
“Kenapa?” Ratih melihat Yuni terus gelisah sejak tadi.
“Tidak. Apa Surya nanti pulang terlambat? Apa banyak rapat sekarang?” Yuni merasa Cahyo hanya beralasan saja.
Ratih malah terkekeh, “Kamu memikirkan Cahyo? Apa kamu cemburu?”
“Aku?” Yuni menunjuk dirinya sendiri, “Tentu saja tidak. Aku sudah melupakan Cahyo, aku ingin mengajakmu ke toko, kalau banyak rapat kita tidak akan bertemu Cahyo, itu kan bagus.” Merapikan rambut. Yuni bersikap biasa agar Ratih tak mencium kebohongannya.
Ratih pun merangkul Yuni, “Kalau gitu, habis ini kita ke toko, ya?” Melihat sahabatnya mengangguk, Ratih senang, apa lagi hubungan Yuni dan Hendra juga semakin baik, lengkap sudah.
Selesai acara, Yuni yang sudah pamit dengan Hendra, mengajak Ratih ke toko bunga. Tak ada yang berubah, bahkan semua karyawan juga menyambut hangat, “Ternyata aku merindukan tempat ini juga, Rat.” Mengajak Ratih beristirahat di kamar belakang.
__ADS_1
“Kata mamamu, tempat ini untukmu, kan? Ambil saja, kamu bisa dekat dengan mamamu, lagi pula Cahyo juga jarang ke sini, kan?” Ratih yakin mertua Yuni memang orang baik.
Yuni mengangguk, dia membuka laci, masih ada kunci mobil dan apartemen juga di sana, mungkin Yuni akan mengunjungi apartemen juga lain kali. “Aku akan memikirkannya. Kita pulang, ya?” Tahu kalau mungkin Ratih lelah, Yuni pun mengajak pulang, tapi Mr sudah menyambutnya dengan senyum di depan rumah Ratih.
“Cepat sekali dia kembali?” Ratih menarik rem tangan dan mencebikkan bibir saat Yuni tertawa.
“Mungkin pekerjaan selesai lebih cepat, Rat.” Yuni turun dari mobil, “Bagaimana?” Menerima pelukan dari Mr.
Ratih terkekeh, “Bukan masalah besar. Kalian langsung pergi?” Yuni dan Mr mengangguk bersamaan, Ratih pun memeluk sahabatnya itu, “Jaga dirimu, ya? Kalau butuh apa pun, telepon aku, aku akan segera datang.” Melambaikan tangan dan menunggu mobil Mr menghilang sebelum masuk rumah.
Mr yang tahu Yuni melamun, segera mengambil tangan Yuni dan mengecup punggung tangan, “Ada apa? Mau cerita?”
__ADS_1
Yuni tersenyum sambil menggeleng, “Semua lancar dan baik, aku hanya lelah, rasanya pasti menyenangkan tinggal di vila. Aku ingin melihat bunga.” Yuni memiringkan tubuh agar menghadap ke Mr meski memakai sabuk pengaman.
Mr malah tertawa, “Rumah Ratih bagus, ada taman juga di belakang, jangan berkata seperti itu.” Menambah kecepatan agar segera tiba di vila.
“Mr, kalau kita tetap tinggal di sini, apa kau keberatan?” Yuni tahu kalau Mr tak terlalu suka tinggal di Indonesia. Menurut Mr tinggal di Singapura lebih menyenangkan karena modern dan bebas.
Mr mengangguk, “Aku lebih banyak mengerjakan semuanya di Singapura, apa sulit bagimu?” Tahu kalau Yuni enggan pergi.
“Kita membahas hal lain saja. Aku—“
“Kau bertemu Cahyo?” Mr yakin, kegundahan Yuni karena itu, ditambah dengan sebuah anggukan, Mr malah terkekeh, “Dunia memang sesempit ini, Yun. Kita—“
__ADS_1
“Mr.” Ganti dengan Yuni yang memotong pembicaraan, “Bisakah kita bicara nanti saja setelah tiba di vila? Aku ingin bersantai, jangan menekanku, aku ingin melupakannya sejenak.” Yuni tahu ini tidak sopan, tapi dia tak tahan lagi, dan Mr yang mengangguk cukup membuatnya lega, “Terima kasih.” Yuni kembali menoleh ke arah luar. Butuh dua puluh menit untuk sampai vila, dan setelah tiba, Yuni semakin tak kuasa, “Mr, kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau pernikahan mas Cahyo dan Nana batal?”