
Di sinilah Cahyo sekarang. Meski menjauh agar tak ketahuan, tapi dia setia menunggu lahirnya bayi yang ibunya sedang dioperasi. Tak ada rasa kawatir, dia hanya duduk sambil memeriksa ponsel, kalau-kalau ada email atau pesan yang membahas perihal pekerjaan. Saat temannya masuk dengan wajah ceria, Cahyo mengerutkan keningnya, “Bagaimana?”
Dokter muda itu terkekeh, “Ya, itu memang anak Anton. Positif dan sembilan puluh tujuh persen cocok."
Cahyo tertawa puas, dia memang menunggu Nana melahirkan, dan hasil tes DNA barusan begitu menggembirakan. “Apa yang harus kuberikan padamu?” Cahyo tak akan menawar.
Dokter itu berpikir sejenak, “Mungkin mobil?”
“Kenapa tidak? Aku akan mengirimnya besok.” Cahyo mengulurkan tangan untuk bersalaman dan memeluk singkat dokter itu, “Aku pulang dulu. Tunggu saja hadiah dariku, ya?” Cahyo segera mengajak sopir pulang. Dia sangat berbahagia dan ingin memamerkannya ke semua orang. Baru kali ini dia senang karena mandul yang dideritanya, tapi semua hanya sekilas karena Cahyo kembali memikirkan Yuni, anak siapa itu?
***
Hari berganti. Cahyo bersiap untuk peresmian pantai. Dia sudah mengenakan dasi yang senada yang terlihat indah menurutnya, tapi apa semua ini sudah pas? Cahyo melepasnya lagi dan tak lama pintu kamar terbuka menampilkan mamanya yang melempari senyum, “Ma.”
Mama Cahyo menggeleng, “Ada apa? Sangat berantakan.” Mengambili beberapa dasi di keranjang dan juga meja, lalu menggantungnya lagi ke tempat semula.
“Ada acara, tapi tak ada yang cocok dengan kemejaku, apa aku ganti saja?” Cahyo bersiap melepas lagi kemejanya.
Mama Cahyo menahan tangan putranya, “Pakai ini saja.” Merapikan dasi itu dan mengusap dada putranya, “Ini pas untukmu.”
“Terima kasih, Ma.” Memeluk mamanya dan pergi, “Aku sarapan di luar saja, sudah janjian dengan Surya!” Berteriak agar mamanya mendengar.
Mama Cahyo menggeleng sambil terkekeh, dia tahu kalau jadwal Cahyo ke pantai saat itu, dan itu berarti Yuni ada di sana. Semoga putranya bisa membawa menantunya pulang kembali.
Cahyo ke kantor, dia langsung menemui Surya, “Ayo!”
Surya pun menunjukkan tabnya, “Banyak pekerjaan, Tuan Cahyo. Apa kau gila mengajakku ke sana? Lalau buat apa kita kemarin menarik Lani?”
__ADS_1
Cahyo memutar mata malas, “Coba kulihat.” Mengambil tab Surya, menggulir, dan mengembalikannya, “Di mana Lani?” Tahu kalau nyatanya memang Surya tidak bisa menemaninya ke pantai.
“Katanya dia akan berangkat sendiri. Jangan terlambat, aku sarapan dengan Yuni, dan dia langsung ke pantai dengan Ratih.” Surya menegaskan kalau Yuni masih di tempatnya.
“Mr?” Cahyo hanya ingin tahu apakah Mr juga menginap di sana.
Surya menggeleng, “Ratih tidak menyukai Mr, entah bagaimana, Yuni mengajak Ratih ke pantai, mungkin Mr ke luar kota.”
“Lalu siapa wakilnya? Nana melahirkan, Anton pasti tidak di pantai, kan?” Cahyo sangat yakin akan hal itu.
Surya mengangguk, “Aku tidak bisa menjawabnya, tapi lebih baik kamu berangkat, kalau terlambat dan nyatanya Mr di sana, bagaimana?”
“Kau benar.” Cahyo pun segera balik kanan dan menuju pantai saat itu juga. Suasana sudah ramai, Hendra yang selama ini memegang tempat itu, menyiapkan semua dengan baik. Yuni sudah di sana dengan Ratih dan Hendra saat dia datang, tapi Cahyo tak lagi cemburu dengan Hendra, tahu kalau Hendra sudah menikah dengan salah satu karyawannya. Saat Hendra menoleh dan menunduk hormat padanya, Cahyo pun tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menyalami siapa pun, termasuk Yuni juga, “Mr?”
Yuni menggeleng, “Mr sedang ada urusan di luar kota, jadi aku yang mewakilinya, apa kita mulai sekarang?”
Yuni pun duduk semeja dengan Ratih, membiarkan pembawa acara melakukan tugasnya, dan dia menikmati acara ini sepenuh hati. Ada beberapa tarian daerah, sambutan dari wakil Mr dan juga perusahaan Cahyo, serta beberapa acara hiburan. Yuni suka dengan tatanan ini.
“Tuan Cahyo, maaf aku terlambat.” Lani segera duduk di sebelah Cahyo, kursi itu memang kosong, Hendra yang mengaturnya.
Cahyo menoleh dan langsung memelototkan mata, “Kau tidak punya pakaian lain?” Cahyo sangat heran, ini pantai, pasti panas, tapi Lani malah memakai gaun ketat seperti akan tinggal di kantor ber-AC saja.
Lani meringis, “Aku lupa, Tuan. Jadi aku ....” Hanya meringis dari pada melanjutkan ucapannya.
Yuni menoleh, dia mengerutkan kening, ‘Siapa itu? Masih sangat muda dan cantik, setelah gagal menikah dengan Nana karena ketahuan anak Anton, apa itu kekasih Cahyo yang baru?’ Meski hanya menanyakannya dalam hati, Yuni tetap mengawasi Cahyo, enggan berpaling.
Ratih tertawa, “Lihat anak itu, Yun. Hahahaha. Lihat dia.” Terus tertawa melihat tingkah konyol salah satu menunjuk seni, tapi Yuni tak juga meresponsnya, dan Ratih pun menoleh. Melihat Yuni memperhatikan sesuatu, Ratih merangkul Yuni, “Jangan dipikir, jaga dia, ya?” Mengusap perut Yuni yang membuncit.
__ADS_1
Yuni tersenyum dan mengangguk. Dia kembali menyaksikan acara demi acara yang ditampilkan. Meski sesekali melihat betapa akrabnya wanita itu dengan Cahyo, Yuni mulai bisa menguasai dirinya sendiri, sadar kalau semua sudah terlalu jauh.
“Tuan Cahyo, apa nanti ada acara gunting pita?” Lani bertanya sambil mendekat ke Cahyo. Di sini sangat bising dan dia kawatir Cahyo tak mendengarnya.
Cahyo mengangguk. Malas menjawab pertanyaan konyol seperti itu.
Pembawa acara pun bertepuk tangan sambil mengambil mic kembali, “Acara selanjutnya yaitu gunting pita. Kepada Tuan Cahyo dan Nyonya Yuni, kami persilakan.”
Cahyo menoleh ke Yuni sambil tersenyum.
Yuni tersenyum juga meski canggung. Gunting besar itu dipeganginya bersamaan dengan Cahyo dan dia membiarkan Cahyo yang menekan agar pita tergunting.
Setelah semua orang bertepuk tangan, Cahyo menoleh ke Yuni dan mengulurkan tangan, setelah berjabat tangan dia pun mendekati Hendra. “Acaranya sangat baik, terima kasih atas kerja samanya selama ini, proyek berjalan lancar dan sempurna di waktu yang tepat. Kembalilah besok.” Cahyo menepuk lengan Hendra beberapa kali.
“Terima kasih, Tuan Cahyo. Aku akan kembali besok.” Hendra akui kalau hubungannya dengan Cahyo semakin baik setelah pernikahannya dengan Dyah.
Lani mendekat, “Selamat, ya?” Ikut bersalaman juga dengan Hendra.
Cahyo risi melihat Lani, dia pun pamit dengan Hendra, dan sebelum pulang mendekati Yuni, “Aku... pulang dulu.” Bilang kalau ini acaranya, tapi Cahyo tak mungkin bersama Lani dengan pakaian kurang bahan itu di sini, serta lebih lama lagi. Sudah terlalu banyak mata yang memperhatikannya dari tadi.
Yuni mengangguk, “Kenapa buru-buru?”
“Surya telepon kalau ada rapat mendadak, jadi aku tidak bisa lama-lama, jaga dirimu.” Cahyo segera pergi, melihat Lani akan mendekati Yuni, dia segera mengajak pergi, “Kita pulang sekarang.”
“Tapi aku belum pamit dengan nyonya Yuni, Tuan.” Inginnya memberontak, tapi tenaga Lani kalah kuat dengan Cahyo.
“Mana kuncinya?” Cahyo mengalihkan topik. Setelah Lani memberinya kunci mobil, dia segera mengajak Lani pulang, “Lain kali, kita di kantor atau di luar, pakai baju yang lebih sopan, Lan.” Ucapnya sambil menekan pedal gas.
__ADS_1
Lani terkekeh, “Tuan Cahyo, pulang karena aku? Maaf kalau begitu.” Mau bagaimana lagi, selera Lani memang bagus mengenai fastion, apa lagi belahan dada rendah seperti ini.