Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Memikirkan langkah


__ADS_3

‘Bruak!’ Entah gendang telinga siapa yang akan pecah, Yuni tak peduli saat membuka paksa dan menutup keras juga, ditambah dengan melihat Mr di balik meja kerja itu, semakin muak saja. “Undangan pernikahan digital antara Mr yang terhormat dan nyonya Yuni, sejak kapan? Bahkan aku tak pernah menyetujui apa pun denganmu.” Meski kemarahannya membumbung, Yuni tetap duduk untuk anak yang dikandungnya, “Ah! Tentang perceraian, aku tidak menyangka kalau dikirim dengan cepat. Apa lagi yang harus kutahu, Mr?”


 


Malah tertawa. Mr menyimpan pekerjaannya, “Terlalu banyak di luar membuatmu tercemar dan aku tidak suka.” Berdiri untuk mendekati Yuni, “Ingat, kalau untuk memberimu gizi begitu mudah, bisa saja meracuni anakmu dan membutanya lahir lebih cepat juga sama gampangnya bagiku, apa kau menginginkannya sekarang?” Menunduk, dia ingin mencium pipi Yuni, tapi pemilik wajah itu malah menoleh dan menatapnya. Mr pun tersenyum lebar.


 


“Apa yang kamu inginkan? Kurasa bukan uang jawabannya. Apa kehancuran mas Cahyo?” Yuni pernah dengar kalau di dunia ini dia tak bisa percaya dengan siapa pun, entah salah atau benar Mr ingin memperalatnya demi Cahyo, meski Yuni tak juga mau kembali, setidaknya dia juga tak ingin Cahyo hancur.


 


“Mas Cahyo?” ulang Mr, “Aku mendengar nama itu setelah sekian lama? Apa cintamu tumbuh kembali setelah pertemuanmu beberapa hari lalu? Hahahaha.” Mr tak kuasa menahan tawa, “Begitu mudah sebuah hati berpindah, apa kau tak ingin tertawa, Nona Yuni?” Masih melanjutkan tawanya yang membahana memenuhi ruang kerja pribadi di vila besar ini.


 


“Aku sedang tak membicarakan hati, Mr. Aku sudah bilang kalau kau bisa menghitung semua pengeluaranku selama di sini, aku akan menggantinya, dan aku akan pergi. Tenang saja, aku tidak akan kembali ke mas Cahyo, tapi aku juga tak ingin ikut denganmu. Semua pria sama saja, aku bisa hidup sendiri, jangan mengkhawatirkanku.” Yuni sudah memutuskan tak akan memilih siapa pun.


 


“Sepertinya kamu yang salah paham, Nona Yuni. Aku tidak mau menghitung apa pun karena kita akan menikah, dan ... namamu akan kuganti dengan Dania, jadi jangan terus mengingatkanku kalau namamu Yuni.” Mr pun berdiri dan kembali ke kursinya, “Kembalilah ke kamarmu, aku bisa melakukan apa pun pada anak itu, jadi jangan gegabah. Paham? Dania-ku?” Mr menyeringai untuk menunjukkan kemenangannya. Dia tahu Yuni sedang tak bisa berkutik.


 


Hanya menelan ludah. Benar kata Mr, dia sedang tak punya banyak pilihan, dan Yuni pun kembali ke kamarnya untuk menyusun rencana yang tepat.


 


Cahyo... Berdiri. Dia memang tak mengejar Yuni, meski begitu dia tahu kalau Yuni masih mencintainya, hanya dari suara yang bergetar tadi. Cahyo tersenyum sambil mengusap wajah.


 


“Aku tidak tahu kamu akan datang secepat ini.”


 

__ADS_1


Menoleh, Cahyo tersenyum ke dokter yang kebetulan telah dipilih juga oleh Yuni, sungguh ini bukan bagian dari rencananya. “Apa aku bisa melihat anakku? Apa dia benar anakku?” Cahyo langsung masuk begitu saja ke ruangan dokter itu.


 


“Aku tidak tahu.” Mencetak foto yang sama dengan yang diberikan ke Yuni dan memberikannya juga ke Cahyo, “Apa yang kamu tanyakan membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan Yuni pasti tahu kalau aku sedang melakukan sesuatu. Berdoalah Yuni tetap memakai jasaku, setelah anak itu lahir kamu adalah orang pertama yang tahu siapa ayah dari bayi itu.” Dokter itu mengangguk untuk memastikan ucapannya.


 


Cahyo mengusap foto itu, “Aku bisa melakukan apa pun untuk memastikanmu tetap menjadi dokter yang dipilih Yuni.” Mengeluarkan sebuah cek kemudian pergi dari tempat itu. Cahyo jadi semakin kacau, undangan digital itu minggu depan, dan anak buahnya tetap tak punya cara untuk menyusup.


 


“Papa?” Baru saja sampai kantor, papanya membutanya terkejut dengan duduk di kursi kebesarannya, sepertinya ada sesuatu yang teledor, tapi apa?


 


Papa Cahyo tersenyum, “Katakan kalau aku salah, bukankah ini orangmu? Sejak kapan?” Meletakkan foto di meja kerja Cahyo.


 


Cahyo terkekeh, “Sepertinya Papa terlalu banyak pekerjaan akhir-akhir ini.” Hanya melihat sekilas saja Cahyo sudah tahu kalau itu memang anak buahnya.


 


 


“Bagaimana jika aku yang bertanya, Pa? Apa lapangan golf Papa sudah jadi? Pembangunan ilegal dengan memalsukan perizinan. Kalau aku mau, semua kasus bisa dibuka dengan mudah, tapi bagaimana dengan semua pengunjung? Papa bahkan mengabaikan semuanya demi orang berengsek itu.” Cahyo memang baru mengetahui satu hal dan itu cukup menyakitkan. Saat itu...


 


“Aku sudah bilang, cari apa pun yang mungkin menjadi celah, itu bukan hal yang sulit, kan?” Meski hanya lewat panggilan telepon saja, Cahyo yakin bentakannya bisa saja merontokkan sendi.


 


“Maaf, Tuan Cahyo. Kita kekurangan orang, tim sudah dibagi menjadi dua, dan karena itu pergerakan kita terhambat, kita kehilangan jejak Mr.” Meski mobil terus bergerak perlahan, tetap tak menemukan apa pun di depan sana, semoga hari esok dia dan semua anak buahnya masih bisa bernapas.

__ADS_1


 


“Kau membicarakan orang di sini? Kau tidak tahu sebanyak apa aku bisa membayarmu? Bukan hanya itu, bahkan hanya untuk membawamu ke sini saat ini juga pun aku bisa, kau sudah tak membutuhkan nyawamu lagi sekarang?” Cahyo tak pernah mempermasalahkan uang selama dia masih bisa menerima foto Yuni dengan senyuman.


 


Pesuruh itu masih ingin berdebat, tapi semesta membantunya tiba-tiba, mobil yang dibuntutinya terlibat kecelakaan. “Maaf, Tuan Cahyo. Saya harus menutup telepon ini. Maafkan saya.” Dengan tidak sopan melempar ponsel itu begitu saja dan ke luar dari mobil. “Rekam semua, aku tidak mau terlewatkan apa pun, kau masih membutuhkan uang, kan?” Teman yang dari tadi duduk di bangku sebelah, mengangguk, dengan begitu dia bisa tenang untuk mendekati kecelakaan itu. “Tuan, bagaimana bisa terjadi? Anda baik-baik saja?” Membantu seperti kebanyakan orang di sini.


 


“Ya, aku tidak apa-apa, tapi ayahku.” Menyibak kerumunan dan segera mendekat.


 


Pria itu pun segera membantu, “Aku akan mengantar Anda ke rumah sakit terdekat.”


 


“Tidak, aku akan pergi dengan mobilku sendiri.” ucapnya sambil cepat pergi.


 


Pria itu kembali ke mobil, “Kau sudah mengambil gambarnya?”


 


Temannya mengangguk, “Ya, seperti ucapanmu, aku merekamnya, apa kita mengirimnya ke tuan Cahyo sekarang? Gambarnya sangat bagus dan jelas.” Seperti dengan apa yang diucapkan...


 


Itu adalah video berisi Mr tengah menolong pria yang sebaya dengan papanya dan Cahyo mengenali dengan baik.


 


Papa Cahyo terkekeh, “Ternyata kau memang anakku.” Dia tak mengira apa yang disembunyikan malah terbongkar cukup lama dan mudah oleh Cahyo.

__ADS_1


 


“Apa yang Papa inginkan? Perceraianku? Setelah itu ... apakah Yuni akan bahagia dengan pria yang menjadi pilihan Papa? Pria yang bahkan bukan anak Papa sendiri. Kalau Papa bisa menjaminnya, aku akan menceraikan Yuni sekarang juga, apa Papa bisa menjawabnya?” Cahyo lelah terus perang dingin dengan papanya. Andai memang perceraian yang sengaja diundur harus terjadi, mau bagaimana lagi?


__ADS_2