakannya, “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Cahyo terkekeh, “Apa rencanamu bocor? Aku mengetahui kebohongan kalian?” Terkekeh kembali sambil menggeleng.
“Hey, Tuan!” Ratih menunduk dan berpangku di kaca jendela yang sudah diturunkan, “Aku dan Yuni nonton bioskop dan makan, Hendra datang untuk bergabung, pria yang bernama Hendra itu lebih baik darimu, dia bisa memperlakukan wanita dengan baik, dan karena kamu mengetahui itu, kamu marah, menyiksa Yuni agar tak pergi darimu, kan?” Ganti dengan Ratih yang menggeleng, “Kalau aku yang jadi Yuni, nanti malam aku akan kabur dengan Hendra, memangnya kenapa kalau tidak bekerja lagi di perusahaanmu? Hendra lulusan terbaik, dia akan mendapat pekerjaan dengan mudah, apa aku salah tebak?” Terkekeh, Ratih segera berbalik dan masuk ke mobilnya, meninggalkan Cahyo yang masih mengawasinya dari mobil.
Cahyo memukul sandaran di depannya, “Berani sekali dia!”
Sopir Cahyo hanya mengangguk tanpa berani menjawab apa pun ucapan tuannya.
__ADS_1
Cahyo pun membuka pintu mobil dan siap mencerca Yuni. Dia yakin Yuni memang sudah merencanakan apa yang diucap Ratih tadi.
“Tuan!” Sopir turun dan menarik tangan Cahyo, “Tuan besar akan berangkat ke pengadilan sekarang juga kalau Tuan menemui nona Yuni.” Meski terkesan tidak sopan, itu lebih baik dari pada dia yang disalahkan jika hal tak diinginkan terjadi nanti, dan Cahyo bisa saja memecatnya.
“Aaaa!” Cahyo memukul udara dan masuk kembali, “Cepat jalan! Kita pulang saja.” Membuang muka ke sisi lain, dia tak ingin melihat toko bunga Yuni dari pada sakit hati, semakin dia marah, semakin tak tahan untuk segera bertemu dengan Yuni, dan memakinya.
Yuni... ke luar, melihat karyawan toko berkerumun di teras, ”Ada apa? Kenapa berdiri di sini?” Yuni ikut melongok, mungkin dia akan melihat juga yang membuat para karyawannya berkumpul seperti itu.
Yuni mencari di jalan, tapi tak menemukan apa pun, dan dia hanya mengangguk lalu kembali masuk, tapi hanya selangkah, dan mobil lain menarik perhatiannya. Yuni tersenyum menyambut siapa yang datang.
“Non, ini baju dan peralatan make up, nyonya kirim salah kalau tidak bisa datang, tapi nyonya akan sering ke sini. Ini kunci mobil Nona, saya akan pulang naik taksi, Nona bisa menggunakannya sekarang, dan ini surat dari nyonya.” Sopir itu mengulurkan sebuah amplop.
__ADS_1
Yuni menerimanya, “Terima kasih, Pak. Apa perlu saya antar saja?”
“Tidak usah, Nona. Saya juga harus membeli sesuatu. Saya permisi.” Sopir itu pun menunduk dan pergi.
Yuni menghela napas, dia masuk tanpa membawa apa pun, hanya ingin segera membaca surat dari mertuanya. Tak ada yang berarti, hanya alamat sebuah apartemen dan nomor pin, Yuni pun ke sana. Tersenyum memiliki mertua sebaik itu. Setelah menata semua pakaian, Yuni pun mandi, tubuh polosnya hanya berhanduk, dan Yuni malah membiarkan handuk itu jatuh ke lantai.
Kini semua terpampang dengan jelas. Lengan, paha, perut, semua membiru, dan Yuni malah tertawa. Tak berlangsung lama dan dia pun kemudian menangis. Terduduk perlahan, tetap di depan cermin memandangi tampilan diri, “Kenapa, Mas? Aku sangat mencintaimu. Aku berharap kamu berubah dan keinginan itu tak pernah terjadi sampai selama ini. Kenapa, Mas?” Yuni terus menangis, hingga tubuhnya lelah, kalau diingat tak ada makanan yang masuk sejak tadi.
Semua terlupa karena Cahyo, tapi kenapa hatinya tak bisa pergi? Semua orang menyalahkannya, mengatakan akan kelemahan diri, tapi semua orang tak tahu seperti apa cintanya ke Cahyo. Jahat sekali, kan?
Surya... datang ke pantai. Cahyo tidak di kantor, dia punya banyak waktu untuk memahami permasalahan ini. Saat dia melihat Hendra di penginapan, Surya segera turun, tak membalas sapaan Hendra, dia ingin semua selesai dengan cepat.
__ADS_1