
Nana tertawa riang, dia baru saja menyelesaikan pembayaran gedung dan jasa katering sesuai dengan keinginannya, beruntung sekali ‘kan punya suami Cahyo? “Sayang, besok jadwal periksa bayi kita, kamu bisa ikut? Tidak sampai tiga jam.” Nana terus menggandeng tangan kekasihnya itu.
Cahyo mengangguk, “Boleh. Tidak terlalu banyak rapat besok, jam berapa?”
“Sekitar jam sebelas, aku membuat janji jam itu agar kita bisa makan siang, gimana?” Nana ingin perhatian lebih banyak lagi dari Cahyo.
“Oke. Aku akan mengantarmu pulang, kamu harus banyak istirahat karena aku mau yang terbaik untuk anak kit.” Cahyo memeluk Nana, mengecup kening itu juga, dan segera masuk mobil. Dia benar-benar mengantar Nana ke apartemen dan langsung kembali ke kantor. Ke ruang kerja Surya dan duduk di kursi yang kemarin juga. Tidak ada teman bicara selain Surya.
“Dari mana? Mr tadi telepon, katanya emailnya belum kamu balas, apa di pantai semua berjalan lancar?” Surya bertanya sambil mengecek pekerjaannya. Dia karyawan, berbeda dengan Cahyo, mana bisa santai-santai.
“Ya, aku sudah menyelesaikan semua tugasku. Aku dan Nana ke luar tadi dan kita akan menikah tanggal tiga puluh nanti.” Cahyo berdiri, sepertinya dia harus kembali ke ruangannya untuk melihat apakah ada email dari Mr.
“Kalian akan menikah? Kamu menyerah?” Surya heran, bukankah kemarin Cahyo bilang tak mau menikahi Nana, kenapa malah begini?
__ADS_1
Cahyo mengangkat ke dua bahunya bersamaan, jalan yang dia inginkan tak mudah, dan dia juga tak tahu harus minta tolong ke siapa.
Yuni... terus memikirkan ucapan mama Cahyo, dia harus mencari bukti untuk membongkar semua, tapi ke mana? Yuni butuh sesuatu yang segar dan dia segera ke kantor untuk menemui Cahyo. Datang begitu saja tanpa mengabari dan langsung masuk ruang kerja Cahyo, “Mas, sudah makan?”
Cahyo terkejut, “Kenapa tidak menelepon dulu? Aku bisa menjemputmu ke sini.” Cahyo membuka ke dua tangannya, menunggu pelukan dari Yuni, tapi ternyata nihil.
Yuni tersenyum, “Kamu kan sibuk, Mas? Mana tega aku memintamu menjemputku hanya untuk ke sini. Hm... aku... ingin sesuatu, Mas. Aku... ingin bisa menyetir.” Yuni mengatakannya dengan gugup.
“Iya, memang Mas selalu ada, tapi kalau aku ingin memberi Mas kejutan, pasti tidak akan berhasil kalau dengan sopir. Aku juga ingin seperti wanita lain yang memberi kejutan untuk suaminya.” Yuni menunduk, rayuannya terdengar hina, dan Yuni merasa malu.
Cahyo terkekeh, “Okey, kamu pasti bisa menyetir dua minggu lagi.”
__ADS_1
“Mas?!” Yuni langsung mendongak, melihat suaminya mengangguk, Yuni segera memeluk Cahyo, “Terima kasih, Mas.”
Malamnya... Cahyo jadi gelisah. Yuni baru saja tidur dan dia malah ke luar. Ruang kerja yang lampunya masih menyala, Cahyo pun ke sana, menemukan papanya yang sibuk dengan laptop. “Kulihat akhir-akhir ini Papa sangat sibuk.” Cahyo tersenyum dan duduk di depan papanya.
Mencebikkan bibirnya, “Ada sesuatu yang harus kuurus, kamu tahu, kan? Golf akhir-akhir ini menjanjikan, sepertinya akan menguntungkan jika kita punya lapangan sendiri, tanah di dekat danau itu sebuah pemandangan yang indah, kan?” Barulah papa Cahyo terkekeh setelahnya.
Cahyo ikut tertawa, “Pa, aku tanggal tiga puluh akan menikah dan aku tak tahu bagaimana harus menghindari semua ini.”
Papa Cahyo malah tertawa, “Menghindar? Kamu ingin menghindar? Bukankah semua ini keinginanmu? Ah!” Menggeleng, “Katakan, apa kamu mulai menyukai Yuni? Kamu mencintai wanita pilihan papamu itu? Bodoh kamu.”
Cahyo mengangguk, “Ya, Pa. Anakmu ini memang bodoh, bantu dia, tidak akan jalan yang bisa kulewati.
__ADS_1
Papa Cahyo terkekeh lagi, “Lalu siapa yang akan kau bunuh, huh?! Nana atau anakmu?”