
“Tuan Cahyo ....” Hendra tersenyum, dia memang sengaja mengangkat panggilan telepon itu saat Nana ke kamar mandi.
Cahyo mengerutkan kening, “Kalian sekamar?”
“Ya... bisa dibilang begitu—ah! Tidak. Kami pisah kamar, tapi aku tidak sengaja masuk kamar Nana dan ini bukan jam kerja, jadi aku bisa memanggilnya Nana saja, kan?” Hendra tertawa, “Ada pesan yang harus kusampaikan... Tuan Cahyo?”
“Katakan padanya, perusahaan memerlukan laporan, jangan bekerja seenaknya sendiri, apa kau paham?!” Cahyo membentak, darahnya seolah mendidih, meski jawaban Hendra tidak, dia sendiri sangat tahu seperti apa kelakuan Nana di luar saja jika jauh darinya.
Yuni baru saja masuk, dengan membawa nampan berisi makanan, dia mendekat perlahan. Bentakan Cahyo membuatnya gentar, tapi tak mungkin mundur, kan?
“Kalau tidak bisa bekerja, isi saja surat pengunduran diri kalian, aku tidak ingin lagi membuang waktuku hanya demi kalian.” Cahyo menutup telepon itu dan melempar ponselnya. Tahu kalai Yuni sudah di kamar, Cahyo beberapa kali membuang napas kasar, lalu duduk. Menarik nampan yang hampir saja Yuni letakkan di meja dan segera menghabiskan makanan itu.
“Pelan-pelan, Mas.” Yuni duduk perlahan, tak ingin bergerak, dia melihat amarah di wajah Cahyo.
“Apa aku harus minum obat?” Cahyo bertanya tanpa mendongak ke Yuni.
“Ya.” Yuni berdiri kembali, dengan cepat menyiapkan obat, dan memberikannya ke Cahyo, “Ak—aku juga sudah minum tadi. Mama telepon, katanya kalau Mas mau oleh-oleh bilang saja, mama pulang besok.” Yuni merapikan piring bekas makan Cahyo, memberikan wedang jahe hangat agar obat segera merasuk, dan tersenyum saat Cahyo menatapnya.
“Kau tahu, Mr. mengirimkan email padaku, katanya dia memberimu hadiah, mungkin besok pagi sudah sampai. Lusa beliau akan ke mari, ucapkanlah terima kasih dengan baik, Yun.” Entah kenapa, semakin Cahyo mencari cara agar Yuni pergi, semua permasalahan seolah membelitnya agar terus bersama, seperti acara yang Mr gelar lusa. Cahyo merasa membosankan terus seperti ini, tapi bagaimana dia menolaknya?
Yuni mengangguk, “Apa Mr bilang apa hadiahnya, Mas?”
Cahyo menggeleng, “Mungkin kalung, pengusaha biasa memberi hadiah semacam itu, Yun. Tidurlah,” Cahyo berdiri dan berjalan ke kasur, “kepalaku pusing, jadwalku besok juga padat, aku mau tidur lebih awal.” Menarik selimut untuk menutupi dirinya sendiri.
“Mas Cahyo, mau kupijit?” Yuni mengekor hingga ke ranjang.
__ADS_1
“Gak usah, Yun. Jangan menggangguku biar aku bisa istirahat dengan nyenyak.” Cahyo memunggungi Yuni dan segera memejamkan mata. Kepalanya sangat berat malam ini.
Tak punya pilihan lain, Yuni berbalik dan pergi begitu saja tanpa ingin berdebat. Masih terlalu sore untuk tidur.
“Non Yuni, ada kiriman untuk Anda.” Bibi yang biasa membersihkan rumah, datang dengan membawa kotak lumayan besar.
“Untukku? Dari mana?” Yuni menerimanya, apa ini dari Mr?
“Singapura, Non. Saya ke dapur dulu.” Bibi itu berlalu pergi.
Yuni mengangguk, “Bukankah harusnya besok pagi? Kenapa malam-malam begini ada tukang paket? Mereka rajin sekali.” Yuni kembali ke kamar, baru saja masuk, dia berjinjit ke ruang balkon agar tak mengganggu Cahyo yang tidur, “Waahhhh... ini ....” Sangat takjub. Yuni tak mengangka akan mendapat hadiah seindah ini dari Mr.
***
“Bangun, Yun. Mana jas dan tas kerjaku?!” Cahyo berbalik, dia masih memakai kemeja dan celana panjang saja, biasanya Yuni yang menyiapkan, tapi entah kenapa wanita itu malah bermalas-malasan.
Barulah Yuni paham, dia melompat, menyiapkan jas dan tas kerja Cahyo tanpa ke kamar mandi lebih dulu, lalu ikut ke bawah. “Sarapan dulu, Mas.” Yuni segera mengoles selai kacang ke roti, tak lupa dengan telur dadar itu juga, untuk pembantu di sini tak pernah kesiangan seperti dirinya.
Tahu kalau Yuni tak nyaman dengan keadaannya sendiri, “Mandilah, berdandanlah lebih baik, kamu harus ke toko, kan?” Setelah Yuni mengangguk, Cahyo ikut mengangguk, meneguk jus buah naga hingga tandas, dan pergi ke kantor tepat setelah Yuni pergi dari ruang makan. Hari ini banyak rapat, jangan sampai dia terlambat, dan sesampainya di kantor, “Nana sudah mengirim kabar, Sur?” Membuka satu persatu map yang baru saja dikirim Surya dan menanda tanganinya.
Surya mengangguk, “Ya, nanti siang Mr juga akan ke sini, untuk jadwal besok, makan malam dimulai lebih awal, jam tujuh. Sepertinya ada acara tambahan.”
“Sudah kuduga. Ajak Ratih. Aku tidak ingin Yuni kesepian.” Cahyo tak mengerti dengan rencana Mr, tapi setidaknya dia tak akan melepas klien terpentingnya itu.
Surya mengangguk, “Aku akan menyiapkan bahan untuk rapat jam sepuluh nanti, kita bertemu di ruang rapat saja, pekerjaan Nana juga kusetorkan nanti.” Surya pun kembali ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Yuni... melongo saat tahu Cahyo sudah pergi, “Aku berangkat dengan Bapak?” Tanya Yuni ke sopir yang sudah nyengir padanya.
Sopir itu menggaruk tengkuk, “Yaaa... iya, Non.” Meringis agar Nona muda itu tak marah.
Yuni mengangguk lesu, “Ayo berangkat, Pak.” Masuk mobil dengan malas, dia juga tak banyak membahas apa pun, diam dan memainkan ponselnya saja untuk melihat perkembangan zaman. Sesampainya di toko, Yuni tersenyum, “Anton, dari tadi?”
Anton menoleh sambil tersenyum, “Baru, bungamu tak terlalu banyak, Yun, kapan datangnya? Aku akan memberi kejutan ke pacarku.”
“Hm,” Yuni memeriksa ponselnya, “sepertinya masih nanti sore, apa perlu kucatat apa saja bunga yang kamu butuhkan?”
“Aku ingin mawar merah yang segar, aku ingin mawar itu memenuhi kamar dan aromanya tak bisa dilupakan, apa aku bisa mendapatkannya?” Anton tersenyum lebar membayangkan dirinya bercumbu dengan sang kekasih.
Yuni mengangguk, “Tentu saja. Hanya merah? Kamu tidak ingin warna lain? Padahal kuning lebih wangi dari pada merah, Ton.”
Anton terkekeh, “Kamu memang ahlinya, Yun. Cukup merah, Nana tidak suka warna yang lain.” Tangan Anton meraih mawar kuning setangkai di pot, menghirupnya, memang tak diragukan lagi pengetahuan Yuni tentang bunga.
Yuni tersenyum, “Apa kamu sudah lama berhubungan dengan Nana, Ton? Kenapa tidak segera menikah?” Yuni tak tahu apa ini akan berhasil, tapi jika Nana dan Anton menikah, bukankah pernikahannya juga akan selamat?
Anton menggeleng, “Aku tidak bisa menikah dengan Nana, Yun.”
“Kenapa?” Yuni rasa ada yang salah di sini.
Anton terkekeh lagi, “Aku sedang di ujung karier, Yun. Pernikahan hanya akan menghambat semua, lagi pula aku dan Nana sudah dewasa, tidak penting kita menikah atau tidak. Selama aku dan dia selalu ada, kenapa harus ada kata menikah? Bukankah itu hanya ucapan orang bodoh?” Anton malah tertawa. Entah apa yang dia tertawakan.
Yuni menggeleng, “Lalu bagaimana denganku? Apa aku bodoh sudah menikah dengan Cahyo?”
__ADS_1