Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Bukan tentangku


__ADS_3

Yuni bingung, “Ke mana mas Cahyo?” Bukankah ini terlalu pagi untuk suaminya berangkat kerja?


 


“Tuan Cahyo sudah berangkat, Non, tapi tuan tadi bilang kalau Nona nanti langsung ke salon saja, tuan akan menjemput di salon, dan langsung berangkat makan malam.” Bibi menyampaikan semua dengan gamblang.


 


Yuni menghela napas, “Apa mama sudah bilang kapan pulangnya? Mama kutelepon tidak dijawab.” Sepertinya mama sengaja tak merespons Yuni.


 


Bibi menggeleng, “Nyonya sulit ditebak, Non. Tuan besar juga tidak menelepon sama sekali. Apakah Anda ingin saya teleponkan untuk menanyakan hal itu?”


 


Yuni tersenyum dan menggeleng, “Terima kasih, Bi.” Segera makan, dia membawa apa pun yang kiranya perlu, dan berangkat ke toko bunga. Tak banyak yang dia lakukan, hanya mengecek beberapa stok bunga yang harus segera diisi, dan pesanan pembeli yang harus segera diantar. Hanya begitu saja sudah jam satu siang, Yuni pun mengajak sopir agar mengantarnya ke salon, “Cepat, Pak. Aku tidak mau terlambat.” Anggukan sopir cukup melegakan baginya.


 


Cahyo... berjalan beriringan dengan Surya, “Setelah makan, ada pekerjaan apa? Bukankah hari ini rapat kosong?”


 


Surya mengangguk, “Ya, kita bisa pulang lebih awal. Hendra!” Sengaja mengajak Hendra makan siang bersama, “Ikutlah dengan kami.” Mungkin dengan mengenal Hendra, Cahyo tak terlalu cemburu, dengan begitu tak akan ada ke salah pahaman di antara Cahyo dan Yuni lagi.


 


Hendra mengangguk, “Aku yang nyopir?” Tawarnya sambil mengulurkan tangan.


 


“Boleh.” Surya melempar kunci mobilnya.


 


Cahyo akan bersikap profesional, meski rasanya dia ingin mendorong atau bahkan menendang, “Jangan terlalu jauh, Hen.” Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, Cahyo memesan apa yang ingin dia makan, dan memperhatikan Hendra, “Bagaimana menurutmu bekerja di sini?” Mungkin dengan sedikit pancingan bisa menyulut apa yang terlihat menarik.


 

__ADS_1


Hendra terkekeh, “Gajinya besar, sepetinya sebentar lagi aku bisa beli rumah, mobil juga boleh.” Itu adalah satu dari sekian banyak mimpi Hendra.


 


“Ya, semua orang menginginkan hal itu. Aku bisa membantumu agar bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, Hen.” Cahyo mulai memainkan garpu dan pisaunya untuk mengiris daging.


 


Hendra menggeleng, “Tidak, Tuan Cahyo. Terkadang apa yang kita inginkan bukan kebutuhan kita, aku masih nyaman di kos yang sekarang, dan anak panti juga masih membutuhkan banyak uang. Aku harus lebih fokus ke mereka dulu.”


 


“Panti? Kamu sering menyumbang?” Kali ini Surya yang bertanya. Sepertinya nama yayasan yang disebutkan Hendra cukup menarik.


 


“Ya, aku dulu besar dari sana, jadi sudah menjadi kewajibanku untuk membantu panti itu.” Hendra tak pernah malu dengan keadaan.


 


Cahyo terkekeh, pemikiran Hendra kali ini boleh didukung, “Lalu... bagaimana dengan pacar, kamu tidak berniat mencari wanita yang sempurna? Dengan mobil dan rumah, semua wanita akan memperhatikanmu, selain itu bonus di sini juga besar, kamu masih bisa menyumbang panti, Hen.” Mungkin dengan begitu Yuni akan aman.


 


 


Cahyo menghela napas, tertawanya begitu lega, dia pikir Hendra akan mengatakan nama Yuni dengan berani, ternyata pria di depannya ini sudah move on.


 


Surya tertawa, dia melirik Cahyo, sangat terlihat jelas rona lega itu, sayang sekali tidak bisa mengejek temannya. “Ya, aku akan mencari tahu dan memberi tahunya kalau kamu sangat mencintainya setelah menemukannya nanti.” Ke tiganya pun tertawa bersama. Setelah makan tak ada pembicaraan berarti, Surya pun meminta Hendra agar menyopir dan kembali ke kantor, “Kita makan lagi kapan-kapan.”


 


“Tentu, Pak Surya. Tuan Cahyo, aku kembali ke ruanganku.” Hendra menunduk dan pergi.


 


Cahyo terkekeh, “Tidak salah kamu mengajaknya makan siang.” Kenapa dia sangat senang semeja dengan Hendra? Seolah tak pernah dia bayangkan akan memiliki perasaan semacam ini.

__ADS_1


 


Surya mengerutkan kening, “Kenapa? Lega kalau Hendra tak lagi mengejar Yuni? Jangan-jangan kecantikan Yuni mulai berkurang sekarang.”


 


“Enak saja!” Cahyo memukul lengan Surya, kalau Surya tak sekelas dengannya saat kuliah dulu, mungkin dia akan memilih memukul mulut saja agar tak banyak bicara. “Aku sudah bilang, kan? Aku tidak merasakan apa pun saat dekat dengan Yuni, jadi mau Yuni sama Hendra atau siapa pun, terserah. Hanya saja status pernikahan ini jangan sampai dibuat malu. Kamu tahu apa?” Cahyo bersiul, dia melangkah ke ruangannya, sepertinya acara nanti malam akan meregangkan otot lehernya yang mulai kaku.


 


Surya tertawa, “Berkemaslah! Kita pulang lebih awal agar tak terlambat nanti malam. Aku menunggumu di pintu masuk nanti!” Surya berteriak karena Cahyo sudah hampir hilang ditelan pintu.


 


Cahyo tak menjawab, dia hanya terus terkekeh, dan saat mau meninggalkan ruangan, Nana masuk, membuatnya menarik bibir agar sedatar biasanya.


 


“Dari mana? Biasanya setelah aku pergi kita akan makan siang bersama.” Nana terus mendekat, duduk di sandaran tangan kursi kerja Cahyo, sambil merabakan tangan ke dada Cahyo. Dia rindu dengan dada itu.


 


Cahyo menyandarkan punggung sambil terkekeh, “Aku tidak tahu, Na. Kemarin aku sangat marah, bagaimana bisa Hendra ada di kamarmu atau malah kamu yang di kamar Hendra? Selama ini banyak berita yang kudapat, aku selalu mengabaikannya, tapi saat Hendra yang mengangkat teleponku di ponselmu, sepertinya semua berita itu memang benar.”


 


Nana menarik salah satu sudut bibirnya, “Ada apa denganmu? Selama ini hubungan kita baik-baik saja, kamu sering ke luar kota, jangan lupakan wanita asal Singapura dulu yang pernah tiga malam denganmu, dan aku tetap tak cemburu. Aku menghormatimu, aku tahu tak mungkin kita menghadapi semua semonoton ini, dan sekarang saat Hendra tidak mengaja melakukan kesalahan yang menyangkut denganku, kenapa kamu cemburu?”


 


“Cemburu? Aku?” Cahyo menggeleng, “Aku memperjuangkanmu agar pantas di mata papa, kamu tidak pernah tahu sebanyak apa papa punya mata dan telinga, Na. Kenapa kamu tidak hati-hati? Haruskah aku terus membelamu kalau kamu sendiri pun tak mau mengaja hubungan ini? bagaimana dengan perasaanku?" Cahyo berdiri, "Kita sangat lama, kamu tahu kalau aku tidak suka jika milikku dipegang, apa lagi dirasakan. Menurutmu... aku harus bagaimana sekarang?” Sungguh, Cahyo tak akan pernah terima Nana berhubungan Hendra, kenapa harus Hendra? Tak adakah pria lain di muka bumi ini?


 


Nana malah terkekeh, “Ini bukan tentangku, ini tentang Yuni, karena Yuni semua jadi berbeda, begitu juga dengan perasaanmu padaku. Pikirkan itu.” Nana ke luar dari ruang kerja Cahyo. Percuma mendebatkan apa pun. Sepertinya sudah saatnya untuk pergi dan mencari tempat yang lebih layak dari hanya sekedar Cahyo.


 


Masih mematung, tak ada niat sedikit pun untuk menyusul Nana, bukan sedih, kenapa malah perasaan lega itu datang? Apa semua ucapan Nana benar? Cahyo menggeleng, tak mungkin dia menyukai Yuni, terlalu muda—bukan! Yuni masih kecil baginya. Cahyo masih ingin berperang dengan hatinya, tapi sebuah pesan masuk membuatnya terjaga, itu dari sopir yang menyebut nama salon yang didatangi Yuni.

__ADS_1


 


Tak mau terlalu pening, Cahyo pun mengemasi barangnya, dan menyusul Yuni. Mungkin dengan suasana baru akan membuat moodnya kembali baik.


__ADS_2