
Yuni menoleh, tersenyum ke Cahyo, “Mas. Kamu di sini?” Dia malah tertawa. Turun dari ranjang dan mendekat ke Cahyo, “Rasanya sangat gerah, tapi aku juga bersemangat malam ini, rasanya ...” Yuni mengusap leher dan dadanya sendiri, “aku ingin kita melakukan sesuatu, Mas.”
Cahyo semakin mengerutkan kening, “Ada apa denganmu? Kamu mabuk? Aku yakin tidak ada minuman beralkohol tadi.” Cahyo berjalan menghindar, dia ke nakas untuk mengambil ponselnya, tapi Yuni sudah mengusap punggungnya, dan jujur saja, itu membawa gelayar aneh untuknya. Cahyo menelan ludah, “Apa yang kamu lakukan, Yun?”
Yuni terkekeh, dia memeluk Cahyo, mengusap bagian dada Cahyo, “Kenapa kita tidak melakukannya malam ini, Mas?”
Cahyo menahan tangan Yuni, “Melakukan apa? Aku malas melihat wajahmu pucat seperti kemarin malam. Pekerjaanku banyak, Yun. Jangan menggangguku.” Tangan itu benar-benar jauh, Cahyo terus melangkah karena tak ingin meladeni aksi gila Yuni.
Yuni menarik tangan Cahyo kuat hingga tubuh itu berhenti. Cahyo yang diam mematung, Yuni pun memeluk kembali, “Ayo kita lakukan sekarang, Mas. Aku sangat menginginkannya. Kumohon.”
“Kenapa kau begitu menginginkanku? Padahal aku sangat tahu apa yang ada di kepalamu saat ini. Aku yakin kau hanya ingin mengerjaiku saja.” Cahyo mendorong Yuni dan pergi.
Sedangkan Yuni malah kebingungan, dia pikir semua akan berjalan lancar, ternyata dia salah. Semua sudah diminum lebih banyak dari dosisnya dan Yuni tak tahu harus melakukan apa.
Cahyo kembali ke ruang kerja, menyiapkan hal yang seharusnya untuk proyek terbaru, hingga tak sadar kalau sudah hampir pagi. Jam dua saat ini, tinggal sedikit lagi, tapi dia tak ingin beristirahat. Cahyo pun ke dapur, mencari pelayan, tapi malah menemukan sopir sedang membuat kopi, “Kamu belum tidur?”
__ADS_1
“Eh! Tuan Cahyo?!” Sopir itu meringis, “Teman saya, satpam yang berjaga malam ini, izin pulang, jadi saya gantikan berjaga dengan penata kebun. Tuan Cahyo, dari tadi belum tidur?” Sopir itu mulai menuang air panas yang baru saja mendidih, lalu mengisinya lagi dengan air untuk Cahyo.
“Belum, Pak. Pekerjaan banyak dan besok harus selesai. Ini juga mau bikin kopi biar gak ngantuk.” Cahyo mulai meracik kopi keinginannya.
“Loh? Tuan Cahyo, kerja? Gak sibuk sama non Yuni? Ah! Maaf, Tuan.” Sopir itu menunduk tak enak karena sudah kelepasan.
Cahyo terkekeh, “Enggak, Pak. Yuni kan biasa tidur duluan kalau saya sibuk.”
“Anu, Tuan Cahyo, saya gak yakin non Yuni tidur, kalau tidak dengan Tuan Cahyo, masak iya non Yuni di luar sana ....” Memilih untuk menggantung kalimatnya agar tak salah ucap.
Setelah meringis sambil menggaruk tengkuknya, sopir itu pun tak mungkin tak menceritakan hal yang sebenarnya, “Saya diajak non Yuni ke apotek tadi, non Yuni beli obat perangsang buat diminum sendiri, karena non Yuni tidak tahu, jadi saya yang memilihkan apoteknya, mangkanya saya heran kalau Tuan Cahyo tidak dengan non Yuni.”
Air di teko itu belum mendidih, tapi Cahyo segera pergi ke kamarnya, langsung masuk dan melihat Yuni yang menangis di pojok ruang. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Cahyo menarik tangan Yuni agar Yuni duduk di ranjang.
Yuni menggeleng, “Gatal, Mas.” Keringatnya sudah membasahi seluruh tubuh, rasanya juga tidak nyaman, Yuni bingung, dari tadi dia sudah mengecilkan suhu di kamar tapi tak mengubah apa pun.
__ADS_1
“Ck!” Hampir seluruh tubuh Yuni kemerahan karena digaruk, Cahyo kembali menarik Yuni agar mengikutinya ke kamar mandi, lalu mengguyur tubuh Yuni.
“Aaaaa! Mas?!” Yuni tidak tahu apa yang Cahyo lakukan. Dia sedang tak ingin mandi, Cahyo malah kembali menghukumnya seperti itu, dia ingin marah tapi tak berani.
“Siapa yang menyuruhmu membeli obat seperti itu, huh?!” Cahyo juga menghidupkan kran di bak mandi, dia sedang membutuhkan air dingin yang banyak saat ini, “Jangan pernah dengarkan kata orang, aku juga tak ingin menyentuhmu, jangan anggap aku begitu ingin menyentuhmu hingga kamu mencoba merayuku seperti wanita murahan, aku tidak menyukai itu, Yun! Aku malah jijik padamu. Apa kau dengar?!” Cahyo terus menahan tangan Yuni agar Yuni tak lari dari kran di atasnya. Tubuhnya dan Yuni sama basahnya, biar saja asal Yuni tak kesakitan seperti ini, “Jangan menjadikan dirimu orang lain, Yun. Aku tidak suka.” Cahyo menggeleng, dia tak habis pikir dengan Yuni.
Yuni masih saja berteriak, dia ingin Cahyo menghentikan semua ini, bahkan semua cacian Cahyo tak dia dengar dengan benar. Saat dia masih saja meraung, ‘Byur!’ Yuni melongo. Kini tubuhnya di bak mandi yang penuh dengan air dingin.
“Tetaplah di sini kalau kau masih ingin hidup atau aku yang akan membunuhmu kalau kau berani ke luar.” Cahyo mengatakannya dengan jelas. Yuni yang mengangguk ketakutan, Cahyo ikut mengangguk juga, “Bagus!” Dia pun pergi. Sangat dingin. Cahyo akan mencari baju kering untuk dirinya sendiri.
Dari begitu banyak ucapan Cahyo, hanya yang paling akhir yang dia ingat, yaitu tak boleh ke luar dari bak mandi meski tubuhnya mulai merasakan dingin yang dia inginkan. Apa tadi yang sangat panas, kini mulai menggigil, tapi Yuni tetap tak berani ke luar. Dia hanya memeluk tubuhnya sendiri.
Cahyo baru saja selesai ganti baju, dia berbaring di ranjang, “Aahhhh ...ini sangat dingin.” Menarik selimut, dia ingin mengusir sisa dingin yang melanda, dan hangat pun lambat laun membuatnya memejamkan mata.
__ADS_1