
Cahyo tersenyum, menjabat tangan Anton, “Kamu sudah datang juga atau memang menginap di sini?”
“Aku menginap, siapa manager areanya? Kamu turun ke lapangan langsung?” Anton menoleh ke Yuni, apa mungkin?
“Aku manager areanya, kata Mas Cahyo terus di toko akan membuatku bosan dan tidak berkembang, jadi aku ikut ke sini untuk belajar, mohon bimbingannya, ya?” Yuni memamerkan senyum termanisnya.
“Ck! Apa-apaan?” Cahyo membuang muka sambil menggerutu, “Kita mulai saja, banyak pekerjaan, kan?” Dia tak ingin Yuni genit ke Anton.
Anton mengangguk, “Baiklah, ayo!” Mengajak ke duanya ke rumah yang sudah disewa dan segera mengeluarkan jurnal, “Di sini tertulis beberapa warga yang tidak mau melepas lahan mereka, kita harus membereskan ini dulu, kalau tidak pembangunannya tidak akan berhasil.”
“Hm, aku masih baru, apa boleh tahu kita akan membangun apa di lahan itu?” Yuni melihat data yang nyatanya cukup banyak, dia mengerti karena bukan dari keluarga kaya seperti Cahyo dan Anton, bagi orang sepertinya sangat sulit melepas lahan begitu saja.
“Taman yang nyaman, penginapan, area bermain, kita ingin semua pengunjung tak mau pulang dari sini dan mau membayar sewa meski dengan harga yang tinggi.” Anton menyampaikan keinginan Mr.
Yuni menoleh ke Cahyo, melihat suaminya mengangguk, dia pun merasa punya ide menarik, “Apa aku boleh melihat petanya?” Setelah diberi selembar kertas oleh Anton, Yuni melihatnya dengan saksama, “Menurutku kita tidak perlu membeli lahan mereka, kita bisa membuat jembatan di atas, biar mereka berjualan saja di bawah. Semua pengunjung yang datang, kalau dari luar negeri akan lebih suka makanan tradisional, kan?”
“Kalau semua berpikir sepertimu, pekerja proyek akan rugi, kita membangun semua ini bersama dengan area makan juga, kalau pengunjung beli pada warga, bagaimana dengan kita?” Cahyo tak pernah memikirkan kekonyolan Yuni.
“Tapi kurasa bagus. Kita tidak perlu beli lahan warga, kita bisa membangun, biar warga jual di luar, kalau mau masuk bayar tempat jualan. Tak ada yang dirugikan di sini.” Yuni tersenyum dan menoleh ke Antin, “Bagaimana menurutmu?”
Anton mengangguk, “Bagus, tapi aku tidak bisa memutuskannya, semua ada di tangan Mr.” Anton menoleh ke Cahyo, “Apa aku perlu bertanya sekarang? Aku pun hanya bekerja di sini.”
Cahyo mengangkat bahu, “Terserah saja.” Saat Anton menjauh untuk menelepon Mr, dia pun mendekati Yuni, “Kurasa aku harus berhati-hati padamu.”
Yuni mengerutkan kening, “Kenapa?”
__ADS_1
“Kalau semua pekerjaku punya ide sepertimu dan disetujui oleh penanam saham, aku bisa bangkrut karena mereka akan mengambilmu dan berani membayar mahal, Yun.” Awalnya Cahyo memang tak setuju, tapi setelah ide ke dua, sepetinya bisa dipertimbangkan.
Yuni tertawa, “Aku anak papa sekarang dan karena itu kepandaian papa menurun padaku, Mas.” Yuni tertawa lagi. Dia hanya tak ingin warga dalam data itu tak berdaya oleh keserakahan orang kaya.
Cahyo terpana, melihat Yuni tertawa, hanya dia yang melihat pipi kemerahan itu, bekas tamparannya yang belum hilang, dan Yuni bisa tertawa selepas itu? Cahyo mendekati Yuni, merapikan rambut Yuni yang menari mengganggu, menyelipkannya ke telinga. Bibir itu terlalu menggoda, tak apa, kan? Cahyo memagutnya, *******, menyesap manis yang pernah dia rasakan dulu.
“Ough! Ini kantor, Bung!” Anton masuk sambil menunduk. Matanya ternoda oleh pasangan gila di depannya.
Cahyo melepas ciuman begitu saja, tertawa sambil menoleh ke Yuni, lebih suka lagi karena Yuni pun merona saat ini. “Bagaimana kata Mr?” Cahyo tak akan membuat Yuni terus merasa malu jika tak segera mencari topik baru.
“Ya, Mr setuju, kita bisa menggarapnya mulai sekarang, aku akan menggambar sketsa kasarnya.” Anton mengeluarkan kertas, memainkan pensilnya, dan segera menggambar kasar bersama Cahyo. Sesekali dia meminta pendapat Yuni, pekerjaan ini sangat menyenangkan, hingga tak sadar ada perut yang keroncongan. “Suara apa itu tadi?” Anton menoleh ke Cahyo dan Yuni bergantian.
Yuni meringis, “Ini... jam setengah dua.”
Cahyo tertawa, “Dasar gila!” Menepuk punggung Anton beberapa kali dan mengajak Yuni pulang. “Kita makan apa?” Menoleh ke Yuni sesekali, dia sedang menyetir saat ini, dan jalan berpasir membuatnya harus lebih fokus.
“Hm, apa saat pulang kita melewati peta yang tadi? Aku ingin sekalian berkunjung dan melihat warga. Bagaimana jika kita mampir ke warung saja? Aku ingin tahu seperti apa masakan mereka, tadi saat ke sini aku melihat warung, apa boleh?” Yuni tersenyum ke Cahyo. Melihat Cahyo mengangguk, Yuni pun bertepuk tangan, “Yeeee ....” Segera melepas sabuk pengamannya dan memeluk Cahyo.
“Hey? Hey! Apa yang kamu lakukan? Aaa ....” Cahyo tersenyum, untung jalan di sini sepi, dia bisa berhenti di tengah jalan tanpa kawatir dengan pengendara lain.
Setelah menemukan warung di salah satu rumah warga yang menolak dibeli, Cahyo menepikan mobilnya. Masuk dan membiarkan Yuni yang memesan, sedangkan dirinya mengecek email, yakin Surya sedang mencarinya sejak tadi.
“Banyak menu di sini, Mas. Semoga tidak mengecewakan.” Yuni berharap makanan yang dipesannya bisa bersaing dengan kelas restoran. Bukankah cita rasa tradisional selalu menarik?
Cahyo mengangguk, “Aku akan menyuruh orangku agar mengurus semuanya besok, Surya bilang banyak rapat sampai lusa, kamu bisa ikut ke kantor mulai besok, kan?”
__ADS_1
Yuni mengangguk, “Kata papa harusnya begitu, Mas. Apa kamu keberatan?”
Cahyo menggeleng, “Kenapa aku harus keberatan?”
“Aku... tidak paham dengan saham, semua ini bukan keinginanku, aku lebih suka di toko, tapi... hm... kapan Mas menikah?” Yuni harus menyadarkan dirinya kembali kalau semua akan tetap berakhir juga. Cepat atau lambat hanya Nana yang terpilih. Bukan dirinya.
“Jangan membicarakan hal itu, Yun. Sudah ada yang mengaturnya. Kita makan saja.” Cahyo tersenyum, pesanan juga sudah di meja, dia segera merasakan makanan desa yang ternyata memang enak. Sepertinya usulan Yuni tadi memang tepat.
Setelah makan Cahyo mengantar Yuni pulang, sedangkan dirinya sendiri ke kantor meski sudah hampir jam empat saat ini, langsung ke ruangan Surya dan duduk di seberang meja.
“Wajahmu kusut? Apa karena tuan besar menyuruhku menyiapkan ruangan baru untukmu?” Surya terkekeh saat mengejek temannya.
Cahyo menghela napas panjang, “Rasanya sangat gila.”
“Gila? Sahammu ditarik sampai membuatmu gila?” Surya terkekeh lagi.
Cahyo menggeleng lemas, “Aku mencintainya, Sur.”
“Siapa?” tanya Surya.
Cahyo menoleh ke Surya, “Yuni.”
Surya malah mengerutkan kening, “Yuni? Kamu mencintai Yuni?” Setelah temannya mengangguk, “Kenapa yang hamil malah Nana?” Dia yang menggeleng, “Sepertinya kamu memang gila.”
“Carikan aku cara untuk menghindari pernikahan itu.” Cahyo sedang buntu, “Apa pun. Aku berani membayarmu kali ini. Lakukan apa pun dan aku akan memberi berapa pun yang kamu minta.”
__ADS_1