
Cahyo menggeliat untuk meregangkan otot tubuhnya. Rapat baru saja selesai, untung dia bisa datang tepat waktu, meski tidak sempat bicara lebih dulu dengan Surya, hasil rapat hari ini memuaskan.
“Bagaimana dengan bagan yang kukirim semalam?” Surya mendekat setelah mengemas semua peralatannya sendiri.
“Bagus. Setelah Yuni sembuh aku akan mengajaknya ke sana lagi.” Cahyo kembali membuka ponsel, melihat bagan dan beberapa desain, dia akan memilih yang paling indah.
“Yuni sembuh? Dia sakit karena pisau itu?” Surya pikir semua baik-baik saja.
Cahyo menggeleng, “Kau tidak akan percaya.” Cahyo melirih Surya, ada kerutan di keningnya, Cahyo terkekeh, “Yuni kurendam di kamar mandi semalaman. Aku lupa dan dia demam sekarang.”
“Kau gila? Dia itu istrimu, Cahyo.” Surya menggeleng, tak paham dengan jalan pikiran temannya.
Cahyo malah tertawa, “Lupakan saja. Apa Nana sudah memberi kabar? Kenapa mereka terlambat? Biasanya langsung mengabari.”
“Aku tidak tahu. Kau ingin aku menelepon Nana?” Cahyo yang mengangguk, Surya pun segera menelepon Nana, “Mungkin dia makan siang kalau tidak rapat, jadi kalau tidak diangkat jangan protes karena aku yang meneleponnya, bukan kamu.” Seperti yang dikatakannya barusan, dering lumayan panjang terdengar dari seberang sana, dan Surya hanya mencoba tiga kali. Menggeleng, dia menyerah untuk menelepon Nana, “Kupikir kamu harus menelepon Nana sendiri.” Surya memasukkan ponselnya.
Cahyo tertawa lagi, “Biar saja. Kita makan siang dulu. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu, kan? Aku tidak ingin ....” Bukan Cahyo yang tak ingin melanjutkan ucapannya, hanya saja bersin yang datang tiba-tiba dan sering, Cahyo diam memastikan hidungnya tidak gatal lagi.
__ADS_1
“Yuni berendam sendiri atau denganmu juga? Pergilah ke dokter, banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Cahyo.” Meski Cahyo atasannya, Surya tak ingin Cahyo tumbang karena banyak proyek yang mengantre untuk dikerjakan.
“Aku baik-baik saja. Kita makan dulu. Setelah ini ada rapat jam dua, kan? Aku tidak mau rapat dengan perut lapar.” Cahyo berdiri lebih dulu dan pergi. Dia ingin Surya cepat mengikutinya mencari makan siang.
Nana... tersenyum puas. Tebak! Dia berada di atas Hendra saat ini. Baru saja mendapatkan semburan pertamanya dan sangat bahagia melihat Hendra terkelepai di bawahnya. “Aku baru tahu, Hen. Kamu sangat hebat memanjakan milikku.” Nana menunduk untuk memberi ******* kecil di bibir Hendra.
Hendra yang masih mengatur napas, hanya terkekeh, biar saja kalau Nana tak ingin turun dari sana.
“Apa kita akan melakukannya lagi?” Nana mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.
“Cahyo? Marah padaku?” Nana menggeleng, “Itu tidak mungkin, Hen. Aku lebih suka dengan milikmu dari pada harus datang lebih awal ke pertemuan.” Nana terus menggerakkan pinggulnya, bahkan sedikit lebih cepat tempo yang dia mainkan.
“Kita istirahat dulu, Na.” Hendra menaikkan pinggul Nana, membuat senjatanya yang sudah setengah menyusut, terlepas dari liang hangat itu, “Setelah pertemuan, kita akan bermain lagi. Mandi dan menyiapkan diri, okey? Apa kamu tidak akan hamil? Aku belum siap kalau kamu mengajakku menikah.” Hendra berdiri, dia mencari handuk, tak mungkin kepergiannya ke sini hanya untuk memuaskan Nana saja.
Nana terkekeh, “Hamil? Itu tidak mungkin, Hen. Jangan mengkhawatirkanku. Bahkan meski kau mengajakku di kantor pun, aku akan dengan senang hati melayanimu, apa kamu takut dengan Cahyo?”
__ADS_1
Hendra menggeleng, “Tidak, tapi jangan hanya karena kenikmatan ini kita mengabaikan tujuan kita. Aku mandi dulu. Cepatlah mandi juga.” Hendra masuk kamar mandi. Dia butuh berendam juga karena Nana terus mengajaknya bertempur sejak kemarin. Senang senjatanya ada yang memanjakan, mengulum, memuaskan, meski Hendra mempunyai alasan saat menerima ajakan Nana.
Nana hanya tertawa, miliknya masih basah oleh milik Hendra, dia tak berniat membersihkan diri, lebih baik melihat ponselnya yang berdering beberapa kali. “Surya?” Nana mengerutkan kening, tak biasa Surya yang menelepon, biasanya Cahyo, Nana pun segera balik telepon Surya, “Ada apa? Mana Cahyo? Kenapa kamu yang meneleponku, bukan Cahyo? Dia tidak di kantor?”
Surya terkekeh, “Dia pemilik perusahaan dan aku juga kamu adalah karyawannya, jadi sudah sepantasnya aku meneleponmu untuk diberi tahukan padanya tentang perkembangan proyek yang kamu tangani. Lagi pula suaramu bergetar, kau baru *****?” Untung saja Cahyo belum ke luar, dia memang menunggu di lobi tadi, dan Nana malah meneleponnya.
Nana tertawa kecil, “Karyawannya? Itu kamu, Sur. Bukan aku. Katakan, kenapa meneleponku? Kau sangat mengganggu.” Nana bangun, dia berdiri dengan telanjang di depan cermin besar. Melihat bodinya sendiri yang seksi adalah sebuah kepuasan baginya.
“Bagaimana dengan proyeknya? Ada kendala? Butuh bantuan orang atau aku sendiri yang harus ke sana? Sejak kemarin kamu belum mengabari apa pun padaku.” Surya sangat profesional saat bekerja.
Nana menggeleng meski itu hanya panggilan suara, “Tidak, semua berjalan lancar, aku yakin akan membawa kabar baik besok atau nanti sore.”
Hendra yang mendengar Nana bicara, tandanya Nana sedang menelepon seseorang, segera ke luar meski belum mandi dengan benar. Tersenyum sambil terus mendekati Nana, memeluk Nana dari belakang sambil meremas bokong Nana, “Kau sangat seksi, Sayang. Aku ingin melakukannya lagi.” Mengatakan semua itu tepat di samping telepon Nana.
Nana mendorong Hendra agar menjauh dulu.
__ADS_1
Surya mendengar dengan jelas, dia pun menelan ludah, “Aku mengganggu aktivitasmu ternyata.”