
Yuni menggeleng dan Cahyo malah tertawa, “Aku masih ingat kamu ingin bisa mengemudi, tapi kenapa Hendra orangnya, Yun? Kamu bisa minta padaku, kan?” Benar-benar tak habis pikir dengan Yuni.
Yuni masih saja menggeleng, “Ka—kamu sibuk, Mas. Pernikahanmu—akh!“
‘Bruak!’ Cahyo memukul meja tamu, “Bisakah kamu tak membahas itu di depanku?” Melihat Yuni mengangguk, “Bagus. Buatkan aku minum.” Cahyo duduk di ruang tamu dan mengeluarkan ponselnya.
Yuni segera ke dapur, dia sudah berbelanja kemarin, dan untuk membuatkan minuman bukanlah hal sulit untuknya. Minuman jahe susu kesukaan Cahyo pun dengan cepat tersaji di meja.
“Duduklah!” Cahyo masih sibuk dengan ponselnya.
Yuni duduk perlahan, dia takut, tapi tak punya pilihan lain untuk menolak. Cari aman karena tak ingin mati mengenaskan.
“Mr mengajak kita ke pantai, ada yang harus dibahas di sana, sepertinya akan ada perubahan mengenai proyek yang kita bangun,” Baru kemudian Cahyo menoleh ke Yuni, “datanglah besok, aku tidak mau proyek itu lepas.” Setelah Yuni mengangguk, “Bagus!” Cahyo segera mengambil cangkir di depannya dan menyeruput minuman yang beberapa hari ini dirindukan.
Setelah puas, Cahyo mengembalikannya ke meja, baru kemudian menoleh ke Yuni. Istrinya itu terlihat cantik dan Cahyo tak kuasa untuk tak mendekat. Dia mengulurkan tangan untuk menahan tengkuk Yuni dan segera memagut bibir itu.
Yuni membelalakkan mata, semua terlalu cepat, dia pikir akan terjadi pembunuhan, tapi apa ini? Membunuh setelah berciuman? Apa Cahyo bisa melakukan hal semacam itu? Pria seperti apa Cahyo ini? Tapi salahkah Yuni jika terbuai? Permainan itu sangat melenakan.
Yuni merasakan tangan Cahyo yang meraba tubuhnya, mencondong ke depan hingga terlentang di sofa, dan Yuni pun tetap diam. Dia memilih memejamkan mata untuk menikmati semua ini.
__ADS_1
Cahyo membantu Yuni membuang baju itu, mulusnya begitu menggoda, Cahyo pun juga melempar bra dan segera menyusu. Ini sangat menyenangkan dan karena itulah dia tak mau berbagi dengan seorang pun.
“Aaahhh ....” Yuni meremas sofa, Cahyo selalu melakukan yang terbaik, bagaimana bisa dia menolak?
Cahyo terkekeh, bangun untuk membuka kemeja yang dikenakan, melepas juga celana itu, membiarkan tubuhnya polos lebih dulu sebelum kembali mengungkung Yuni di bawahnya. “Maafkan aku, aku sangat menyesal, kulitmu jadi memar karena kemarahanku. Aku... tidak suka melihatmu dengan Hendra. Aku... aku... cemburu.” Cahyo menatap mata itu penuh sesal. Andai dia bisa memutar waktu, dia tak akan memecut Yuni, tapi semua tidak mungkin, kan?
Yuni tersenyum sambil mengangguk, “Ini akan sembuh beberapa hari lagi.”
“Apa kamu masih marah padaku?”
Yuni menggeleng.
“Aku tidak bisa, Mas. Papa juga marah padamu, kan? Mintalah izin darinya kalau mengajakku pulang.” Yuni akan terlihat buruk jika pulang, seolah menganggap kejadian kemarin biasa saja, meski nyeri masih terasa, nyatanya dia memang cinta.
Cahyo terkekeh, “Kamu menjadi anak kesayangan papa sekarang.” Ledeknya cukup menjurus.
Yuni pun tertawa, “Itu karenamu, Mas.”
Cahyo mengangguk, kembali memagut bibir Yuni sambil menyelusupkan tangan ke milik Yuni, mempercepat agar celana itu terlepas, dan mengusap apa yang dia rindukan. “Aku akan melakukannya perlahan. Ini adalah tanda maaf dariku. Kalau setelah ini aku melakukan kesalahan lagi, kamu boleh membunuhku, Yun.” Cahyo mengusapkan ujung miliknya ke milik Yuni yang mulai merekah.
__ADS_1
“Aahhh... aku akan mengingatnya, Mas. Oughh ....” Cahyo mulai menjejal dan itu pula yang membuat Yuni tak kuasa untuk tak mendesah.
Cahyo sangat suka ekspresi Yuni, dia pun kembali memagut sambil terus merangsek masuk, dia ingin mendengar Yuni mendesah lebih keras lagi hingga memenuhi ruang apartemen ini.
Papa Cahyo... menoleh ke istrinya, “Putramu memang gila.” Dia baru saja ditelepon anak buahnya kalau Cahyo ada di apartemen Yuni sekarang.
Mama Cahyo yang ikut mendengar karena telepon itu dispiker, malah tertawa, “Akui saja kalau Cahyo sudah jatuh cinta, Pa.”
“Masalahnya putra suka main tangan, kalau kita sudah tiada, akan jadi apa Yuni?” Masih menggeleng. Dia meletakkan ponsel di meja dan menggantinya dengan majalah otomotif yang dibacanya tadi.
“Cinta akan mengubah segalanya. Hm... bagaimana dengan temanmu? Sudah sampai mana? Kita harus berpacu dengan waktu.” Mama Cahyo mendekat untuk mengintip majalah yang dibawa suaminya.
“Sebentar lagi akan beres. Kapan Cahyo menikahi Nana?”
Mama Cahyo menggeleng, “Nanti sore Nana akan ke restoran, aku tahu itu dari seseorang, tapi kurasa sebentar lagi.”
Papa Cahyo menoleh dan tersenyum, “Jangan kawatir, semua akan tepat waktu, dan apa yang kamu inginkan akan terpenuhi sebentar lagi.”
Mama Cahyo ikut tersenyum dan memeluk suaminya.
__ADS_1