
Mr mengurai pelukan, “Apa yang kamu lakukan di sini, Yun?”
Yuni menyeringai, “Apa aku harus menjawabnya? Lalu bagaimana dengan pertanyaanku, apa kau pun akan menjawabnya juga?” Melihat Mr yang mengerutkan kening tanda tak paham, Yuni bersedekap dada, di atas perutnya yang membesar, tak peduli seperti apa tampilannya saat ini. “Mas Cahyo tidak jadi menikah dengan Nana, mama dan papa yang ternyata mengenap papa Mr, surat kabar tentang kepergianku yang ternyata ada nama Mr di sana, wawancara itu semuanya bohong, dan sekarang siapa Dania? Perempuan cantik yang wajahnya sama dengan-akh!” Yuni langsung meringis.
“Tutup mulutmu, Yuni.” Cengkeraman itu tak sebanding dengan kelancangan Yuni masuk ke kamarnya, “Siapa yang mengizinkanmu ke kamarku? Lagi pula,” Mr membalik keadaan, dia mendorong perlahan Yuni ke luar, “siapa yang menyuruhmu masuk? Aku rasa tidak perlu menjawab pertanyaanmu.” Kini Mr sudah berada di luar kamarnya.
“Lalu buat apa tawaran pernikahan itu, Mr?!”
“Jangan membentakku!” Mr menghempas cengkeramannya, tak peduli jika Yuni terguyung, pikirannya terlalu kalut, jangan sampai pertanyaan Yuni menambah beban pikiran. “Ini rumahku. Kau ke sini untuk meminta perlindunganku, kan? Jangan banyak protes atau aku bisa lebih keras lagi dari pada ini. Apa kau mengerti?”
Yuni menelan ludah, apa ini artinya Mr menunjukkan sifat aslinya? Setelah sekian lama, kenapa terlalu terlambat untuk mengetahui? Yuni pun tak punya pilihan harus bagaimana lagi.
“Bagus.” Meski tanpa jawaban, Mr akan menganggap Yuni paham, “Sekarang mandi dan kita makan malam setelah ini. Jadilah wanita yang baik agar aku tetap mengasihimu.” Mengusap rambut Yuni dan mencium pelipis itu sebelum kembali masuk ke kamarnya.
Yuni masih menatap napasnya, tak paham, tak ingin mengerti dengan tebakannya sendiri. Dia pikir Mr benar-benar orang yang begitu baik, tapi kenapa semua mengejutkan di akhir begini? Pelayan mendekat, Yuni hanya mengangkat tangan kanan agar tak ada yang bicara. Perlahan melangkah menuju kamar, Yuni duduk dengan menghadap ke jendela, dan membiarkan matanya terpaku ke taman meski keindahannya sekarang tak bisa lagi dinikmati.
Mr baru saja selesai ganti baju. Mendekat ke foto Dania, tersenyum sambil mengusap permukaannya, “Maaf karena kesibukanmu sampai membuat tangan kotor itu berhasil menyentuhmu. Apa ada yang rusak? Aku akan memperbaikinya secepat mungkin. Tetaplah tersenyum agar hidupku tetap baik-baik saja, Dania.” Mencium foto itu seolah menyapa sebuah diri. Meski dia sadar kegilaannya semakin parah, Mr yakin semua bisa diatasi, tinggal sebentar lagi, bertahanlah.
Setelah puas bermain dengan foto Dania, Mr pun ke luar, di ruang makan sudah ada Yuni, dan Mr pun duduk di tempat biasanya. Tak peduli Yuni yang makan dalam diam, dia bisa mengambil semua makanan itu sendiri, dia pemilik rumah ini kalau Yuni perlu diingatkan. Setelah makanan hampir berpindah ke perut semua, Mr mendongak untuk melihat Yuni, “Aku akan mengurus pernikahan kita secepatnya.”
Yuni berhenti mengunyah, “Pernikahan kita? Kurasa aku belum menyetujui apa pun.” Kembali melahap makanan yang sedari tadi hambar.
__ADS_1
Mr terkekeh, “Apa aku butuh persetujuan darimu? Setelah apa yang kulakukan selama ini, kurasa kau bisa bernapas saja atas kehendakku, Yuni.”
Yuni tersenyum, “Semua hal bisa dihitung, Mr. Apa aku harus mengganti semuanya besok? Hitung saja. Tidak masalah.”
“Dania!” Mr menggebrak meja hingga sendok yang tadi digunakan hampir terjatuh.
“Yuni! Namaku Yuni, Mr!” Tak kalah keras Yuni saat membentak. Mungkin dulu dia begitu lemah, selalu pasrah saat disakiti, tetapi dia sedang mengandung, kalau dia lemah, mau jadi apa anaknya nanti?
“Hahahahaha.” Mr bahkan tak berpikir Yuni berani menjawabnya. Dia pun berdiri, mendekati Yuni, dan diam di belakang Yuni. Tangan itu mengusap rambut perlahan, menyibak, dan mencengkeram leher Yuni. Mulutnya terlalu dekat dan dia tetap tak peduli, “Karena kelancanganmu sudah masuk ke kamarku, kau harus menjadi Dania mulai sekarang, ingatlah baik-baik, Dania, hanya Dania.”
Tak mengangguk, tak juga menggeleng, Yuni menunggu akan melakukan apa lagi Mr padanya.
***
Cahyo ke kantor seperti biasa. Satu hal yang pasti ditanyakan saat bertemu dengan Surya, “Dia belum menelepon?”
Surya menggeleng, “Tapi semua proyek sudah berhenti. Anton meneleponku semalam, dia bingung, sepertinya sedikit pekerjaan akan baik.”
Mengangguk, “Tapi aku tidak punya pekerjaan. Hanya beberapa proyek kecil dan Anton akan merasa terhina saat kita memberinya proyek seperti itu.”
__ADS_1
“Selamat pagi, Tuan Cahyo.”
Keduanya menoleh, Lani tak henti membuat onar, setelah salah kostum di pengesahan pantai, kini malah menggunakan kemeja tanpa kancing saat ke kantor. “Bukankah hari ini kita ada rapat? Kau ingin pulang dan ganti baju dulu?” Cahyo merasa risi. Bagaimana bisa Surya memilih wanita seperti Lani?
Surya malah tertawa, “Dia sempurna. Bukankah akhir-akhir ini klien kita butuh yang segar seperti Lani?”
Mengangguk dengan percaya diri, “Ya, Pak Surya benar. Punyaku memang besar dan aku tidak bisa menyembunyikannya, Tuan Cahyo.” Meringis sambil merapikan kemeja pas belah dada.
Cahyo hanya memutar bola matanya malas, “Terserah kalian saja.” Berjalan lebih dulu ke ruangannya, dia tak ingin pengangkatan Lani malah membawa gosip baru yang tak bermutu, dan itu perlu untuk dihindari.
Surya menoleh, “Dari tatapanmu, aku yakin kamu sangat menyukai Cahyo, apa aku salah?”
“Tentu saja tidak. Tuan Cahyo memang sempurna, terima kasih Anda menunjukku untuk posisi ini, Pak Surya.” Lani tak tahu harus berterima kasih sebagaimana lagi.
“Karena dia kaya kau menyukai Cahyo?” Semua wanita seperti itu dan Surya masih yakin jawabannya pun tepat.
Lani yang tadinya memandangi punggung Cahyo yang kian menjauh, kini menoleh ke Surya, “Tidak semua bisa diukur dengan uang, Pak Surya. Aku mengaguminya dengan baik. Aku yakin tuan Cahyo sangat menyayangi istrinya dan jika aku di posisi itu, aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, bukankah begitu? Aku permisi dulu.” Menunduk hormat dan pergi ke ruangannya.
Surya malah tertawa, “Aku lebih tahu isi dunia dari pada kamu, Lani. Apa yang kamu sembunyikan?” Rasanya sangat lucu saat anak kecil berusaha membodohinya. Surya akan ke ruangannya, tapi sebuah email yang masuk membuatnya mengeluarkan ponsel, membacanya, pesan itu cukup mengejutkan. Tak perlu berpikir lama, Surya segera ke ruangan Cahyo, “Kau harus membaca ini sekarang.” Menyodorkan ponsel itu.
__ADS_1
“Ini masih pagi, Sur. Jangan terus mengganggu-” Cahyo tak bisa melanjutkan ucapannya. Hanya membelalakkan mata, tak menyangka kalau apa yang begitu dikhawatirkan malah terjadi terlalu cepat, sepertinya semua harus terpaksa disudahi sekarang.