
Yuni tak bisa tidur, dia sangat ingat besok hari apa, menanti keajaiban atas cintanya, tapi dari mana?
Mr yang melihat Yuni lebih banyak melamun, mendekat, “Apa ada yang mengganggu pikiran Anda, Nona Yuni?”
Menggeleng, “Aku merindukan mama, Mr. Anda belum mengantuk?” Yuni tak ingin menceritakan perasaannya.
Mr tersenyum, “Kalau memang Anda belum siap untuk acara besok, jangan dipaksa, aku ingin kesehatan Anda dan anak Anda terjamin di sini.”
Yuni segera menggeleng, “Aku harus menemani Ratih, hanya dia temanku, hm... mari kita istirahat. Aku tidak mau besok terlambat.” Yuni berdiri, meninggalkan senyumnya lebih dulu sebelum kemudian pergi ke kamarnya.
***
Semua orang sibuk, Cahyo yang dibangunkan lebih awal oleh ajudan rumah juga baru saja selesai mandi, dan tanpa sarapan segera berangkat ke gedung pernikahan untuk acara hari ini. “Papa dan mama nanti datang atau tidak?” Meski hanya sederhana, perayaan biasa saja, Cahyo tetap ingin melihat orang tuanya.
Sopir tersenyum, “Tuan Cahyo, belum tahu? Tuan dan nyonya besar sudah berangkat setengah jam yang lalu.”
Cahyo mengerutkan kening, antusias sekali, kenapa berbeda dengan semua protes yang diucap semalam? Cahyo tak lagi bertanya, dia membuka akun media sosial, dan matanya langsung membelalak saat melihat Yuni berfoto bersama Mr dan itu diunggah di akun media sosial Mr.
“Aku menemukanmu? Apa dia gila?” Cahyo terkekeh, ingin muntah dengan kalimat itu, “Dia masih istriku, yang benar saja?” Terkekeh kembali, setidaknya dia tahu kalau Yuni akan datang ke pernikahannya, dan dia akan minta maaf untuk semua kesalahannya nanti.
__ADS_1
Di ruang rias, orang tuanya tak ada, hanya Nana dengan perias yang sangat sibuk. “Carikan aku makanan, perutku lapar, aku mau makan sebelum dirias.” Cahyo duduk tak jauh dari Nana.
Melihat Cahyo dari pantulan cermin, Nana tersenyum lebar, “Aku nanti saja, meski hamil aku tidak mau mendut, ya, Sayang?” Mengusap perutnya sendiri.
Cahyo hanya tersenyum tipis. Saat petugas katering membawakan makanan, Cahyo mengisi perut, “Apa kamu melihat mama?”
“Tidak, aku senang mama datang, apa papa juga ikut?” Nana bahkan semalam tidur sini karena tak mau terlambat, tapi dia tak melihat calon mertua yang beberapa detik lagi menjadi mertua sahnya itu.
Cahyo malah heran, apa ada ruang rias lain? Namun, dia dengan cepat menggeleng, malas memikirkan hal yang akan membuatnya tak cepat kenyang. Setelah selesai, dia membiarkan perias mendandani wajah, memakaikan surjan, dan perlengkapan pernikahan ke tubuhnya.
“Tunggu!”
Semua tamu undangan dan EO pun menoleh, tak terkecuali Cahyo dan juga Nana. Namun, kali ini Nana yang begitu kaget hingga darahnya membeku seketika.
Anton yang datang dan baru saja berteriak lantang, segera menarik kerah baju pengantin Cahyo, “Wanita yang akan kau nikahi itu sedang mengandung anakku.”
‘Deg!’ Lelucon macam apa ini? Cahyo sulit mempercayai.
__ADS_1
Nana yang baru saja duduk bersiap menikah, segera berdiri, “Anton, apa yang kamu lakukan di sini?” Berusaha menarik tangan Anton agar menjauh dari keramaian.
Anton menepis tangan Nana kasar, “Aku selalu membiarkanmu main gila dengan siapa pun, tapi jangan dengan dia!” Menunjuk Cahyo tanpa menoleh, “Dia temanku apa kau tidak tahu, hah?! Carilah pria lain di luar sana yang aku tidak mengenalinya, jangan pria yang ada di sekitarku!” Baru setelahnya Anton menoleh ke Cahyo, “Itu anakku, jangan berharap untuk memilikinya, kau mandul, kan? Jadi sadarkan dirimu.”
Cahyo tak tersinggung dengan ucapan itu, dia malah senang, kenyataan menampar dan menjawabnya bersamaan, tapi dia tetap membutuhkan penjelasan. Akhirnya dia pun berdiri juga, mendekati Nana yang kini melepas tangan Anton untuk menyambutnya, “Cukup jawab saja dan aku akan memaafkanmu.”
Nana bingung, baru kali ini dia sangat ketakutan, semua harta yang didambakan di depan mata, jangan sampai dia kehilangan, “Apa kau akan membatalkan pernikahan kita?”
“Nana!” Anton begitu marah, bagaimana wanita yang dia cintai itu berani menyampakkannya, dan wanita itu juga membawa anaknya.
Cahyo tersenyum, dia memeluk Nana dan mengacungkan jari telunjuknya ke Anton, seolah meminta waktu untuk memahami situasi ini. “Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini asal kamu jujur, tapi kalau aku tahu kau berbohong, aku akan menjebloskanmu ke penjara.” Ucapnya tepat di sisi telinga Nana.
Nana mulai menangis, dia tahu Cahyo sangat mencintainya, dari dulu, dan tak akan pernah berubah. “Aku mencintaimu, Cahyo. Aku hilap saat itu, kamu sedang pergi dan aku sangat rindu, itu... itu memang anak Anton—akh!” Nana mendongak saat Cahyo menarik rambutnya yang bersanggul.
“Cahyo!” Anton berteriak melihat Cahyo menjambak Nana, beda dengan pekerjaan, ini adalah cintanya, dan Anton tak akan membiarkan siapa pun menyakiti kekasihnya. Segera berlari dan menarik pakaian Cahyo, ‘Bug! Bug! Bug!’ Beberapa pukulan tertinju ke wajah Cahyo dan Anton baru berhenti saat dipisah oleh tamu undangan, “Berengsek!” Teriaknya lagi yang masih berusaha mendekati Cahyo, tapi tak bisa karena ada banyak tangan yang menahannya.
Cahyo yang tersungkur di lantai terkekeh, mengusap bibir yang robek untuk ke sekian kalinya, “Lepaskan saja dia, dia tidak akan memukulku lagi, biar dia pulang dan membawa pacar serta bayinya itu.” Berdiri dan meninggalkan gedung yang penuh dengan tamu undangan.
__ADS_1
Di kamar pengantin, Cahyo tertawa, mungkin karena ini mama dan papanya tidak ada, padahal sudah berangkat lebih dulu. Dia pun mendongak, “Kau menghukumku sekarang, Tuhan?”