Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Kesempatan untukku


__ADS_3

Cahyo menoleh, melihat Yuni hingga perempuan itu tak terlihat lagi, dia sangat paham dengan apa yang dirasakan Yuni saat ini.


 


Mama Cahyo berdiri dan mendekati putranya, ‘Plak!’ Tamparan itu tak akan meninggalkan bekas, tak juga sakit atau panas, tapi dia tetap melakukannya agar putranya sadar. Cukup sulit, bahkan dia sendiri tak yakin kalau Cahyo mengerti, tapi setidaknya dia sudah mencoba. “Selama ini aku mempercayaimu. Apa yang kamu harapkan dari wanita murahan seperti dia, huh?! Sudah berapa kali mama bilang, jauhi ****** itu! Tak hanya sekali aku melihatnya bersama pria lain dan sekarang kau malah membawanya ke mari?!” Mengangkat tangannya, siap untuk menampar Cahyo lagi, tapi suaminya malah menahan tubuhnya.


 


“Duduklah! Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah.” Papa Cahyo menarik, menekan bahu istrinya agar segera duduk, solusi akan didapat dengan kepala dingin.


 


“Putramu sangat keterlaluan.” Mama Cahyo berdesis sambil membuang muka.


 


Papa Cahyo duduk, membuang napas kasar, dan memperhatikan putranya. Dia tak ingin bertanya, putranya sudah besar, harusnya tahu akibat dari perbuatan yang sekecil apa pun.


 


Cahyo menggeleng, “Aku tidak tahu ini akan terjadi, Pa, Ma.”


 


“Bagaimana mungkin?! Kamu tidur dengannya, semua orang akan hamil kalau sering tidur bersama, dan kau bilang tak tahu kalau ini akan terjadi?! Berengsek!” Mama Cahyo lebih berapi-api menghadapi putranya sendiri. Meski suaminya mengusap untuk menenangkannya, percuma!


 


“Pernikahan itu tidak bisa dihindari,” ucap Cahyo.


 


“Semua karena kebodohanmu.” Mama Cahyo tak gentar terus menggertak putranya.


 


“Bisakah kamu diam?! Semua masalah tidak akan selesai kalau kita tak mencari jalan keluarnya! Semua semudah terjadi, dinginkan kepalamu, atau semua akan semakin sulit.” Papa Cahyo menoleh ke putranya lagi setelah membentak istrinya, “Kamu harus tahu, Cahyo. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menceraikan Yuni, biarkan saja pernikahan itu terjadi, tapi aku tidak akan pernah mengakuinya, dan salahku sudah atas nama Yuni sekarang.”


 


“Apa?!” Cahyo sangat terkejut dengan ucapan papanya, sahamnya hanya dua puluh persen dan papanya tiga puluh persen, akan jadi apa kalau Yuni pergi?


 


“Ya, aku melakukannya karena tahu hal semacam ini pasti terjadi. Menikahlah, besok atau lusa terserah padamu, tapi tinggallah di tempat lain karena aku tidak menerima Nana di sini.” Papa Cahyo akan tegas mengenai hal itu.


 


Mama Cahyo tersenyum, suaminya masih hebat juga ternyata, “Tunggu! Apa dia memang anakmu? Kamu percaya dengan Nana? Itu bisa saja terjadi, kan?”


 


Cahyo tak berani menjawab, dia juga tak berani menebak, biar semua berjalan apa adanya dulu.


 


Papa Cahyo menarik napas panjang dan dalam, “Kurasa pembahasan ini sudah selesai, anak siapa yang ada dalam perut Nana, uruslah sendiri. Aku hanya ingin kamu tahu kalau kami memihak ke Yuni.” Berdiri dan meninggalkan ruang keluarga itu.


 


Mama Cahyo ikut berdiri, tapi tak pergi, dia mendekati putranya, “Kamu sangat menyakitinya, putranya yang kubanggakan sangat jahat, bagaimana kamu akan menebus dosamu?” Menggeleng, baru setelahnya dia pergi ke tempat yang sama dengan yang dituju suaminya, berada di ruangan ini terlalu lama membuat kepalanya sakit.


 


Cahyo berdiri juga, dia yakin Yuni di kamar, mungkin sedang menangis, dan dia harus minta maaf soal ini. Betapa mengejutkan? Baru saja membuka pintu, Yuni malah berdiri di depannya dengan koper di tangan, “Kau mau ke mana?”


 


Yuni tersenyum kecut, “Aku mau pulang, Mas. Cepatlah nikahi Nana, dia benar, jangan sampai anak itu lahir tanpa ayah. Aku wanita, Mas. Aku sangat tahu seperti apa perasaan Nana.” Yuni menarik lagi kopernya. Semakin lama dia berhadapan dengan Cahyo, makin teriris juga rasanya, lebih cepat pergi lebih baik, kan?

__ADS_1


 


Cahyo menarik koper Yuni, melemparnya ke tengah kamar, dan menatap Yuni tajam. “Tak ada seorang pun yang akan pergi dari rumah ini, termasuk denganmu juga, Yun.” Matanya memerah, mungkin emosinya sedang tinggi sekarang, dan Cahyo menahannya dengan sangat keras. Berharap tak sampai meledak.


 


Yuni terkekeh, “Kenapa, Mas? Kamu akan menikah dengan Nana, kamu sudah menang, dari awal memang ini yang kita tunggu, kan? Meski Mas tidak mengatakan Nana orangnya, aku sangat tahu kalau memang dia kekasihmu, Mas. Jaga Nana, cinta kalian, dan anak itu. Dia tidak bersalah jadi jangan korbankan dia, Mas.” Yuni sangat ingin tegar, tapi kenapa hatinya malah kesakitan. Jangan menangis sekarang atau harga dirinya akan jatuh.


 


Cahyo menggeleng, “Kau tidak dengar? Tak ada yang ke luar dari rumah ini.” Cahyo berbalik, mengambil koper itu dan membuka resletingnya, mengeluarkan semua yang ada di dalam hingga berserakan memenuhi lantai kamar.


 


Yuni menarik tangan Cahyo, “Jangan, Mas! Jangan!!” Terus menarik tangan Cahyo agar pekerjaannya tadi tak sia-sia, “Kenapa kamu sangat egois? Bukankah sudah ada Nana di sini? Kalian akan menikah, punya anak dan hidup bahagia, jadi lepaskan aku, Mas. Lepaskan aku! Aku sudah lelah berada di sini ....” Tangan Yuni melemas begitu saja, dia terduduk di lantai, menangis, meraung, apa yang ingin dia katakan seolah tahu kalau Cahyo tak akan pe4nah mendengarkannya, jadi buat apa?


 


Cahyo berhenti mengeluarkan semua baju itu, tangis Yuni terlalu kencang hingga menusuk gendang telinganya, dan itu pula yang membuatnya ikut duduk di lantai. Cahyo menatap Yuni, tangis itu sangat pilu dan semua karenanya, bukankah selama ini dia sudah sering melihat Yuni menangis? Tapi kenapa berbeda kali ini?


 


Cahyo menarik tubuh Yuni, memeluknya erat, dia pun juga kesakitan tapi tak mungkin dia mengatakannya ke Yuni alasannya sangat tak tepat, bukan? “Maafkan aku, Yun.” Cahyo lebih mengeratkan pelukan itu, mengecup juga puncak kepala Yuni, ingin wanita yang dia rengkuh segera berhenti menangis.


 


Yuni tetap meraung, telinganya berdengung dan tubuhnya sangat lelah, andai dia bisa berhenti sampai di sini saja.


 


Cahyo tak tahu sudah berapa lama dia memeluk Yuni, tubuh itu sudah tak bergetar lagi, dan Cahyo mengurai pelukannya. Pipi itu sangat basah dan Cahyo segera menyekanya, “Apa... kamu tak ingin menamparku? Mama sudah melakukannya tadi.”


 


Yuni menggeleng.


 


 


Yuni tak menjawabnya, hanya menatap Cahyo tajam, apa sebenarnya yang dipikirkan Cahyo saat ini?


 


Cahyo membantu Yuni berdiri, menyuruhnya duduk di ranjang, dan merapikan rambut Yuni. “Istirahatlah. Aku... tak akan membiarkanmu pergi dari sini.” Baru saja Yuni akan membuka mulutnya dan Cahyo malah menutupi bibir itu dengan jempolnya, “Aku memang egois, Yun. Aku tak peduli denganmu dan karena itu aku tak akan membiarkanmu pergi.” Cahyo menatap Yuni lekat hingga beberapa detik dan dia berlalu setelah tahu tak ada lagi yang perlu dibahas dengan Yuni.


 


‘Bruk!’ Yuni menjatuhkan diri ke ranjang, menangis sambil memukuli dadanya sendiri, sesak sekali di dalam sana.


 


***


 


Esoknya... Nana tersenyum lebar, dia duduk di restoran menunggu mama Cahyo datang, mungkin setelah ini harinya akan sibuk dengan persiapan pernikahan. Melihat calon mertuanya berjalan mendekat, Nana berdiri, dia ingin memeluk, tapi urung saat tangan yang memakai cincin berlian itu menahannya.


 


“Duduklah, tak usah memelukku karena aku tak suka denganmu.” Mama Cahyo segera duduk, mengangkat tangan untuk memesan minuman, dan menatap Nana setelahnya. Tak ada yang dia bicarakan selain diam, setelah pelayan mengantarkan minuman untuknya, barulah mama Cahyo menyeruput teh herbal itu dan tersenyum ke Nana.


 


Nana merapikan rambutnya, “Mama, membuatku takut.”


 


Mama Cahyo malah tertawa, “Pertama, jangan memanggilku mama, ke dua katakan pesta seperti apa yang kamu inginkan, dan yang ke tiga tanda tangani ini.” Menyodorkan sebuah map ke Nana.

__ADS_1


 


Nana mengambilnya, membaca apa yang tertulis di sana, dan tersenyum ke mama Cahyo. Mertuanya itu tak sepolos yang dia kira, “Aku tidak tahu apa yang membuatmu membenciku, Nyonya.”


 


“Hahahahaha. Aku suka panggilan itu.” Mama Cahyo kembali menyeruput tehnya, “Lanjutkan!”


 


Nana menelan ludah, dia harus hati-hati atau akan kehilangan semuanya, “Dulu saat aku dan Cahyo dekat, anak adalah alasan yang paling utama, dan sekarang setelah aku hamil, kenapa harus ada perjanjian konyol semacam ini?” Map itu berisi semua haknya, meski tampak menggiurkan, tanpa status yang jelas di depan hukum, apa yang akan dia dan anaknya dapatkan kelak?


 


Mama Cahyo tertawa lagi, “Akhir-akhir ini perekonomian kita sangat bagus, banyak penduduk desa yang menyekolahkan anaknya sampai kuliah, dan karena itu pula bisnis kos-kosan sangat menguntungkan. Kamu tidak menginginkannya? Lagi pula saham suamiku sudah pindah tangan atas nama Yuni, apa yang kamu cari, huh?! Lima persen.” Mama Cahyo mencebikkan bibirnya, “Kamu memilih itu dan melewatkan semua ini? Bodoh sekali.” Mama Cahyo tertawa kembali.


 


Nana ikut tertawa, “Apa Anda ingin menjebakku? Cahyo tak mungkin hanya memiliki lima persen saham saja. Jangan lupa kalau aku dulu sekretaris di sana meski sudah mengundurkan diri beberapa hari yang lalu karena kehamilan ini, Nyonya.”


 


Mama Cahyo mengambil tehnya dengan anggun, meneguknya lagi, lalu berdiri, “Yah! Hanya kamu yang boleh memilih di sini, Nana. Aku tidak berhak mempengaruhimu.” Mengambil map di depan Nana bersamaan dengan tas tangannya juga, “Aku hanya tak ingin kamu menyesal. Jadilah perempuan yang pandai dan cerdas.” Berbalik dan pergi. Tak ada gunanya membuang waktu di tempat ini.


 


Nana ikut berdiri, “Tunggu!”


 


Yuni... membuang napasnya beberapa kali, dia tak mungkin terus seperti ini, akan jadi apa dirinya nanti? Segera membersihkan diri dan ke luar, rumah besar ini sangat sepi, mungkin semua orang sibuk, Yuni terus ke luar untuk mencari sopir agar mengantarnya ke toko bunga. Baru saja tiba, Hendra datang dengan motor sport itu, dan yang bisa dilakukan Yuni hanya tersenyum.


 


“Ck!” Hendra turun setelah melepas helmnya, “Kamu masih bisa tersenyum?”


 


“Memangnya kenapa? Aku harus berlari saat melihatmu?” Yuni malah tertawa sekarang.


 


Hendra menghela napas panjang, “Seluruh kantor gempar dengan berita kehamilan Nana dan kamu masih bisa tersenyum di sini? Kamu tidak waras?”


 


“Ahhh... beritanya sudah menyebar sampai ke sana ternyata.” Yuni berjalan masuk ke ruang tengah, banyak pembeli, dan Yuni tak ingin percakapannya mengganggu pekerjanya. “Aku juga tahu tentang itu, lagi pula mas Cahyo dan Nana sudah dekat sejak lama, kehamilan bisa jasa terjadi kapan pun, kan?” Yuni mendekat ke kulkas dan membukanya, “Kau mau minum apa, Hen?”


 


“Ambilkan apa pun, aku akan menerimanya, Yun.” Hendra sedang tak ingin memilih saat ini.


 


Yuni terkekeh, mengulurkan minuman bersoda ke Hendra, dan duduk bersama meski agak berjauhan.


 


“Lalu bagaimana denganmu?” Hendra sangat kawatir, apa lagi mata itu bengkak, Yuni terlihat buruk saat ini.


 


Yuni menggeleng, “Aku belum memikirkannya.”


 


Hendra tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Yuni, “Apa itu berarti masih ada kesempatan untukku?”


__ADS_1


__ADS_2