
Yuni merasa puas sudah bercerita ke Ratih mengenai Hendra, dan jawaban yang dia dapat juga cukup memuaskan, dia pun tersenyum lebar. “Terima kasih, ya? Aku gak tahu kalau di dunia ini tidak ada kamu.” Yuni memeluk Ratih sebelum mengucap pisah.
“Di mana pantai yang kamu garap dengan Hendra? Apa sudah jadi?” Ratih jadi ingin mengajak Surya ke pantai juga.
“Belum, masih setengah jalan, kalau sudah jadi pasti indah.” Yuni tertawa.
“Tahu dari mana kalau indah?” Ratih tak pernah melihat Yuni seyakin ini sebelumnya.
“Karena aku yang menggambar jembatannya. Hahahaha.” Keduanya pun tertawa bersama.
“Besok kita ketemu di saja, ya? Jangan menjauhi Hendra, dia tetap teman kita, anggap saja selama ini Hendra hanya bercanda tentang perasaannya denganmu.” Ratih tak ingin persahabatan ini berakhir.
Yuni mengangguk, “Kalau sudah sampai sana telepon saja, tempat tinggalku lumayan dekat, aku akan segera menyusul.” Ke duanya berpisah, Ratih pulang sedangkan Yuni ke apartemen, dan seharian di jalan menyetir sendiri membuatnya pusing. Kepalanya seolah ingin meledak dan berkunang-kunang. Yuni segera melempar pakaian tebal yang membalut tubuhnya dan merebahkan diri di ranjang. Berharap lebih segar kalau bangun nanti.
***
Hari berganti, mungkin ini terlalu pagi, tapi Nana sudah berangkat ke kantor. Tersenyum ke seluruh karyawan yang bertemu dengannya dan berjalan anggun menuju ruang kerja Cahyo. Melihat calon suaminya menyambutnya dengan senyuman juga, Nana pun melangkah lebih percaya diri lagi, “Rasanya beberapa hari ini sangat rindu. Berapa lama kita tidak ber cinta?” Langsung naik ke pangkuan Cahyo saat pria di depannya itu mendorong kursi agar menjauh dari meja.
Cahyo terkekeh, “Aku sibuk dan kamu tahu itu.”
__ADS_1
Nana mengusap rahang Cahyo, “Ada apa dengan wajahmu? Apa ada preman di sini?”
“Tidak, hanya salah paham saja, bukan masalah besar. Kamu sudah makan?” Cahyo mengambil tangan Nana yang membelai wajahnya dan mengecup punggung tangan itu.
“Salah paham apa? Setahuku kamu bisa berkelahi, apa kamu dikeroyok orang? Bibirmu sampai robek begini. Pasti sakit.” Nana tak tahu kalau Cahyo punya musuh.
Malah semakin terkekeh, “Jangan dipikir. Kamu belum menjawab pertanyaanku, apa kamu sudah makan?”
Nana mengangguk, “Aku merindukanmu.” Segera memeluk Cahyo erat, “Kapan kita bisa hidup bersama? Setelah itu terjadi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi selama ini.” Terus mengeratkan pelukan.
Cahyo membelai punggung Nana, “Ada apa? Tidak biasa kamu manja begini? Apa semua wanita yang hamil menjadi manja?” Memberi ciuman di pundak wanita manja itu.
"Dipercepat?” Cahyo menggeleng dengan cepat pula, “Tidak bisa, Sayang. Ada beberapa rapat yang tidak bisa ditunda, aku tidak ingin klienku kabur, jangan seperti anak kecil.” Cahyo saja masih bingung memikirkan cara agar papanya tidak menggugat perceraian, Nana malah ingin pernikahan ini dipercepat, lalu bagaimana dengan Yuni nanti?
“Kamu mencintaiku, kan? Apa susahnya mengubah jadwal?” Nana tak ingin masa depannya sirna dengan mudah.
Cahyo terkekeh, “Jangan konyol, Na. Turun dulu, aku mengerjakan pekerjaanku dulu, dan setelah ini kita ke taman, cari makan, kafe, atau apa pun. Kamu sangat tahu kalau aku pria yang sibuk, jadi jangan egois, oke? Ini untuk masa depan kita.” Cahyo merayu sekuat tenaga.
Nana pun merengut, “Aku pulang saja. Hari ini ada jadwal kontrol dan aku yakin kamu tidak akan mau mengantarku.” Berdiri dan bersiap pergi.
__ADS_1
“Bukan tidak mau, banyak pekerjaan di sini, jangan egois. Kamu lebih tahu seperti apa pekerjaanku, jadi jangan banyak permintaan, apa lagi setelah menikah nanti.” Cahyo membiarkan Nana berjalan menjauh, masih banyak yang menumpuk dan harus diselesaikan selain merayu Nana saja, dan Surya yang masuk begitu Nana pergi seolah membenarkan semuanya, “Ada perubahan jadwal?”
Surya mengangguk, “Ya, rapat jam satu diundur besok pagi dan ini harus ditanda tangani sekarang.” Meletakkan dokumen di meja dan duduk sambil menoleh ke arah pintu, “Biasa akan banyak drama saat ada Nana di sini?”
Cahyo terkekeh, sindiran macam apa itu? Aneh sekali. “Aku bisa menangani Nana dengan baik, Sur.” Menutup dokumen dan memberikannya ke Surya, “Kalau begitu aku ke luar, ya? Kalau ada yang mencariku, telepon saja, aku akan cepat kembali.”
Surya mengangguk dan berdiri, “Kamu bosnya, kan?”
“Tentu saja, siapa lagi? Hahahaha.” Cahyo mengambil ponselnya dan ke luar mengekor Surya, meski tujuan ke duanya berbeda, dia harus bertemu dengan Yuni sekarang. Siapa tahu setelah bicara empat mata dengan Yuni, pernikahannya dengan Nana akan berjalan baik, tidak perlu perceraian, dan itu akan sangat menguntungkan.
Cahyo mengajak sopir ke toko bunga, tapi tidak juga menemukan Yuni, dan dia segera ke apartemen. “Ke mana dia?” Mengeluarkan ponsel saat apartemen Yuni kosong, segera menelepon Yuni karena dia harus bicara sekarang juga, “Di mana? Aku ingin bertemu denganmu.”
Yuni tersenyum, “Aku di pantai, Mas.”
“Pantai? Ada Hendra di sana.” Cahyo tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
“Ya, aku di pantai dengan Hendra. Ke sini saja, Mas. Aku tunggu.” Yuni segera memutus sambungan telepon itu.
Cahyo membuang napas kasar, berani sekali Yuni bersama Hendra, padahal Yuni tahu kalau Hendra kemarin mengajarnya. Cahyo pun melangkah lebar dan segera masuk lift, dia ingin tahu apa yang dilakukan Yuni di pantai, apa lagi dengan Hendra, “Cepat, Pak!” Tak sabar untuk bertemu dengan Yuni-nya.
__ADS_1