
Berdiri mendekat, memeriksa lebih teliti semua luka di wajah putranya, “Apa ini sakit?”
“A, a, a, Ma! Sakit.” Cahyo mengerutkan kening sambil meringis, mamanya memencet pelipisnya yang membiru, kasar sekali.
“Astaga! Ini nyata?” Kembali memegangi dagu Cahyo untuk melihat luka di bibir putranya dan itu memang sobek, “Bagaimana bisa seperti ini?” Jadi ikut panik melihat putranya babak belur.
Yuni yang tak mau membuang waktu, segera ke dapur untuk mencari kotak P3K, dan kembali ke ruang tengah. Dia lebih banyak diam meski sama kawatirnya, mertuanya sedang membersihkan wajah Cahyo dengan alkohol, dan itu cukup mewakili keinginannya.
Cahyo tersenyum, “Hanya salah paham, sudah biasa bagi kami adu jotos, Ma.” Menoleh ke Yuni dan melebarkan senyumnya lagi, “Jangan kawatir.” Itu adalah kalimat sakti yang ingin dia ucapkan.
“Ma, aku pulang dulu, ya? Ada pekerjaan di toko.” Yuni tersenyum saat mertuanya mengerutkan kening.
__ADS_1
Sedangkan mama Cahyo tak mungkin menahan Yuni terlalu lama. Dia pun mengangguk dan mengobati Cahyo lagi.
Cahyo diam, heran kenapa reaksi Yuni hanya seperti itu saja, harusnya lebih heboh dari mamanya, kan? Cahyo yakin Yuni tak mungkin membenarkan perbuatan Hendra, tapi kenapa tak adab umpan balik? Dia pun menghela napas, “Akh! Sakit, Ma!” Bernada tinggi karena sekali lagi mamanya memencet bibirnya yang robek.
“Kenapa melamun? Berharap Yuni yang merawatmu?” Mama Cahyo sedikit kesal dengan putranya ini. Saat Cahyo baru saja terkekeh, “Bagaimana? Kamu jadi menikah dengan wanita gatal itu? Kapan? Kamu tidak memberi tahu mama.”
“O... jadi nikah juga?” Tertawa, berani juga Nana menerima pernikahan ini, “Mama gak nyangka kalau seleramu tidak berubah, masih saja rendah, padahal Yuni jauh lebih berkualitas dari Nana. Sudah.” Baru saja mama Cahyo menyelesaikan pemberian salep ke wajah putranya yang memar.
Cahyo malah terkekeh, “Ma, bukannya aku sama Nana sudah kenal lama, bahkan jauh dari Yuni yang Mama bawa ke sini, wajar kalau aku menjalin hubungan dengannya.”
__ADS_1
“Mama sudah bilang sama kamu, mama sering lihat Nana ke luar dengan pria lain, dan apa hal semacam itu pantas? Di mana otakmu, Cahyo?” Jengkel juga dengan putranya.
“Ma, Nana itu sekretarisku, wajar dia bertemu dengan pria lain, itu klien di kantor kita, Ma. Aku bisa membatalkan pernikahanku dengan Nana asal Mama membawa Yuni pulang.” Cahyo akan mencoba menggertak mamanya.
Mama Cahyo malah tertawa, dia menyandarkan punggung, dan melipat tangan, “Mama dan papa ini sudah dewasa, bahkan sudah tua, bagi mama seasin apa sebuah minuman, mama pernah mencicipinya. Menikah saja dengan Nana dan aku akan mencarikan suami baru untuk Yuni. Wanita secantik Yuni tidak akan menyesal kehilangan pria sepertimu, Cahyo.” Tidak menyangka kalau putranya ternyata bisa licik.
“Mama tidak akan mendapatkan apa pun.” Cahyo tersenyum.
“Mama masih punya Yuni. Cinta yang murni akan bahagia melihat orang yang kita cintai tersenyum, Cahyo. Saat Yuni menangis karena tangan kasarmu, mama juga menangis, dan kamu menganggap semua biasa saja? Pikirkan, apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi Yuni? Pergi atau memilih kembali dengan orang yang melukaimu?” Mama Cahyo tersenyum juga, bahkan tak kalah manis, hanya untuk membalik sebuah ucapan tak sulit sedikit pun.
__ADS_1
Cahyo menelan ludah, “Aku ke kamar dulu, Ma.” Baru kali ini dia kalah telak.