Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Besok lusa


__ADS_3

“Tuan, ada tamu. Dia adalah orang yang penting.”


 


Pria yang sibuk dengan tongkat golf-nya, mengangguk, “Suruh saja ke sini. Aku tahu siapa yang datang.” Memukul dengan kekuatan penuh agar bolanya masuk.


 


“Kita harus bicara.” Papa Cahyo tak lagi bisa tersenyum meski sambutan sahabat karibnya terbilang ramah dan hangat.


 


***


 


Yuni baru saja selesai sarapan, dia membawa juga tas kecilnya, berniat setelah ini akan pergi menemui Ratih. Menghabiskan susu miliknya dan segera mengusap bibir.


 


“Kau akan ke mana?” Mr merasa Yuni terlalu sibuk setelah kembali ke Indonesia.


 


“Aku ada janji dengan Ratih, bukankah kita sudah membahasnya sebelum kembali ke Indonesia? Hanya Ratih temanku.” Yuni menenteng tasnya dan berdiri.


 


“Aku melarangmu ke luar mulai sekarang.” Mr tersenyum saat Yuni langsung menoleh ke arahnya. Wajah itu dingin dan dia tidak peduli. “Aku sudah mengurus pernikahan kita, Dania. Lebih cepat lebih baik dan soal perceraianmu, jangan terlalu dipikirkan, aku akan membereskannya lebih cepat dari yang kamu kita.” Menyunduk daging di piring dan melahapnya.


 


Yuni terkekeh, “Aku tidak mau menikah denganmu, Mr. Ah—namaku Yuni kalau kamu lupa.”


 


“Dania. Tidak ada nama lain. Pernikahan itu bukan pilihan, itu satu hal yang bisa menyelamatkanmu dan anak yang kamu kandung. Bijaklah atau satu langkahmu akan membuatmu menyesal seumur hidup.” Mr meneruskan sarapan sambil menyeringai ke Yuni. Melihat wanita yang berwajah sama dengan mendiang kekasihnya itu memang sangat menggemaskan, Mr sudah menunggu terlalu lama, dan setelah banyak hal terbongkar sepertinya sudah cukup bersandiwara.


 


Yuni menarik napas panjang dan dalam sebelum mengembuskan perlahan. Dia tetap melangkah menuju garasi, “Siapkan mobil, aku mau ke rumah Ratih.” ucapnya sambil tersenyum ke sopir yang menyambut.


 


“Maaf, Nyonya. Mr melarang Anda ke luar mulai semalam, kami sudah menerima perintah, sebaiknya Anda istirahat, demi kehamilan Anda juga.” jawab sopir sopan.


 

__ADS_1


Kenapa kalimat itu membuat Yuni memuncak? Dia segera berbalik untuk menemui Mr lagi, “Di mana Mr?!” Baru kali ini dia membentak ke pelayan dan semua karena apa yang dia dapat mulai berubah.


 


“Di ruang tengah, Nyonya Dania.”


 


“Namaku Yuni, bukan Dania!” Yuni merasa Mr mulai membunuhnya perlahan dengan semua yang diubah sedikit demi sedikit.


 


Pelayan itu pun segera menunduk, “Mr sudah memerintah semalam, kami harus memanggil Anda Nyonya Dania, saya mohon Anda tidak menyulitkan saya dan kami semua yang bekerja di sini.”


 


Yuni tak menjawab. Dia segera ke ruang tengah untuk mencari Mr, sepertinya hanya seorang itu saja yang bisa memberinya jawaban, tetapi baru saja ingin protes, Yuni malah bertemu dengan pria tua yang tengah mengobrol akrab dengan Mr. “Apa aku mengganggu?” Yuni enggan berjalan lebih dekat lagi.


 


“Dania? Astaga! Aku tidak mengira.” Pria itu langsung mendekat, “Kau memang Dania.” Gemas untuk segera memeluk


 


Yuni mundur, dia malah mengusap perutnya yang membesar, sebagai pertahanan kalau tak ingin disentuh siapa pun.


 


 


Yuni menggeleng. Sepertinya berdebat pun akan percuma. Dia memutuskan untuk berbalik dan kembali ke kamarnya. Lebih baik mengurung diri dari pada berhadapan dengan dua pria gila. Yuni harus cepat-cepat kabur, tetapi memikirkan jalan ke luar juga tak mungkin. Sepertinya Ratih bisa membantu.


 


“Ya, aku baru saja mandi, apa kamu sudah di depan? Masuklah.” Walau sibuk memilih pakaian, Ratih tetap mengangkat telepon itu, apa lagi Yuni pemanggilnya


 


“Aku tidak jadi ke sana.” Untung saja Mr hanya melarangnya pergi, Yuni masih bisa menggunakan ponselnya meski dia tak tahu apa semua ini berlangsung lama.


 


Ratih heran, “Kenapa? Bukankah kita akan ke toko sekarang? Bertemu dengan mama mertuamu karena kita sudah membuat janji, kan? Bagaimana jika mama mertuamu menunggu?”


 


“Aku tidak tahu harus cerita dari mana, Mr bertingkah aneh dan dia melarangku ke luar, tetaplah menemui mama, sampaikan maafku karena tidak jadi datang, dan ... apa aku bisa minta tolong?” Yuni sangat membutuhkan bantuan saat ini.

__ADS_1


 


“Tentu saja. Katakan, apa yang bisa kubantu, aku akan melakukan yang terbaik, bagaimana keadaan anakmu di dalam sana?” Ratih jadi kawatir dengan Yuni. Sejak awal dia tak suka dengan Mr dan rasanya saat inilah semua tersingkap.


 


Cahyo... baru saja tiba di kantor. “Anton sudah datang?” tanyanya ke Surya yang menyambutnya.


 


“Baru saja, dia di ruang rapat, aku yang menyuruhnya menunggu di sana.” Surya berjalan lebih cepat dari Cahyo, membukakan pintu itu juga, dan segera mempersilakan Cahyo duduk agar pertemuan ini bisa segera dimulai.


 


Cahyo segera menyalami Anton, biasanya dia bertemu di acara resmi dan banyak orang, saat bertemu hanya bertiga seperti ini, Cahyo jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu yang melihatkan Nana. “Apa Surya sudah memberikannya padamu? Bagaimana dengan Mr?” Cahyo duduk di kursi kebesarannya.


 


Anton menggeleng, “Semua proyek berhenti karena tidak memiliki izin, tapi aku sangat mengenal Mr, sebentar lagi pasti dia akan bertindak. Kau ... menerima undangan pernikahan itu?”


 


Cahyo mengangguk, “Itu hanya permainan, kan?”


 


“Bukan. Dengan menikahi Yuni semua perizinan akan didapat dengan mudah dan Mr berencana memajukan jadwal pernikahannya jadi besok lusa.” ucap Anton.


 


Cahyo malah terkekeh, “Kau mengatakannya untuk memancing amarahku? Bukankah kau ke sini untuk bekerja? Aku bisa saja membatalkan semua pekerjaan ini kalau kau tidak tahu diri.” Anggap saja dia jadi mudah marah sekarang, tapi itu lebih baik dari pada dia memendamnya dan jadi darah tinggi.


 


Anton ikut terkekeh juga, “Aku tahu kamu tidak mau kehilangan Yuni, aku bisa membantumu masuk ke vila kalau kamu mau, bagaimana pun juga pertemanan kita cukup lama, lebih lama dari pada aku mengenal Mr.” Anton menoleh ke Surya, “Tentang perizinan, aku yakin itu ulah kalian, tapi bagaimana dengan Yuni kalau kalian terlambat menjemputnya?”


 


Cahyo membuang muka, ucapan itu memang benar, selama ini dia hanya melihat dari kejauhan tanpa mendekat sedikit pun, dan bahkan salah pahamnya dengan Yuni belum terselesaikan. “Cepat tanda tangan, aku banyak urusan hari ini, jangan membuang banyak waktu.” ucapnya tanpa menoleh ke Anton maupun Surya.


 


Setelah menyelesaikan semuanya, Anton pun memberi Cahyo sebuah kartu, “Banyak pelayan di sana. Kuharap kau mengerti apa maksudku. Aku permisi.” Beranjak dari ruang rapat itu untuk memulai pekerjaan barunya.


 


Sedangkan Cahyo masih melihat kartu yang tergeletak di meja. “Kalau memang pernikahan itu besok lusa, aku akan turun sendiri, mereka (anak buah) sangat lamban untuk menyelesaikan tugas ini.” Cahyo tak ingin kehilangan Yuni untuk selamanya.

__ADS_1


 


Surya jadi kawatir, “Kau ... akan membawa benda itu?” Anggukan Cahyo menambah kegundahannya.


__ADS_2