
Hendra terkekeh sambil menggeleng, “Tuan Cahyo, saya punya kekasih. Apa Anda pikir seumur hidup saya terus menggoda istri Anda saja? Begitu?” Hendra menggeleng lagi, “Saya tidak ingin seumur hidup saya sia-sia.” Mencebikkan bibirnya. Hendra kembali melanjutkan pekerjaannya, menuruti Cahyo sama saja dengan membuat dirinya sendiri gila, lebih baik dia berkarya dan menghasilkan lebih banyak uang untuk anak panti dan dirinya sendiri.
Cahyo tak lagi bertanya, dia sangat tahu siapa pacar yang dimaksud oleh Hendra, kembali ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil, langsung pergi dari kantornya sendiri. Cahyo membawa mobilnya ke gedung bertingkat tinggi, “Perasaan aku melihat seseorang yang kukenal, siapa?” Cahyo mengelilingkan pandangannya, bermonolog sendiri karena tak menemukan siapa pun, padahal di lobi cukup ramai dan dia yakin melihat wajah yang dia kenal tadi, tapi siapa?
Cahyo menggeleng sambil mencebikkan bibir, kembali melanjutkan langkah karena tak ingin didahului lagi oleh Hendra. Segera masuk tanpa mengetuk dan berhasil mengejutkan siapa yang ada di dalam sana.
“Cahyo? Kenapa kamu ke sini?” Nana segera merapikan gaun yang dia kenakan.
“Aku hanya menahan agar pacar ingusanmu tidak ke sini.” Cahyo duduk di kursi panjang, “Barusan ada tamu?” Ada dua gelas di sini.
Nana segera merapikan gelas dan semua peralatan di meja, “Ya, kami membicarakan pekerjaan. Aku dan Reni akan membuka salon. Setidaknya aku tidak akan bertemu lagi denganmu.”
Cahyo mencebikkan bibir. Dia tahu Reni teman akrab Nana, tapi tidak ada yang baik, malah dunia malam yang sering digeluti, tak ada yang bisa dipilih. “Salon? Mau makan pakai apa? Salon di sini menjamur, salonmu belum tentu laku, lebih baik kamu kembali bekerja.” Jangankan hasil salon, uang untuk membangun salon saja Cahyo bisa memberikannya setiap hari ke Nana.
Nana menarik salah satu sudut bibirnya, “Tidak semua orang hanya memandang uang, Cahyo. Dia juga melihat sebuah ketenangan dan aku tidak merasakannya lagi padamu setelah Yuni datang. Bagiku kau sudah berubah.” Nana ke balkon. Angin yang kencang menerpa, itu lebih baik, kulitnya akan dingin dan terus membuatnya sadar, tak terbuai dengan semua ucapan Cahyo.
Cahyo menyusul Nana, memeluk kekasih hatinya dari belakang, dan mengecup pundak telanjang itu. “Maafkan aku kalau sering menyakitimu, Na. Aku janji ini yang terakhir.” Cahyo mengurai pelukan, dia membalik Nana agar menghadap padanya, “Asal kamu janji tak lagi bermain gila dengan seseorang yang kukenal. Aku akan menganggap tak pernah ada apa pun di antara kita. Maafkan aku, ya?”
Nana mengangguk.
Cahyo tersenyum lalu membuka ke dua tangan.
__ADS_1
Nana ikut tersenyum, dia masuk ke pelukan Cahyo, “Kamu juga harus janji, jangan pernah berubah, jangan mencintai Yuni, bukankah apa pun kita harus selalu bersama?”
Cahyo mengangguk dan mengecup puncak kepala Nana, “Aku janji.” Dipeluknya kembali Nana. Entah siapa yang salah, Cahyo juga tak benar di sini, dan dia tak ingin terus egois.
Yuni... tak bisa menikmati film yang terputar. Pikirannya berkelana. Ratih yang bercerita banyak hal, Yuni tetap tak paham ke mana arah yang dipilih Ratih.
Ratih menyenggol Yuni untuk ke sekian kalinya, “Ada apa, Yun?” Tanyanya setengah geram.
Yuni menoleh sambil tersenyum, “Mas Cahyo, Rat. Aku bingung sama diriku sendiri.”
“Kenapa? Cerita deh.” Ratih menautkan jemari dan mengusap punggung tangan Yuni. Memberi perasan nyaman ke temannya.
“Tadi pagi aku dan mas Cahyo hampir melakukannya, Rat.” Ini adalah cerita basi. Ratih sangat tahu bagaimana keadaan rumah tangganya, dan sekarang Yuni menceritakannya lagi dan lagi. “Aku tidak tahu harus melakukan apa. Mas Cahyo terlalu cepat dan itu membuatku takut.” Yuni sering bercerita ke Ratih mengenai hal ini.
Yuni menggeleng, “Aku gak tahu, Rat. Aku bingung sama diriku sendiri.”
“Aku sudah bilang, kan? Aku saja sama Surya sering melakukannya dan semuanya nikmat. Katakan, apa yang Cahyo lakukan setelah tahu kamu seperti itu?” Ratih kesal saat temannya tidak percaya diri seperti ini.
“Mas Cahyo pergi. Dia tidak marah. Hanya diam.” Yuni menunduk melihat sandaran kursi milik penonton lain di depan kursinya.
Ratih menghela napas lalu memeluk temannya, “Katamu mau merebut Cahyo dari Nana, tapi kenapa kamu kayak gini? Harusnya kamu itu lebih agresif lagi, kalau bisa lebih panas kamu dari pada Nana, malah lempeng kayak gini.”
__ADS_1
Yuni hanya mengangguk. Mengajak Ratih nonton lagi karena dari tadi sudah ditegur oleh penjaga bioskop. Setelah film selesai, Yuni mengajak Ratih makan, “Ada orang beli bunga tadi.”
“Bukannya setiap hari juga ada yang beli bunga, Yun?” Ratih menggeleng. Cerita Yuni tidak bermutu menurutnya.
“Dia ternyata temannya mas Cahyo. Aku semalam diajak ke pesta pembukaan anak cabang.” Yuni menyedot es cokelatnya.
“Lalu?” Ratih jadi penasaran dengan cerita setengah jadi ini.
“Dia orang yang sering datang ke toko dan beli bunga untuk pacarnya. Tadi iseng aku tanya nama pacarnya, katanya Nana, terus pacar mas Cahyo juga Nana.” Yuni memesan ramen tadi dan sekarang dia sedang menggulung mi-nya di garpu.
“Apa itu Nana yang sama?” Ratih melihat Yuni menggeleng, “Harusnya kita cari tahu, kalau memang Nana yang sama, kita bisa menangkap basah Nana, dan kamu akan menang, Yun.” Ratih juga melakukan hal yang sama, dia suka ramen, apa lagi yang pedas. Sebagian besar seleranya hampir sama dengan Yuni.
“Maunya sih gitu, Rat. Tapi caranya?” Yuni tidak mungkin mengikuti ke mana pun Anton pergi. Kalau ada yang tahu bisa berabe nanti.
Ratih mengangguk, “Aku punya ide, kalau dia sering beli bunga di tempatmu, artinya dia puas. Kita beri saja diskon, dapat tiket makan malam atau apa pun dan beri tanggal juga di sana, kalau mereka berangkat kita bisa memata-matai, gimana?” Ratih menaik turunkan ke dua alisnya bersamaan.
Yuni tersenyum lebar sambil mengangguk, “Ide bagus. Aku akan cari tiket besok. Aku kan punya uang dan restoran bagus dari mas Cahyo. Kalau orang itu datang kamu yang ngantar aku, ya?”
Ratih mengangguk. Dia sangat bersemangat kalau diajak jadi mata-mata begini.
Melihat dua wanita di kejauhan sedang bercanda, membuatnya lega dan puas bersamaan, langkahnya jadi tak gamang sedikit pun. “Hey, gimana filmnya? Seru?” Hendra bergabung. Dia langsung duduk di tengah-tengah Yuni dan Ratih yang duduk berhadapan dan melongo padanya. Kejutannya berhasil, dia memang menyuruh Ratih agar tak bilang kalau dirinya datang terlambat, pekerjaannya tak bisa ditinggalkan, tapi dia juga tak ingin melewatkan kesempatan bersama Yuni meski ada Ratih juga di antara mereka. Bagi Hendra, hanya menatap senyum Yuni berarti sebuah anugerah meski tanpa memiliki sekali pun.
__ADS_1