Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Berharap baik


__ADS_3

“Surya, ini—“ Panggilan telepon itu sudah putus. Dia bersedekap dada sambil menatap tajam Hendra, “Apa yang kamu lakukan, huh?! Kau sengaja melakukannya?!” Nana yakin, kalau Hendra tak sengaja mana mungkin Hendra tiba-tiba memeluk sambil mengatakan hal semacam itu.


 


Hendra terkekeh, “Ada apa denganmu? Kau bilang aku bisa kapan saja datang padamu. Kenapa sekarang semua seperti bertolak belakang? Kalau kamu denganku hanya karena nafsumu saja, lebih baik tidurlah di kamarmu sendiri, Nona Nana.” Hendra berbalik, rencananya berhasil.


 


Nana tak mau kalah, segera menarik tangan Hendra, “Jangan pernah bermain denganku, Hen. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya.” Nana mengambil semua barangnya dan pergi dari kamar Hendra, Cahyo memang menyewakan dua kamar, Nana sengaja tidur sini dari kemarin, ternyata Hendra seperti menjebaknya begini.


 


Setelah ke luar kamar, Nana segera menelepon Surya lagi, sedikit penjelasan sepertinya akan menyelamatkannya. Surya dan Cahyo berteman dekat, dua pria itu bisa membunuhnya kalau bersatu.


 


Cahyo... “Ayo! Waktu kita tidak banyak untuk hari ini, kan?” Segera mengajak Surya naik mobil.


 


Surya tersenyum sambil mengangguk, “Kau lama.”


 


“Ada beberapa hal yang mengganggu, aku kan bos, oiya ...kenapa dengan wajahmu?” Cahyo merasa Surya tak seperti biasanya.


 


Surya menggeleng, “Tidak. Hm ...kau tidak berencana menyusul Nana?”


 


“Tidak. Banyak hal yang tidak bisa ditinggal. Yuni di rumah sendiri. Kalau mama dan papa pulang bisa gawat. Aku sedang malas berdebat.” Cahyo menunjukkan ponselnya ke sopir agar tak salah memilih restoran, “Rasanya juga ...kepalaku berat. Aku tidak ingin sakit.”


 


“Ya, itu yang kupikirkan. Wajahmu kurang segar. Seperti tak tidur semalaman atau ikut berendam dengan Yuni. Hahahaha.” Surya semakin tertawa saat Cahyo memukul lengannya. “Bagaimana Hendra menurutmu?” Surya bertanya setelah lelah tertawa.


 


“Hendra? Bagus. Selain dia yang selalu mendekati Yuni, pekerjaan yang dipegangnya tak pernah bermasalah, dan aku tidak ingin melepaskannya.” Cahyo tahu siapa yang kerja dengan penuh kualitas.

__ADS_1


 


“Kau tidak kawatir dengan Nana?” Surya sedikit memancing. Mungkin dengan begitu Cahyo akan paham dengan ucapannya.


 


Cahyo mencebikkan bibirnya, “Aku dan Nana sama-sama sudah dewasa. Hm ...kemarin mama ngamuk, katanya dia ingin punya cucu, apa sebaiknya aku merencanakan bayi tabung dengan Nana?”


 


“Kau gila?!” Surya terkejut dengan ucapan Cahyo.


 


“Kau tahu, kan? Mungkin Yuni memang bisa membuatkanku seorang anak, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Anak sudah lahir dan aku akan menceraikannya? Bagaimana bisa? Aku tidak akan tega, Sur.” Cahyo tak mungkin melakukan hal sekeji itu.


 


Surya terkekeh, dia tak paham dengan temannya, “Kalau memang kamu tak tega, kenapa melakukannya? Kenapa tidak mencoba mencintainya saja?”


 


 


Yuni... hanya diam di kamar. Sudah makan dan minum obat, tubuhnya juga mulai membaik, meski hidungnya berair, sepertinya vitamin yang diberikan dokter lumayan ampuh. “Aku tidak mungkin di sini terus.” Yuni mencoba membuka selimut dan rasanya masih saja kedinginan, “Lebih baik aku tetap di sini, tapi sampai kapan?” Yuni mencari-cari ponselnya, entah di mana dia meletakkannya kemarin, “Oh! Ini tidak akan berhasil.”


 


Dengan membawa selimut, Yuni ke bawah, dia lapar dan perutnya harus diisi. Untung ada pelayan di tangga, “Bawakan makanan ke atas, aku lapar tapi masih dingin. Jangan lama-lama, ya?”


 


“Iya, Non.” Jawab pelayan itu.


 


Yuni pun kembali ke kamarnya. Dia jadi ingat dengan perbuatannya sendiri, kemarin dia ingin menggoda Cahyo, tapi malah tak membuahkan hasil selain rasa malu saja. Entah, nanti setelah bertemu dengan Cahyo, apa yang akan dia katakan untuk pertama kali.


 


Pelayan datang mengantar makanan, Yuni segera mengisi perutnya dan kembali minum vitamin dokter. Setelah selesai Yuni merasa tubuhnya lebih baik lagi dari yang tadi. “Ada apa, Bi?" Tidak biasa pelayan masuk ke kamarnya begini.

__ADS_1


 


“Nyonya besar telepon, Non.” Pelayan itu menyodorkan telepon ke Yuni.


 


Yuni menerimanya, “Iya, Ma? Yuni baru saja makan siang.”


 


Mama Cahyo menghela napas panjang dan dalam, “Dari mana saja kamu? Ponselmu mana? Tidak aktif atau tidak ada sinyal? Jangan bikin mama kawatir.”


 


Yuni terkekeh, entah apa yang akan dikatakan mama Cahyo kalau tahu kejadian ini, “Yuni semalam lelah banget, Ma. Ponsel Yuni kayaknya jatuh ke bawah kasur deh, nanti Yuni cari. Oiya, dapat salam dari ibu dan bapak, katanya kapan ke sana, apa gak rindu sama suasana gunung?” Yuni bahkan lupa dengan hal itu juga.


 


“Nanti kalau pulang dari sini mama ke sana sama kamu. Mana Cahyo? Dia kerja hari ini?” tanya mama Cahyo.


 


“Iya, Ma. Kemarin kita sudah ke pantai, Mama kan tahu kalau mas Cahyo gak mungkin libur lama-lama.” Yuni tersenyum lagi. Dia seperti istri sungguhan saat berbohong seperti ini.


 


“Okey, kamu yang paling tahu. Katakan! Apa yang kamu mau, Sayang? Mama akan membawakannya nanti.” Mama Cahyo sangat sayang dengan menantu satu-satunya itu.


 


“Terserah, Ma. Asal enak, Yuni suka.” Tiba-tiba Cahyo masuk, Yuni berdiri karena ingin menyambut suaminya.


 


Cahyo menepis Yuni, dia sedang tak ingin diganggu saat ini, dia langsung meletakkan tas kerjanya di tempat biasanya, dan mandi.


 


“Hm ...Ma, mas Cahyo pulang. Sudah dulu, ya? Nanti Yuni telepon lagi.” Yuni segera memutus sambungan telepon itu setelah mamanya meng-iya-kan dan mengetuk kamar mandi untuk memastikan Cahyo baik-baik saja di sana.


__ADS_1


__ADS_2