Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Benar darah


__ADS_3

“Apa itu?” Cahyo curiga dengan tas yang ukurannya begitu besar.


 


“Kita akan membutuhkannya. Ayo sarapan dulu.” Yuni berjalan lebih dulu ke ruang makan, mengambilkan telur dadar untuk Cahyo yang dipadu dengan tomat goreng, jangan lupakan jus jeruk itu juga.


 


Cahyo tak banyak bicara. Segera melahap makanannya dan menghabiskannya. Milik Yuni tinggal beberapa suap, “Aku akan membawa tas tadi ke luar. Jangan buru-buru.”


 


Yuni memenuhi mulutnya dengan makanan, mengunyah sembarang, dan segera mendorongnya dengan jus jeruk. Dia mengejar Cahyo dan segera duduk di sebelah Cahyo, “Aku siap.” Tersenyum lebar saat Cahyo menoleh.


 


Cahyo hanya menggeleng melihat tingkah Yuni, “Kalau perutmu tidak enak, bilang, aku tidak mau kamu muntah di mobil.” Mulai melajukan mobilnya. Hari ini Cahyo sengaja menyetir mobil sendiri.


 


“Muntah? Selama ini aku tidak pernah muntah di mobil. Apa kamu salah orang?” Yuni mengerucutkan bibirnya.


 


Cahyo hanya terkekeh karena yakin kalau Yuni tak akan ingat dengan kejadian semalam. Perjalanan lumayan jauh, dia memutar musik yang enak untuk didengar, dan sampailah di pantai yang dia inginkan.


 


“Itu Ratih? Apa kamu mengajaknya liburan?” Yuni tidak percaya dengan matanya sendiri.


 


“Tidak, aku tidak mengenalnya, aku akan mengajak Surya.” Cahyo memang menelepon Surya tadi, tentang Ratih biar Surya saja yang mengetahuinya.


 


Yuni bertepuk tangan, “Terima kasih, Mas. Kamu memang pria yang baik.” Yuni senang sekali, apa lagi ada Ratih juga di sini, tak salah dia membawa semua perbekalan tadi.


 


“Baik? Bukankah kamu ingin memukul kepalaku sampai hilang ingatan?” Cahyo terkekeh mengingat semua kalimat yang diucapkan Yuni.


 


“Memukul? Kapan? Mas, ngelindur.” Yuni tidak mengerti dengan semua ucapan Cahyo. Dari tadi seperti ngelantur terus.


 


“Hahahaha. Lupakan saja.” Cahyo menarik rem tangan, membuka kunci, dan mengajak Yuni turun.

__ADS_1


 


“Ratih!” Yuni berlari untuk memeluk sahabatnya, ke duanya berpelukan seperti lama tak berjumpa, padahal hampir setiap hari melakukan video call, “Bantu aku. Kita akan bersenang-senang!” Yuni menarik tangan Ratih mendekat ke mobil Cahyo. Dia ingin memamerkan perbekalan piknik yang dia siapkan tadi.


 


Cahyo mendekat ke Surya sambil terkekeh, “Dua wanita yang sikapnya kekanak-kanakan.” Tertawa lagi karena Yuni dan Ratih gotong royong membawa tas yang besar dan berat, Cahyo sudah sempat mengangkatnya tadi, karena itu pula dia tahu seperti apa beratnya.


 


Surya ikut tertawa, “Biar, mereka masih muda, tidak seperti kita.”


 


“Kita? Kamu. Aku sudah menikah.” Cahyo mengatakan dengan sombongnya.


 


“Ya, tapi aku yang lebih paham mengenai cinta. Hahahaha.” Surya yakin kalau lebih menang soal ini.


 


Cahyo mencebikkan bibirnya, “Sudahlah. Aku mengajakmu ke sini bukan untuk membahas itu.” Cahyo berjalan menjauh, dia ke pantai ini memang untuk melihat keadaan, ada kafe yang harus dia bangun di sini.


 


 


“Menurut permintaan Mr, dia ingin hal yang spesial, mewah, modern, tapi tidak meninggalkan apa yang namanya udara segar. Kalau kita lihat di sini semua terlalu kuno, aku yakin tempat ini berpotensi sangat bagus, bagaimana menurutmu?” Cahyo mengedarkan pandangan, dia menemukan tempat terindah, segera melangkah ke sana bersama Surya.


 


“Aku setuju dengan Mr, tapi mendapat tempat cukup sulit, tidak semua orang mau melepas tanah milik mereka, apa lagi kalau keuntungan hanya didapat sesaat. Apa kau punya cara?” Surya duduk di dahan pohon kelapa yang tumbang.


 


Cahyo terkekeh, “Tentu saja. Aku sengaja mengajak Yuni agar dia belajar bisnis, Nana tidak mungkin terus diandalkan, bagaimana pun juga Yuni tak mungkin terus kusembunyikan, terlebih Mr sangat suka dengan Yuni. Ya ...anggap saja aku sedang mengeksploitasinya.”


 


Surya menghela napas, “Apa rencanamu?”


 


Cahyo tersenyum sambil mengutarakan rencananya.


 


Yuni... dia baru saja selesai menggelar tikar, “Apa kita mulai membakar ikan sekarang? Kau sudah lapar, Rat?”

__ADS_1


 


Ratih mengangguk dengan cepat, “Apa lagi yang kita lakukan selain makan? Ayo kita masak sekarang!” Ratih selalu membara setiap kali membahas makanan untuk mengisi perutnya. “Apa Cahyo sering mengajakmu ke pantai? Liburan?” Ratih mulai menaruh ikan dan ayam di kompor khusus milik Yuni.


 


“Tidak. Aku malah heran karena dia mengajaku, apa lagi ada Surya, pantai ini juga sepi, biasanya kita ke tempat ramai. Berbeda dengan yang ini.” Yuni menyiapkan jagung dan kentang untuk teman ikan bakar.


 


“Mereka juga menjauh, apa mereka bekerja di sini? Kita diabaikan dan mereka tetap mengumpulkan uang?” Ratih memutar bola matanya malas.


 


Yuni malah tertawa, “Biar saja mereka bekerja, Rat. Kita masak dan makan, setelah ini kita berenang di sana, okey?” Ratih mengangguk dan itu membuat semangat Yuni berlebih. Dia segera bergabung dengan Ratih untuk membakar jagung dan kentang, makan sedikit setelah matang, dan segera berlari ke bibir pantai. Keduanya saling mengejar sambil mencipratkan air asin ke satu sama lain. Tak hanya itu, bahkan teriakan ke duanya berlomba untuk meramaikan pantai yang sepi ini.


 


“Kau dengar itu?” Surya yakin pengunjung tak banyak tadi.


 


“Ya, itu suara teriakan. Apa ada masalah?” Cahyo segera berdiri, berjalan cepat ke tempat yang tadi, ingin tahu apa yang sedang dilakukan Yuni di sana. Saat tahu Yuni dan Ratih sedang berbahagia di pantai, Cahyo membuang napas kasar sambil berkacak pinggang, “Kau tahu kenapa aku membenci mereka?”


 


Surya malah terkekeh dibuatnya, “Biar saja mereka menikmati harinya, Cahyo. Hey, apa ini?” Surya sedang mencari tempat untuk duduk tadi, tapi dia menemukan tikar dengan kotak makanan di tengah.


 


Cahyo menggeleng, “Sepertinya ini barang yang dibawa oleh Yuni. Apa aku harus bertanya dulu? Apa ini?” Cahyo mengulurkan tangan untuk membuka kotak makanan di tengah tikar.


 


“Ini ponsel Ratih. Sepertinya ini memang punya Yuni, tapi kenapa ada noda darah di sini?” Surya mengambil tisu, mengusap apa yang berwarna merah, dan memang benar itu darah setelah menciumnya.


 


“Kau bercanda?” Cahyo tak jadi membuka kotak makanan, lebih memilih mendekati Surya, melihat tisu dengan basah kemerahan yang lumayan. Bekasnya juga masih ada, Cahyo memilih untuk mengusap dengan jarinya dan menciumnya, itu memang darah. Dia menggeleng, “Jangan-jangan?” Cahyo segera menoleh ke Yuni, dia berlari ke sana, “Yuni!” berteriak untuk menyadarkan Yuni dan Ratih agar naik dari pantai.


 


Yuni dan Ratih terus bercanda sambil melempar air satu sama lain. Keasyikan ini jangan diganggu. Tak ada yang bisa membuat keduanya berhenti sebelum kemauan Yuni dan Ratih sendiri yang mengakhirinya.


 


“Yuni! Yuni!!” Cahyo terus berteriak sambil terus berlari agar segera sampai ke bibir pantai. Ketika tiba di sana, “Kau tidak mendengarku?!” Bentaknya membuat Yuni dan Ratih terkejut dan membatu.


__ADS_1


__ADS_2