
Mama Cahyo menelan ludah, menatap dari bawah hingga ke atas wanita bernama Nana, dan semakin mual. Rasanya ingin muntah. Ruangan luas yang sebenarnya bukan ruang tamu ini, hanya menyisakan hening yang sebentar lagi akan pecah, “Bukankah rumah ini punya tamu yang bagus? Jangan membawa orang asing masuk begitu saja, aku kawatir virus yang terbawa dari luar, hanya akan membuat semua orang tercemar.” Mama Cahyo terkekeh.
Nana tak terintimidasi sedikit pun, dia sedang membawa kemenangan saat ini, baginya ucapan selamat datang itu sangat bagus dan terdengar terlalu merdu.
Yuni tak berani mengatakan apa pun. Saat Cahyo mengajak Nana pulang, hanya ada satu alasan di balik semua itu, dan seperti yang sudah pernah dia perkirakan, sebentar lagi tiba waktunya untuk meninggalkan rumah ini.
Cahyo menelan ludah, “Nana hamil, Ma...”
Mama Cahyo membelalakkan mata. Meski begitu dia tak mengubah posisi duduknya.
“...dan itu adalah anakku.” Cahyo menunduk, tak punya muka untuk menatap siapa pun, bukan seperti ini kemauannya.
“Gugurkan bayi itu.” Mam Cahyo mengatakannya dengan sangat tegas.
Cukup menggemparkan, Yuni menoleh, baru saja dia akan mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya.
“Tidak! Kami menunggu ini sangat lama dan Anda tidak bisa mengancam atau apa pun juga. Aku dan Cahyo saling mencintai sejak lama. Nikahkan saja kami.” Nana menarik salah satu sudut bibirnya.
“Menikah? Kamu? Dengan siapa? Cahyo sudah menikah dengan Yuni.” Meski dadanya terlampau gugup, mama Cahyo tak akan memperlihatkannya, dia tak akan kalah.
“Cahyo dan Yuni sedang bersandiwara, mereka tetap tak akan bersatu, apa yang ditunggu?” Nana mengeluarkan sebuah map dari tas yang dibawanya, meski tak rapi, banyak lipatan di mana pub, setidaknya itu cukup untuk mengakhiri semua ini.
Cahyo menoleh dan menatap Nana tajam, “Kau?!”
Nana tersenyum. Kala itu...
“Kamu tak membohongiku, kan? Aku bisa mati kalau kau campakkan begitu saja.” Nana terus menggeleng, pipinya basah oleh air mata, dia baru saja mimpi buruk, dan itu sangat menakutkan.
__ADS_1
Cahyo memeluk, terus menciumi Nana, “Aku tidak akan melakukannya, Na. Aku membuat surat perjanjian dengannya, jangan kawatir, besok akan kuberikan surat itu padamu. Peganglah... dan tuntut aku kalau pergi meninggalkanmu.” ...
“Aku mendapatkan ini dari Cahyo, Yuni juga tanda tangan di sini, ini punyamu, kan?” Nana menoleh ke Yuni sambil tersenyum sinis.
Yuni mengangguk, “Ya, itu memang punyaku.”
“Hahahahaha. Apa kau bodoh?” Mama Cahyo mengatakan hal yang mengejutkan banyak orang, “Tentu saja aku sudah tahu mengenai hal itu, Cahyo adalah putraku, aku lebih banyak tahu dari pada orang lain.” Mama Cahyo menoleh ke putranya, ada gurat penasaran di sana, tapi dia tak peduli, “Aku yang menyuruhnya mengajak Yuni membuat perjanjian, semua karena kamu, agar kamu tidak terkejut saat mereka mulai jatuh cinta.”
Nana terkekeh, “Apa... mereka sudah mulai jatuh cinta sekarang?”
“Tanyakan itu kalau kalian hanya berdua, sekarang aku sangat sibuk, jadi pulanglah. Kamu membuang banyak waktuku, Nona.” Mama Cahyo berdiri, dia ingin pergi, tak ingin meledak oleh kelakuan putranya.
“Seperti yang tadi kukatakan, kami akan menikah, aku tidak mau anakku lahir tanpa memiliki ayah, jadi jangan mempersulit semuanya... Mama.” Nana tersenyum lebar karena berhasil membuat mama Cahyo kembali menoleh ke arahnya.
Nana menarik napas panjang, “Iya, Ma. Semakin cepat... semakin baik, kan?”
Mama Cahyo terkekeh, lalu menoleh ke Yuni, “Telepon papamu, Yun. Ada tamu yang menunggunya agar cepat pulang.” Duduk kembali di tempatnya yang tadi, bertepatan dengan pelayan yang mengantar minum dan kudapan, “Kumpulkan para pekerja, aku ingin semua rumah ini dibersihkan setelah kedatangan virus, jangan sampai menyebar dan membuat kita semua sakit.”
Pelayan itu mengangguk, “Baik, Nyonya.”
“Mama?!” Cahyo memekik, telinganya panas, bukan karena dia membela Nana, hanya saja jangan membuat semua semakin keruh.
Mama Cahyo terkekeh, “Aku mau seluruh ruangan, bahkan di sudut dan juga halaman, terlebih semua tempat yang dilewati oleh mobil Cahyo.” Melambaikan tangan agar pelayan itu pergi.
Tak menjawab, segera mempercepat langkah agar tak ada lagi ucapan yang menciptakan bentakan, pelayan itu tak akan mendekat lagi.
__ADS_1
Cahyo membuang napas kasar, mengusap wajahnya, dan duduk. Sedari tadi dia dan Nana hanya berdiri karena tubuhnya terasa sangat kaku.
Nana tersenyum kecut, duduk di sebelah Cahyo, tak menyangka kalau mamanya Cahyo sekeras ini. Dia pikir semua akan berjalan mudah.
“Papa sudah dalam perjalanan pulang, Ma. Tempat teman papa tidak jauh katanya.” Yuni menyimpan lagi ponselnya, meski hanya mengirim pesan, bersyukur karena papanya sangat memperhatikannya.
Mama Cahyo mengangguk dan kini ruangan ini hening kembali. Mungkin hampir dua jam dan suaminya pun bergabung. Mama Cahyo tersenyum, “Duduklah di sini, Pa. Putramu ingin menyampaikan sesuatu.” Menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Papa Cahyo mengangguk, “Ada apa? Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi cepat katakan, dan aku akan berangkat lagi.”
Cahyo menarik napas panjang dan dalam, “Aku—“
“Aku hamil, Pa.” Nana menyerobot permainan, dia lelah menunggu Cahyo yang terlalu lama, “Masih dua minggu dan aku ingin menikah dengan Cahyo. Apa Papa tega anak ini ke luar tanpa ayahnya?” Menoleh ke Cahyo sambil memamerkan deretan giginya.
Papa Cahyo mengangguk, “Ya, tentu saja.”
“Papa!” Mama Cahyo membentak sangat keras, dia tak paham dengan ucapan suaminya, kenapa terdengar memihak di ****** itu?
Nana tersenyum penuh kemenangan, semua terlalu tak terduga, ternyata papa Cahyo yang terlihat garang itu, lebih mudah dia taklukkan.
“Apa? Nana benar, jangan sampai cucu kita lahir dalam status yang tidak jelas, tapi... ada beberapa hal yang harus diselesaikan.” Papa Cahyo menoleh ke Yuni, tersenyum, lalu menoleh ke Nana, “Aku sendiri yang akan menyiapkan pernikahannya, sabarlah sebentar, dan untuk saat ini pulanglah dulu. Sopir akan mengantarmu karena Cahyo harus menyelesaikan sesuatu lebih dulu. Apa... kamu keberatan?” Papa Cahyo tersenyum untuk mempertahankan wibawanya.
Nana menggeleng, “Tidak, Pa. Tentu saja tidak. Aku akan pulang bersama sopir.” Menoleh ke Cahyo dan memeluknya, “Selesaikan dengan cepat, Sayang. Aku pulang dulu.” Mengurai pelukan, mengambil tasnya, dan pergi setelah berpamitan.
Saat Nana sudah tak ada di ruangan ini, Yuni pun ikut berdiri, dia berjalan dengan cepat menuju kamarnya—bukan! Kamar Cahyo dan dia menangis di sana. Dia sangat bingung dan kalut, tangisnya juga semakin meraung, harus ke mana dia? Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Yuni berjalan ke ruang ganti, mengeluarkan koper untuk mengemas pakaian miliknya sendiri.
__ADS_1
Tak ada yang dibawa, apa lagi jika itu pemberian Cahyo, dia hanya membawa pemberian mama Cahyo saja. Saat kotak berisi hadiah dari Mr, Yuni mengusapnya, bimbang akan membawa atau meninggalkan gaun indah itu di sini.