
“Jangan kawatir, nona Yuni hanya kelelahan, sepertinya ada yang membuat nona Yuni melakukan banyak hal hingga menguras tenaga dan bisa juga pikiran, karena itu nona Yuni pingsan.”
Cahyo baru datang, dia ikut mendengar ucapan dokter juga, dan perasannya pun menjadi lega.
Mama Cahyo mengangguk, “Apa Dokter sudah memeriksanya dengan benar? Apa putriku tidak hamil?”
Dokter itu tersenyum, “Maaf, Nyonya. Dengan berat hati saya akan menjawab belum, tapi Anda tidak perlu kawatir, banyak program kehamilan jika Anda menginginkan putri Anda segera hamil.”
“Tidak perlu, Dokter. Kesehatan putri kami lebih penting dari pada segalanya. Terima kasih. Izinkan kami menemui putri kami dulu.” Kali ini papa Cahyo yang bicara, segera merangkul istrinya, dan membawanya mendekati Yuni, tapi dia bertemu dengan Cahyo yang ternyata sudah tiba juga, “Dari tadi?”
Cahyo menggeleng, “Baru—“
__ADS_1
Melihat putranya, mama Cahyo segera mendekat, “Mama kecewa sama kamu! Kenapa kamu harus menghamili wanita lain sedangkan tidak dengan Yuni, huh?! Aku tidak akan pernah menerima wanita berengsek itu! Meski dia datang dengan membawa anakmu, darah dagingmu, aku tidak akan menerimanya!” Tak peduli berapa banyak orang di sekitarnya, teriakan itu seolah tak cukup untuk memaki putranya sendiri, biar saja mau dikata orang apa.
“Sudah! Cukup!” Papa Cahyo menengahi, “Kamu pergi dulu, biarkan Mamamu tenang, aku akan menemani Yuni di sini. Kamu harus ke kantor, kan? Jangan karena ini saja pekerjaanmu jadi terhambat.”
Cahyo mengangguk, dia tak mengatakan apa pun, segera pergi dan kembali ke rumah untuk bersiap ke kantor. Cahyo bingung, ada apa dengan kehidupannya? Rasanya sangat kacau sekali. Tak banyak yang dia kerjakan, segera mandi, dan berangkat ke kantor tanpa sarapan.
Surya masuk ruang kerja Cahyo, meski ruang kerja ini baru karena tuan besar benar-benar mengosongkan ruang kerja utama untuk Yuni, Surya tetap menghormati Cahyo. “Aku ke sini membawa banyak map dan semua harus ditanda tangani, tapi kenapa dengan wajahmu? Kau kusut sekali.” Terkekeh sambil duduk di seberang Cahyo.
Cahyo tersenyum sambil menggeleng, “Apa ada rapat setelah ini? Aku harus mengantar Nana ke dokter nanti jam sepuluh.”
“Ya, ambil apa pun yang menurutmu bagus. Aku sedang tidak bisa berpikir, Sur.” Cahyo segera membubuhkan tanda tangan dan mengembalikan lagi map itu ke Surya, “Aku tidak tahu apa pun dan tidak tahu harus melakukan apa.”
__ADS_1
Surya mengangguk, “Kurasa aku akan memberi Hendra pekerjaan yang dia mau, kita bisa menempatkannya di pantai, dan apa pun yang terjadi, langkah apa pun yang diambil Mr akan bisa kita ketahui lebih cepat dari kemarin, bagaimana?”
“Ya, ambil saja kalau menurutmu bagus. Aku—“ Cahyo mendongak melihat senyuman yang membuatnya semakin pening.
“Hey! Apa aku mengganggu pekerjaan kalian?” Nana berjalan mendekat.
Surya tersenyum, dia mengambil map dan berdiri, “Tidak. Aku sudah selesai. Aku ke luar dulu.” Segera ke luar karena dia malas bertemu dengan Nana.
Nana mengerutkan kening, “Apa aku mengganggu?”
Cahyo terkekeh dan berdiri, “Tidak. Kita berangkat sekarang, ya? Maaf... aku lupa tidak menjemputmu tadi, banyak pekerjaan, dan aku pun harus kembali ke kantor setelah dari rumah sakit nanti.”
__ADS_1
Nana mengangguk, “Oke. Aku bisa pulang sendiri. Ajak sopir saja, aku sering lelah akhir-akhir ini, Sayang.”