
Jam makan siang seolah datang lebih cepat. Cahyo membawa ponselnya ke luar, agendanya hanya satu, ke mall untuk—ah! Cahyo tersenyum, bahkan semalam dia tak mampu mengatakan apa pun ketika bertemu Yuni setelah sekian lama, kini langkahnya meragu, apa dia akan ke mall lagi untuk mengenang hari-harinya dulu?
“Tuan Cahyo,” Lani tersenyum, dia baru saja ke luar dari ruang kerja Surya, “aku sudah mempelajari pekerjaanku. Ini sangat mendadak, tapi aku akan melakukan yang terbaik, Tuan.”
Cahyo mengangguk, “Lakukan saja semua sebaik mungkin.” Melanjutkan langkahnya lagi.
“Tuan Cahyo,” Lani mengekor Cahyo, “mungkin ada yang Tuan inginkan? Aku bisa bekerja mulai hari ini.”
Cahyo menghela napas, “Lani, aku punya banyak karyawan, kalau kamu tidak bisa menjaga sikapmu, aku bisa menyuruh orang lain.” Tersenyum simpul dan melanjutkan langkahnya lagi. Entah, Cahyo merasa lingkungan sekitar mulai tidak nyaman akhir-akhir ini. Cahyo tetap ke mall, hanya satu mall itu saja, berjalan tanpa tujuan, melihat ke kiri dan kanan, dan kini langkahnya tiba-tiba berhenti.
Yuni pun sama, dia juga berhenti, Ratih sedang mewarnai rambut, dan dia bilang ingin jalan-jalan mencari makanan di sekitar salon, tapi malah bertemu dengan Cahyo. Yuni tersenyum, “Kamu—“
“Kamu di sini? Dengan siapa?” Cahyo mengedarkan pandangannya mencari Mr atau bahkan orang yang pantas disebut pengawal.
“Dengan Ratih.” Yuni menunjuk salon di belakangnya.
Cahyo mengangguk, “Kamu... mau ke mana?”
“Aku bosan, jadi aku mau mencari makanan di sekitar sini. Kalau, Mas?” Yuni merasa canggung, tapi tak mungkin kan pura-pura tidak kenal?
“Aku mau makan siang. Makanan di restoran membosankan, jadi aku mencari makanan di sini. Biar aku menemanimu.” Cahyo mempersilakan Yuni agar berjalan lebih dulu.
Yuni mengangguk, dengan canggung dia melangkah, dan masuk ke toko buah. “Maaf, Mas. Aku tidak tahu kalau kamu batal menikah dengan Nana.” Yuni rasa tak ada salahnya berteman dengan Cahyo.
__ADS_1
Mengangguk, “Apa... istri Surya yang menceritakannya padamu?” Tak ada yang Cahyo lakukan selain mengekor Yuni saja. Dia juga menjaga jarak, perut itu besar, dan Cahyo kawatir Yuni kekurangan ruang.
Yuni mengerutkan kening, “Istri Surya?” Barulah Yuni tersadar, “Namanya Ratih, Mas.” Tertawa, hanya menyebut satu nama saja Cahyo membutanya berpikir keras.
Cahyo tersenyum, menikmati tawa yang dia rindukan, apa begini rasanya kehilangan? Yuni di depannya tapi Cahyo tak berani menyentuh. Sadar, semua yang terjadi adalah buah dari perbuatannya dulu.
“Lalu bagaimana dengan proyek di pantai? Apa hubunganmu dengan Anton baik-baik saja, Mas?” Yuni bertanya sambil memilih buah untuk dibelinya.
Cahyo mengangguk, “Urusan pribadi dan pekerjaan kan berbeda. Kita pernah bertemu dan tak ada kejadian apa pun, lagi pula ada Hendra dan Surya yang ke lapangan, jadi semua bisa diatasi.” Cahyo melihat palm dan dia mengambilnya satu untuk dimasukkan ke keranjang Yuni, “Kata mama ini baik untuk wanita. Mungkin baik juga untukmu.”
Yuni mengangguk, menyerahkan keranjangnya ke penjual, dan membayarnya. “Aku sudah selesai.” Yuni berniat kembali ke salon.
“Aku... belum makan, malam menemanimu tadi, apa kita bisa makan dulu?” Cahyo mencoba mengulur waktu, mungkin dengan begitu dia punya banyak waktu bersama Yuni, dan rasa rindunya akan terobati.
Kini malah Cahyo yang bingung, “Aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu yang pilih?” Segera mengambil keranjang buah Yuni dan memasang senyum termanisnya, “Pilih apa pun, Yun. Aku akan memakannya.”
Yuni jadi punya ide, dia mengangguk, dan segera mengajak Cahyo masuk ke salah satu kedai yang ramai pembeli, memesan beberapa makanan, dan pelayan pun tak lama kemudian mengatar pesanannya. “Ini enak. Ayo makan!” Yuni mengambil sumpit dan menikmatinya.
Cahyo menelan ludah, mengusap kening, dan tersenyum saat Yuni mengawasinya. Cahyo sangat benci makanan Jepang, dia tidak bisa menemukan rasa dalam masakan, dan Yuni malah memenuhi meja dengan berbagai macam olahan sushi. “Bukankah wanita hamil tidak boleh makan barang mentah seperti ini?” Cahyo masih enggan mengambil sumpitnya.
Yuni mengangguk, lalu memisahkan beberapa piring berkelompok, “Ini mentah untuk Mas dan ini matang untukku. Setelah semua habis, kita makan ramen, dan es krim.”
Cahyo tersenyum lagi, “Perutku tidak akan muat kalau makan sebanyak itu. Bagaimana kalau aku makan ramen saja sekarang?” Dia akan merayu untuk terakhir kali.
__ADS_1
Yuni merengut, “Mas bilang aku yang pilih makanan.” Meletakkan sumpitnya dan bersedekap dada.
Cahyo pun meringis, dia segera mengambil sumpit, dan memakan semua dengan cepat. Ingin makanan yang ambar dan aneh itu segera berkumpul di lambungnya agar lidahnya terselamatkan.
Yuni tersenyum penuh kemenangan. Dia pun memesan ramen agar mual yang dihasilkan sushi terganti dengan cepat. Sudah lama dia ingin makan makanan ini dengan Cahyo, meski terlambat, Yuni senang hari ini terjadi.
Melihat ramen datang, Cahyo segera mengaduknya, meniup, dan memasukkannya ke mulut meski masih panas, baru dia bisa bernapas lega karena asam pedas itu menggantikan jenuh. Cahyo menyandar, membuka mata setelah melewati masa kritis, dan berdecap melihat Yuni tertawa, “Ck! Kamu, ya?”
“Kamu sangat lucu, Mas.” Yuni terus tertawa, ingat dengan baik seperti apa wajah Cahyo tadi, dan dia tak akan melupakannya.
Cahyo tertawa juga, hubungan ini terasa lebih baik, mungkin dia harus berterima kasih pada masa lalu. Setelah makan siang selesai, Cahyo mengantar Yuni lagi ke salon, belum juga melihat Ratih, dan Cahyo mengajak Yuni duduk di bangku depan salon. “Apa aku boleh menanyakan sesuatu, Yun?”
Yuni mengangguk, “Apa, Mas?”
“Apa... anakmu baik di dalam sana?” Cahyo menatap perut Yuni.
Mendengar itu, Yuni jadi ingat dengan apa yang dilakukan Cahyo, dan itu membuat sakit hatinya menganga lagi. Yuni pun berdiri sambil memegangi perutnya, “Ya, anakku baik-baik saja, Mas.” Tiba-tiba matanya terasa pedih dan Yuni masuk begitu saja ke salon meninggalkan Cahyo.
Kini sepi kembali mengimpit, Cahyo tahu Yuni masih sakit hati, tapi dia juga ingin tahu. Mungkin kalau waktu bisa diputar lagi semua akan diperbaiki. Cahyo menatap Yuni dari balik kaca pembatas salon, melihat wanitanya menangis hanya oleh pertanyaan kecil semacam itu saja, seolah menyadarkan dia dengan kejahatannya. Tahu tak mungkin Yuni ke luar lagi, Cahyo pun berbalik dan kembali ke kantor.
“Maafkan aku, Yun.” Tak akan ada yang mendengar, hanya sopir yang setia mengantar Cahyo ke mana pun, dan itu akan tersimpan juga di gendang telinga. Beberapa kali melihat bosnya dari pantulan spion atas, tahu seperti apa kalau di hati sana, tapi tak punya nyali untuk memberi solusi. “Sudah sampai, Tuan.” Untuk ke sekian kalinya, dia harus menegur Cahyo kalau mobil sudah berhenti sejak beberapa detik yang lalu, menarik Cahyo ke kenyataan lagi.
Cahyo mengangguk, turun dari mobil, dan akan menghabiskan waktu di ruang kerjanya lagi.
__ADS_1
Surya segera mendekat saat melihat Cahyo, “Apa ponselmu mati? Ada telepon dari rumah sakit dan kamu harus ke sana sekarang.”