Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Ada yang aneh


__ADS_3

Yuni pun mengingat sesuatu, kala itu...


“Apa yang membuat Anda sedih?” Mr memberikan selimut ke Yuni yang sedari tadi terdiam di balkon.


Yuni menggeleng, “Kapan kita kembali ke vila, Mr? Di sini hanya ada kita berdua, aku... bosan, kalau di vila aku bisa melihat burung yang mampir ke taman belakang.” Mengambil selimut itu dan memakainya. Udara di sini dingin, apa lagi saat malam begini, angin terlalu kencang hingga berhasil memainkan rambutnya. Yuni sudah tiga hampir seminggu di apartemen.


Mr tersenyum, “Entah, beberapa pekerja bahkan minta cuti, pekerjaan jadi terhambat, jadi kita belum bisa pulang ke vila. Aku ada perjalanan bisnis ke Singapura untuk beberapa bulan, ada banyak pekerjaan di sana, bagaimana jika Anda ikut? Di sini sangat berat, kan? Aku yakin Anda sedang memikirkan tuan Cahyo saat ini.”


Yuni mengangguk, memang benar ucapan Mr, “Mereka pasti bahagia sekarang, Nana lebih dulu hamil dari pada aku, dan... dan ....” Yuni menggigit bibir bawahnya sendiri. Enggan melanjutkan ucapannya.


Mr tersenyum, “Jangan membicarakannya lagi, Nona Yuni. Aku juga tak ingin mendengarnya. Biar saja pernikahan itu terjadi, memang ini yang diinginkan tuan Cahyo sejak lama, Nana Yuni jangan menghukum diri Anda sendiri.”


Yuni mengangguk, “Kenapa Anda tidak datang tadi? Bukankah gedungnya sama dengan gedung pernikahan Ratih?”


Mr menggeleng, “Tuan Cahyo pindah gedung, katanya Nana kurang enak badan, jadi pindah ke gedung yang lebih dekat dengan apartemen."


Yuni mengangguk, dia mengerti dan tahu seperti apa Cahyo saat perhatiannya ke luar, dan ucapan Mr tidak salah sama sekali. Nana hamil anak Cahyo dan pasti Cahyo lebih memperhatikan semuanya. Namun, kini...


Yuni tidak menyangka kalau semua ucapan itu hanya omong kosong, “Kenapa Mr menyembunyikannya dariku?”


Ratih memikirkan sesuatu, “Apa kamu tidak mengerti juga? Pria yang mau membantu wanita lain, hanya ada satu jawabannya, Mr menyukaimu, Yun. Jangan terlalu menutup mata.”


Yuni ingin melanjutkan argumennya, tapi ponselnya berdering, dan itu telepon dari Mr. “Ya, aku menginap di sini, aku sudah mengirim pesan tadi.” Yuni tersenyum, menyembunyikan apa pun dari Mr agar tak ada yang mencurigakan.


Mr terkekeh, “Aku ada urusan mendadak, mungkin untuk beberapa hari aku tidak bisa menemanimu, apa tidak masalah?” Mr tiba-tiba dapat pekerjaan dan dia tak ingin melewatkannya.


Yuni mengangguk, “Ya, aku di rumah Ratih, ya? Di sini ada temannya, kalau di vila aku akan bosan, aku juga mau ke mall dan salon, boleh?”


Mr tertawa sambil mengangguk, “Hati-hati di sana. Kututup dulu, ya? Aku mau berangkat malam ini juga biar cepat selesai.”


Yuni ikut mengangguk juga, “Kamu juga hati-hati. Dadah!” Meletakkan ponselnya di meja dan berbaring di ranjang. Dia tersenyum menyadari Ratih yang masih memperhatikannya, “Kita tidur, Rat. Aku... ngantuk.” Tak menyurutkan senyumnya, bahkan saat Ratih memutar bola matanya, Yuni pun tertawa sambil memeluk lengan Ratih.


***


Pagi ini, Yuni sarapan dengan Ratih, Surya hanya dibawakan bekal dan berangkat ke kantor. “Kamu nanti sibuk gak, Rat? Aku ingin ke suatu tempat.” Setelah Ratih mengangguk, Yuni pun menyelesaikan makannya dan bersiap, kemudian mengajak Ratih berangkat ke tempat yang begitu dia rindukan.


Cahyo... menghabiskan makannya dan mengambil tas kerja, “Pa, Ma, aku berangkat dulu. Nanti malam mungkin aku pulang terlambat.” Cahyo mencium pipi mamanya dan pergi. Ada rapat mendadak, Surya baru saja mengirimkan email agar dia segera ke kantor, jadi Cahyo menginjak pedal gasnya lebih dalam.


Tepat sat mobil ke luar, satu mobil masuk juga, berhenti dengan sempurna, dan segera disambut oleh satpam yang berjaga. “Selamat pagi, Pak.” Sapa Yuni sambil memamerkan senyumannya.


“Nona Yuni?!” Satpam itu segera berlari setelah membukakan pintu. “Tuan, Nyonya besar, ada nona Yuni di luar!” Tersengal, kabar gembira ini harus segera didengar oleh bosnya.

__ADS_1


Mendengar itu, mama Cahyo tak lagi memedulikan makannya, dia langsung berdiri dan berjalan cepat ke depan. Ingin segera bertemu dengan Yuni.


“Hati-hati dengan langkahmu!” Papa Cahyo mengejar istrinya juga, langkah itu terlalu cepat dan mendadak, dia kawatir kalau istrinya terjatuh atau apa pun karena ada tangga kecil di depan.


Mama Cahyo berhenti melihat wanita dengan perut besarnya mendekat, air matanya tak terbendung, bahkan senyum itu masih sama, dan kini semakin jelas berada di depannya.


“Mama.” Yuni segera memeluk mama mertuanya.


Tangisnya semakin deras, “Sayang, bagaimana kabarmu? Ini...” Mama Cahyo mengurai pelukan itu, “cucuku?”


Yuni mengangguk, dia mengusap pipinya yang basah agar tak terlihat menyedihkan, sangat lega karena mama mertuanya masih percaya kalau ini anak Cahyo, tidak seperti Cahyo waktu itu.


Mama Cahyo memeluk Yuni lagi, “Pulanglah, Sayang. Mama dan Papa akan menjagamu.” Menoleh ke suaminya yang mengangguk saat ini.


“Jangan banyak bicara, ayo masuk! Aku tidak mau kamu kelelahan.” Papa Cahyo merangkul Yuni agar masuk dan duduk dengan benar di dalam. Tak lupa mengajak teman Yuni juga.


“Maaf, Ma, Pa. Aku baru bisa ke sini sekarang. Ponselku entah ke mana, aku tidak punya nomor Papa dan Mama, jadi aku tidak bisa menghubungi Papa sama Mama.” Yuni merasa hatinya begitu hangat.


“Mulai sekarang, kamu tinggal di sini, oke?” Papa Cahyo tak mau lagi berpisah dengan menantunya.


Yuni menggeleng, “Tidak, Pa. Mas Cahyo tidak menginginkan hal itu, aku memang akan kembali, tapi saat mas Cahyo yang memintanya. Papa, percayakan kan sama aku?”


Yuni menggeleng, “Pa, jangan maska Yuni. Kita akan sering bertemu, tapi untuk pulang, aku gak bisa.”


Mama Cahyo mengangguk, dia tak ingin keegoisannya membuta Yuni semakin jauh, “Mama setuju, tapi berjanjilah satu hal.”


“Apa, Ma?” Yuni akan menyetujuinya jika tak terlalu sulit.


“Mama mau kamu kembali ke toko, meski kamu belum ke sini, mama bisa bertemu denganmu. Sangat sulit mengajakmu bertemu, apa lagi Mr bilang dia selalu sibuk dan—“


“Mr? Mama, kenal Mr?” Yuni lebih terkejut lagi dengan penemuan ini.


Mama Cahyo menoleh ke suaminya, mendapatkan anggukan, dia pun semakin yakin memberi tahu Yuni. Sudah cukup semua ditutupi, “Kami kenal dengan orang tua Mr, jadi kami memintanya membuat Cahyo cemburu, dan nyatanya berhasil, kan? Tapi setelah kamu pergi dengannya, sangat sulit bertemu denganmu, Yun. Kata Mr keadaanmu kurang baik, jadi mama gak mau memaksa Mr agar membawamu bertemu denganku.” Mengusap tangan menantunya, “Anggap saja ini memang hari yang sangat baik sampai Mr membiarkanmu datang sendiri ke rumah ini. Aku janji, Cahyo tidak akan tahu kalau kamu ke sini hari ini, Yun.”


Yuni memeluk mama mertuanya. Semua seolah rumit sekarang, berbanding terbalik dan sangat jauh. Yuni tinggal beberapa jam, bercerita, bercengkerama, bahkan dia menerima lagi kunci toko bunga yang sempat dia kembalikan ke mama mertuanya dulu. Sebentar lagi makan siang, “Ma, Pa, aku pulang dulu, ya? Kalau mas Cahyo pulang, nanti melihatku, aku tidak mau itu terjadi.” Bersyukur saat mertuanya memahami. Yuni pun kembali ke rumah Ratih lagi.


“Kenapa diam?” Ratih jadi penasaran dengan Yuni. Keceriaannya seolah sirna sepulang dari rumah Cahyo tadi.


Yuni menggeleng, “Aku hanya memikirkan mama dan papa. Kita cari makan yuk!”


Ratih tahu kalau Yuni sedang tak ingin membahas apa pun, “Ayo!” Dia pun membiarkan Yuni tetap memegang prinsipnya.

__ADS_1


Cahyo... menghela napas panjang, “Kalau seperti ini terus, kita bisa rugi, Sur. Jangan terlalu lama, cari saja sekretaris baru, yang kompeten dan wanita kalau bisa.”


Surya terkekeh, “Kenapa harus wanita? Aku? Hendra? Kami sama-sama hebat katamu.”


Cahyo menumpu di meja, “Kalau ada klien yang ingin dilayani dengan baik, kamu mau berdandan seperti wanita dan merayunya? Kalau mau silakan.” Cahyo tahu dunia macam apa yang dia tinggali saat ini.


Surya membuka tabnya, melihat beberapa data karyawan terbaik di kantor ini, dan menunjukkannya ke Cahyo, “Namanya Lani, kalau kau mau aku akan menyuruhnya ke sini sekarang juga.”


Cahyo mengerutkan kening, “Cepat sekali, dari divisi mana? Kuharap dia tidak ceroboh dan bisa menempatkan diri dengan baik.”


Surya terkekeh, dia menarik telepon kantor di ruangan Cahyo, dan mengangkatnya, “Panggilkan Lani, aku menunggunya di ruangan tuan Cahyo, tidak lebih dari lima menit, jangan membuang banyak waktu.” Surya meletakkan telepon itu lagi, “Dia kepala HRD, sangat tahu bagaimana menghadapi anak yang banyak masalah, kurasa dia bisa melayani para klien yang banyak permintaan.”


Cahyo mengangguk, “Dia ....” Menggantung kalimatnya saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka.


“Maaf, Tuan Cahyo, Pak Surya. Aku berlari tadi dan lift sedang mati.” Lani ngos-ngosan.


Cahyo mencebikkan bibirnya, “Duduk saja. Setelah napasmu normal, kita bicara lagi.” Kembali menoleh ke Surya, “Besok siapa yang ke pantai?” Cahyo mengalihkan topik pembicaraan karena Lani sudah datang.


“Harusnya Yuni, tapi dia tidak ada, jadi kamu yang datang. Apa perlu aku membuat surat undangan untuk tuan besar?” Surya menanyakan tentang papa Cahyo.


Menggeleng, “Papa tidak mau, aku saja. Lani,”


“Ya, Tuan Cahyo.” Lani langsung berdiri.


“besok ikutlah ke pantai. Surya akan memberiku pekerjaan baru ikutlah bersamanya.” Cahyo menoleh ke sahabatnya dan tersenyum lebar.


Surya memutar bola matanya malas, “Ayo ke ruanganku!” Segera berdiri, dia akan menyiapkan apa saja yang harus dilakukan Lani mulai sekarang.


Lani menunduk hormat ke Cahyo dan mengekor ke Surya, “Pak Surya, maksud tuan Cahyo tadi apa?”


“Mulai besok, kamu yang mengantar tuan Cahyo pergi, soalnya sekretaris yang kemarin kan mengundurkan diri, aku dan Hendra tidak mungkin, pekerjaan kami banyak, jadi kamu yang diangkat.” Surya baru saja tiba di ruangannya, “Hanya menemani, kalau pekerjaan kamu tetap di bagian HRD pusat, ya... anggap saja jalan-jalan digaji, gitu.” Mengeluarkan dokumen lumayan tebal ke Lani.


Lani pun mengambilnya, membuka dan mempelajari, semua ini cukup mendadak.


“Kalau ada yang bingung, tanyakan saja, besok kamu siap-siap ke pantai sama tuan Cahyo.” Surya memainkan ponselnya menunggu Lani selesai membaca dokumen darinya.


Lani tersenyum, ini menguntungkan untuknya, dan dia tak akan menolak kesempatan besar ini. Selain gaji dan tunjangan yang naik, dia juga bisa dekat dengan bosnya yang duda itu. “Siap, Pak Surya. Aku mau.” Lana mengembalikan dokumen itu ke Surya.


“Bagus. Kalau begitu besok siap-siap ke pantai dan jangan datang terlambat. Kamu tahu tuan Cahyo selalu tepat waktu, kan?” Surya menyiapkan surat kerja dadakan untuk Lani.


“Iya, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak.” Lani pun menanda tangani pekerjaan barunya.

__ADS_1


__ADS_2