Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Formalitas saja


__ADS_3

Nana tertawa, “I—ini bukan seperti yang Mama kira. Aku dan Anton hanya berteman tidak lebih,” Nana membelalakkan matanya ke Anton, “kenalkan, ini Mamaku, aku menikah dengan putranya minggu depan, Ton.” Tersenyum semanis mungkin saat menoleh ke mama Cahyo.


 


Mengulurkan tangan, mama Cahyo sangat paham permainan, “Halo, senang bertemu denganmu.”


 


Anton tersenyum, “Anton. Hm... Tante, aku harus pergi dulu. Maaf.” Tahu kalau pembicaraan ini tak akan dapat jalan ke luar, Anton pun memilih untuk pergi, ditambah dengan calon mertua Nana, membuatnya semakin tak nyaman saja.


 


“Mama, di sini?” Nana merasa tenggorokannya sangat kering sekarang.


 


Mama Cahyo mengangguk, “Ya, ada arisan, gak sengaja lihat kamu, tapi jangan kawatir, aku tidak akan mengganggumu. Aku pergi dulu.” Berdiri kembali dan pergi. Dia tak ingin makan semeja lagi dengan Nana.


 


“Sial!” Rasanya sangat gugup tadi dan Nana sangat benci itu.


 


Malamnya... semua orang sudah berkumpul di meja makan, mama Cahyo tersenyum melihat menantunya, “Sayang, mama arisan tadi, teman-teman mama ingin kamu ikut arisan juga minggu depan, bagaimana?”


 


Yuni tersenyum sambil mengangguk, “Kapan pernikahan Mas Cahyo, Ma?”


 


Mama Cahyo jadi merengut, “Kenapa kamu menanyakan hal itu?”


 


Cahyo malah terkekeh, “Kamu tidak kuundang, Yun. Jadi gak usah datang.”


 


Ganti dengan papa Cahyo yang terkekeh, “Ya, benar. Lagi pula bukankah pekerjaanmu bertambah, Yun? Kamu harus ke kantor untuk tanda tangan dan mengecek apa pun yang kurang. Kamu harus ikut campur dalam pekerjaan kantor, Yun.”


 


Cahyo mengunyah makanannya sambil tersenyum, dia seperti orang asing di rumahnya sendiri, dan tak akan ada yang membelanya.


 


Mama Cahyo mengulurkan tangan untuk mengusap lengan Cahyo, “Jangan terburu-buru, Sayang. Pernikahan itu jangan terlalu sederhana, jangan membuat kita malu, okey?”


 


Cahyo mengerutkan kening karena ucapan mamanya seolah mendukung.


 


“Apa maksudmu?” Kali ini papa Cahyo yang bertanya.

__ADS_1


 


Mama Cahyo menaikkan ke dua bahunya bersamaan, “Aku hanya ingin menyelamatkan harga diriku. Tidak lebih. Jangan membuat hal konyol tentang keluarga ini.”


 


Cahyo yang melihat papanya akan protes, memilih untuk menjawabnya, “Nana minta menikah siri saja, katanya dia gak mau dicap jadi istri ke dua, dan pernikahan itu juga tak mungkin meriah dan besar, jadi dia minta siri.”


 


Papa Cahyo terkekeh, “Siri atau tidak, apa menurutmu itu pantas? Aku seolah mendengar tikus sedang tertawa di kolong meja.”


 


Mama Cahyo menjingkat, “Ya ampun! Apa dia benar-benar ada di sana?” Dia sangat benci dengan tikus.


 


Yuni tersenyum untuk menenangkan mamanya, “Papa pasti bercanda, Ma. Oiya, bagaimana denganku? Apa aku boleh tinggal di toko bunga untuk sementara waktu?”


 


“Yuni!” bentak Cahyo sambil memukul meja.


 


“Jasa sikapmu, Cahyo. Ini rumah, bukan hutan, kau pikir di sini hanya kamu yang merugi?” Papa Cahyo akan membela kebenaran, bukan tipu muslihat, apa lagi hal bodoh semacam ini.


 


 


“Tidak, Sayang. Saat kapal hampir tenggelam diterjang badai, jangan pernah berpikir untuk melompat dari kapal itu, karena kita tidak tahu sekuat apa kapal kita menerjangnya.” Mama Cahyo tersenyum, “Oiya, Pa. Apa Yuni juga ikut ke semua proyek yang sedang berjalan? Kalau memang iya, bagaimana jika pernikahan Cahyo diadakan bulan depan saja? Lagi pula kehamilan Nana masih dua minggu, kan? Tidak akan mengganggu penampilan Nana saat mengenakan baju pengantin nanti.”


 


Papa Cahyo tidak mengerti kenapa istrinya tak memiliki perasaan karena terus membahas hal itu di depan Yuni.


 


Yuni menghela napas, “Aku tidak paham urusan kantor, Ma. Tapi kalau Papa memaksa, aku akan ke kantor besok.”


 


“Kalau begitu berangkatlah dengan Cahyo, untuk sementara kamu bisa menggunakan ruangan Cahyo sebelum berkasnya dipindah, papa hanya ingin kamu terbiasa.” Papa Cahyo melirik putranya, sepertinya aman karena tak ada protes, biar saja kalau Cahyo tak ingin menghentikan rencana gilanya.


 


Makan malam sudah usai, Yuni berada di kamar bersama Cahyo, dia di depan meja rias, mencari apa pun yang kiranya harus dibawa besok. “Mas, apa aku akan menggambar sketsa lagi seperti dulu?” Papanya memberi tahu kalau saham sudah pindah atas namanya, tapi Yuni tetap tidak mengerti harus melakukan apa di kantor nanti.


 


Cahyo menggeleng, “Proyek Mr pindah atas namamu, kan? Tadi di kantor semua orang masih membahas hal tidak penting itu sampai aku lupa kalau harus survei lokasi, kita akan ke sana bersama kalau kamu mau.”


 


Yuni mengangguk, “Kuharap cepat terbiasa, Mas.”

__ADS_1


 


***


 


Esoknya... Yuni dan Cahyo berangkat bersama, hanya menunggu Cahyo menandatangani beberapa berkas, dan ke duanya pun berangkat ke lokasi. Yuni mengerutkan kening, “Bukankah ini pantai yang dulu? Apa kamu mengajakku ke sini untuk berlibur?”


 


Cahyo menggeleng, “Tidak, memang di sini tempatnya. Mr ingin aku membangun penginapan dan area terbuka keren di sini. Aku mengajakmu karena ingin membahas masalah itu dengan Surya, ada beberapa warga yang tak mau melepas tanahnya, mungkin karena aku pria, negosiasiku buruk, siapa tahu kamu bisa membantu, karena itu aku mengajakmu.”


 


Yuni mengangguk, “Mr malah memberikannya padaku.” Terkekeh, Yuni menoleh ke luar, pemandangan di sini memang bagus, “Semua orang punya cerita, Mas. Sulit melepas kenangan, mungkin karena itu banyak warga yang tidak mau melepas tempat tinggalnya, tapi kita bisa memanfaatkannya, kan?”


 


Cahyo tak mengerti, “Maksudmu?”


 


“Aku akan memberitahumu nanti. Mungkin karena ini Mr memberikannya padaku.” Yuni mengatakannya dengan sombong. Senyum di wajahnya itu penuh kemenangan.


 


Cahyo tertawa, dia menemukan sisi lain dari Yuni, “Kamu tidak marah padaku? Apa pipimu masih sakit? Aku hanya tidak ingin kamu pergi dari rumah.”


 


Yuni menggeleng, “Lupakan saja, Mas. Membahas itu hanya mengingatkanku dengan kekasihmu dan aku tidak menyukainya.”


 


Mobil tiba di lokasi, Cahyo turun lebih dulu dan disusul Yuni sebelum dia membukakan pintunya, “Aku suka melihatmu marah, apa itu berarti kamu mulai menyukaiku?”


 


Yuni menaikkan dua bahunya bersamaan, “Aku tidak tahu apa itu cinta, Mas. Seharusnya hanya ada satu nama di dalam hati, kalau nyatanya dua atau bahkan nama yang lain, apa itu masih bisa disebut cinta? Aku akan berhenti, Mas. Kita menjalankan semua secara profesional saja.”


 


“Profesional? Tidak ada yang namanya profesional dalam rumah tangga, Yun.” Cahyo sangat tersinggung dengan kalimat itu.


 


“Rumah tangga? Apa hubungan kita ini masih bisa disebut rumah tangga, Mas?” Yuni menggeleng menegaskan fakta yang dia punya.


 


“Selamat siang, Tuan Cahyo.” Anton mendekat untuk menyapa, “Yuni? Ah! Nona Yuni, Anda juga ada di sini?”


 


Yuni menoleh dia tak tahu kalau rekan kerja dalam proyek ini adalah Anton. Orang yang juga berhubungan dengan Nana. Kenapa semua orang berhubungan dengan wanita itu? Apakah tidak ada wanita lain yang lebih keren lagi?


__ADS_1


__ADS_2