
“Bayinya sehat, Anda sepertinya merawatnya dengan baik, apa ada keluhan, Nyonya Nana?” Dokter sedang menempelkan alat untuk melihat isi perut pasiennya.
Nana tersenyum lebar, menoleh ke Cahyo dan mengecupnya jauh, “Tidak, Dok. Suamiku sangat perhatian, dia merawatku dengan baik, jadi bayiku pasti ikutan senang. Bukankan kesenangan adalah hormon terbaik?” Nana tertawa.
Dokter itu ikut tertawa, “Anda sangat benar. Apa ada yang ingin Tuan tanyakan?” Dokter itu menoleh ke Cahyo.
Segera menggeleng, “Tidak, aku percaya padamu, Dok.” Tersenyum, dia memang melihat sesuatu yang berbentuk kecil di layar monitor, dan perasaannya jadi tak karuan sekarang.
Dokter pun mengangkat alat yang dipegangnya, “Bersihkan, Sus.” Berdiri dan duduk di tempatnya, “Saya akan memberikan vitamin dan harus diminum, hanya hormon bahagia tidak akan cukup, Nyonya, Tuan.” Memberikan resep itu ke Nana.
“Terima kasih, Dok.” Nana pun ke luar, dia langsung memeluk Cahyo begitu sampai di luar, “Bagaimana perasaanmu, Sayang? Aku sangat bahagia, semua ini sangat kita nantikan, aku tidak sabar menggendongnya dengan tanganku."
__ADS_1
Cahyo terkekeh, “Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Ponselku berbunyi, Surya terus mengirim email, apa tidak masalah kalau kita tak makan siang dulu? Aku akan menggantikan kapan pun kamu minta asal bukan hari ini.”
Nana mengurai pelukan sambil cemberut, “Ok, mau bagaimana lagi? Suamiku ini orangnya sangat sibuk.”
Cahyo tertawa, “Kuantar ke mobil, ya?” Berjalan sambil banyak cerita dengan Nana dan segera melambaikan tangan setelah Nana berlalu dengan mobil pemberiannya. Cahyo menunggu mobil Nana jauh hingga tak terlihat, baru setelahnya masuk kembali, dia mengantre, dan setelah masuk, duduk sambil berdecap, “Ck! Katakan! Apa aku gila? Ada gejala kegilaan dalam diriku, huh?!”
“Apa itu anakku? Kau tidak salah menghitungnya?” Tadinya Cahyo ingin menyuap temannya agar memberi Nana obat keras sampai keguguran, tapi mendengar penawaran lebih menarik, seperti mencarikan fakta kalau itu benar anaknya atau bukan, dan semua malah tetap dirinyalah yang kalah telak. Sekarang Cahyo tak tahu harus melakukan apa.
“Aku tidak tahu, kalau usia janin tadi, Nana hamil sekitar empat jalan lima minggu, dan kau sendiri lupa tanggal berapa berhubungan dengannya, kan? Harusnya tepat di tanggal ini, baru janin itu terbukti benar-benar anakmu.” Dokter memberikan kalender kecil ke Cahyo. Sudah ada tanggal yang dia lingkari di sana, itu adalah tanggal yang pasti milik Cahyo saat berhubungan.
__ADS_1
Cahyo menggeleng, “Daya ingatku sangat rendah, tapi Nana bilang dia minum vitamin selama ini, apa ada vitamin seperti itu?”
Dokter itu mengangguk, “Tapi presentasinya hanya tujuh puluh lima persen dan itu vitamin yang diminum selama tiga bulan atau minimal dua bulan sebelum berhubungan di masa subur.”
“Yuni pingsan tadi pagi, dia dibawa ke klinik dekat rumah, mama pikir Yuni hamil, ternyata tidak, kenapa bukan Yuni saja yang hamil? Semua ini membuatku gila.” Cahyo menyandarkan punggungnya.
“Sangat sulit, usia Yuni sangat jauh denganmu, tapi kamu bisa mencobanya.” Dokter itu pun menulis resep vitamin, “Berikan ini ke Yuni, aku tidak tahu apa akan berhasil, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Kudoakan apa yang dilakukan Nana akan berhasil juga dengan Yuni.”
Cahyo mengambil resep itu, mengangguk, dan kemudian ke luar.
__ADS_1
Anton... tersenyum lebar, dia mendapatkan kejutan di tengah terik matahari pantai, “Sepertinya dewi fortuna menyadarkanmu, buktinya aku bisa melihatmu di tempat ini, Nana sayang.”