
Di pantai, Hendra tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan saat Mr baru saja turun dari mobil, “Bagaimana kabar Anda hari ini? Bisanya Anda akan memberi kabar lebih dulu kalau mau datang.”
Mr malah terkekeh, “Aku hanya ingin datang dan Anton sangat sibuk, jadi aku tidak sempat mengabarinya, dan sudah berjalan berapa persen?”
Hendra membuka ponselnya, “ Enam puluh lima persen. Akan kami usahakan dua bulan lagi sudah rampung.”
Mr mengangguk dan langsung mengajak Hendra berkeliling, “Semua pekerjaan dilimpahkan padamu? Tuan Cahyo tidak pernah ke sini?”
Hendra tersenyum, “Saya penanggung jawab di sini, kalau pak Surya sering telepon untuk bertanya, tapi kalau tuan Cahyo harus di kantor, Mr. Saya tidak pernah memusingkan hal itu.”
“Hahahahaha. Aku tahu.” Menepuk punggung Hendra beberapa kali dan duduk di bangku yang pernah dia duduki dengan Yuni, “Antara kantor dan pantai tidak terlalu jauh, telepon saj Surya atau Cahyo, ada yang mau kubahas.” Mr mengatakannya tanpa menoleh ke Hendra. Dia sibuk melihat ombak yang saling berkejaran di bawah sana.
__ADS_1
“Tapi, Mr. Bukankah kedatangan Anda sangat mendadak? Saya kawatir ada rapat atau apa pun di kantor.” Hendra baru saja sadar kalau dia mengucapkan hal yang kurang pantas dan saat Mr menoleh, dia segera merogoh ponselnya, “Saya rasa di kantor banyak orang. Saya akan menelepon pak Surya dulu.” Berjalan menjauh agar jika tak ada yang datang, Mr tak terlalu kecewa hingga dirinya sendiri bingung mencari alasan nanti.
Surya yang menerima telepon, hanya bisa panik, dia yakin Cahyo tak ada di ruangannya. “Aku yang akan ke sana, Hen. Jangan mengatakan apa pun, hanya tiga puluh menit, proyek itu tak boleh lepas, Hen.” Surya memutus sambungan telepon lebih dulu dan segera menuju pantai. Semesta seolah berpihak, Surya bahkan datang lebih cepat dari yang dia kira dan berjalan cepat untuk menemui Mr adalah pilihan terbaik, “Maaf saya terlambat.” Surya mengulurkan tangan, menjabat secara profesional, dan melihat senyum Mr malah membutanya gugup.
“Aku kurang puas melihatmu yang datang. Ke mana taun Cahyo?” Mr masih belum ingin beranjak dari tempat duduknya.
Surya menelan ludah, “Ada klien penting yang tidak bisa ditinggal, jadi tuan Cahyo menyuruh saya saja yang datang. Apa ada perubahan, Mr? Saya akan menyiapkannya.”
Surya tersenyum sambil mengangguk, “Saya atas nama perusahaan, meminta maaf ke pada Anda, Mr.”
“Jangan teral dipikirkan, tapi... melihat nada bicaramu, sepertinya semua ini tak hanya terjadi sekali ini saja. Apa tebakanku benar?” Mr menatap Surya tajam.
__ADS_1
“Sa—saya kurang paham, Mr. Tuan Cahyo—“ Surya menoleh saat Hendra ikut urun pendapat dengan tiba-tiba.
“Apa yang dibahas ini, Pak, Mr? Apa ada yang saya lewatkan?” Hendra merasa asa sesuatu yang sangat besar, tapi apa? Mungkinkah Mr sudah tahu perlihat pertengkaran Yuni dan Cahyo, tapi bagaimana bisa? Dia saja melihat Yuni dan Cahyo gampang bertengkar ganpang mesra kembali.
Mr malah tertawa, “Tolong panggilkan Anton. Mari kita diskusi bersama.”
Ucapan itu seperti usiran halus, Hendra pun mengangguk dan segera turun dari jembatan untuk mencari Anton agar bergabung.
Sedangkan Mr menoleh dan mengunci pergerakan Surya, “Aku makan malam dengan nona Yuni semalam. Bukan hanya cekikan yang kulihat, tapi ada bekas kebiruan di tangan dan kaki nona Yuni, aku yakin Anda pasti mengetahui sesuatu, kan? Ini bisa dibilang bukan perkara bisnis, tapi sejak awal saya memberikan proyek ini ke nona Yuni karena saya terkesan dengan cara nona Yuni menyambutku. Jadi... katakan padaku apa yang harusnya kutahu tentang nona Yuni, Pak Surya.”
Menelan ludah, Surya seolah berada di tepi jurang, dia kawatir proyek yang sudah setengah jalan ini malam terlepas, “Saya ....” Rasanya begitu berat menjawab pertanyaan yang dia sudah ketahui jawabannya itu.
__ADS_1
Mr tersenyum, “Jangan kawatir karena secepatnya aku akan menikahi nona Yuni.”