Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Pria sebenarnya


__ADS_3

***


 


Masih terlalu pagi dan Budi sudah berlari tiga putaran di vila. Dia merasa dengan begitu akan lebih mengenal tempat ini. “Bagaimana bisa ada taman bunga seluas ini di sini?” Berkacak pinggang, menata napas agar bisa bicara tanpa terengah, dan saat gerombol burung terbang melewatinya, senyumnya mengembang lebar.


 


‘Ada hal besar yang terjadi beberapa tahun lalu, semua orang terguncang, aku dan juga Mr. Hari bahagia yang dipersiapkan menjadi sebuah bencana besar. Kamu tidak akan kuat juga melewatinya sendirian. Tapi tahun lalu berita bagus terdengar kembali, Mr pulang dengan senyum yang terukir, kemudian beberapa bulan berikutnya datang nyonya Yuni. Wajah keduanya sama. Mr ingin melupakan nona Dania, tetapi sepertinya terlalu sulit sampai kita yang ada di sinu harus memanggil nyonya Yuni dengan nona Dania. Kalau kamu menemukan foto nona Dania, kamu tidak akan mengenali keduanya, sungguh.’


 


Budi menghela napas, “Di mana aku harus mencarinya? Aku ingin tahu.”


 


Yuni menggeliat. Udara pagi baik untuk kesehatan, karena itulah dia segera membuka pintu yang menghubungkan langsung dengan taman di belakang kamar, tetapi ada yang aneh pagi ini, Budi berdiri di sana, kenapa? “Apa semalam kau tidak bisa tidur?!” Teriaknya kawatir tak terdengar oleh Budi.


 


Segera menoleh, tahu Yuni yang bertanya, Budi pun tersenyum lebar kembali, “Aku baru saja olah raga. Kau butuh bantuan untuk ke sini, Nyonya Yuni?” Budi mendekati Yuni. Taman ini memang sempurna, tangga itu bahkan terlihat khusus hanya untuk Yuni seorang, bagaimana bisa tempat ini tanpa celah? Budi mengulurkan tangannya.


 


Yuni tersenyum, “Aku adalah orang yang harus kau jaga.” Masih enggan menerima uluran tangan itu.


 


Budi terkekeh, “Terlalu tinggi, kalau sampai tergelincir, berbahaya, kan? Aku akan memastikan kau aman sampai di sana.” Mengangguk untuk memastikan ucapannya benar.


 


Yuni pun menerima dan membiarkan Budi menuntunnya. Setelah sampai di bangku panjang, Yuni duduk di sana, dia memang selalu melakukan ini setiap pagi. Menunggu matahari dan akan masuk setelah cukup menyulut kulitnya. “Setiap pagi kau berolah raga?” Yuni bertanya tanpa menoleh ke Budi.


 


“Ya, itu adalah tugasku agar tetap siaga. Hm ... vila ini beruntung karena dekat dengan kebun bunga seluas ini.” Budi tetap berdiri, dia enggan duduk sebangku dengan Yuni, kawatir ada yang melihat nanti.


 


Yuni tertawa, “Kamu tidak akan percaya, Mr sengaja menanam semua ini untukku, bahkan dia berbohong kalau vila direnovasi dan kita pindah ke Singapura, setelah aku kembali, bunga-bunga ini bermekaran, indah bukan?”

__ADS_1


 


Budi sangat terkejut dengan jawaban Yuni, “Kurasa itu sangat berlebihan.” Melihat Yuni menatapnya sinis, Budi segera meralat ucapannya, “Maksudku, tidak ada pria yang benar-benar mau melakukan ini, tapi kalau Mr memang mencintaimu, dia bisa saja melakukannya, itu hanya kacamataku saja.” Segera tersenyum lebar agar Yuni tak salah paham.


 


“Kau bekerja untuk Mr, kan? Dia yang membayarmu. Kenapa sikapmu seolah tak menyukainya? Apa kau hanya memancingku saja?” Yuni rasa pengawalnya begitu aneh.


 


“Ya, memang Mr yang membayarku, tapi dalam perjanjian hanya nama Yuni yang harus kuurus dan kujaga, jadi kamulah majikanku. Aku berbeda dengan pengawal di luar sana, aku bekerja sesuai prosedur yang kunaungi, dan semua yang kulakukan adalah benar. Lagi pula apa yang kuucapkan adalah kenyataan, tapi kalau kamu sudah mencintainya, bagaimana lagi? Cinta itu memang buta.” Budi terkekeh sambil menggeleng.


 


Yuni ingin menjawab, tetapi urung saat Budi menghentikan tawanya, dan menatap dengan serius.


 


“Aku harus keliling lagi. Permisi, Nyonya Yuni.” Budi pun berlalu begitu saja.


 


Sedangkan Yuni menatap punggung itu menjauh. “Ada apa dengan Budi? Dia seperti tak suka dengan Mr, kalau memang iya kenapa menerima pekerjaan ini?” Tahu kalau apa yang dipikirkan tak ada gunanya, Yuni pun memilih untuk menghirup udara yang begitu segar. Ini lebih baik dari pada buang waktu. Lam kelamaan matahari menampakkan wujud, ditambah dengan Sri ke luar dengan nampan, Yuni mengusap perut, menyapa janin yang ada di dalam sana.


 


 


Yuni menggeleng, “Hanya satu yang kuinginkan, keluar dari vila ini, tapi kamu pun tak bisa membantu.” Tersenyum setelah mengatakannya.


 


Sri ikut tersenyum pula, “Lalu bencana itu akan terasa kembali.”


 


“Tapi aku bukan Dania, Sri. Mr harus menyadarinya. Mau sampai kapan dia tenggelam dalam kebohongan yang berusaha ditutupi? Ini tidak benar.” Yuni mengambil susu dan sekeping biskuit.


 


“Sebenarnya Mr begitu menyayangimu, Nyonya Dania. Mr hanya tidak bisa mengungkapkannya dengan benar. Bukankah kita sama-sama tahu kalau Mr cukup lama bersabar terhadapmu?” Sri tersenyum sambil mengangguk. Dia mengatakan sebuah kebenaran saat ini.

__ADS_1


 


Budi yang berdiri di depan kamar Yuni, dia selesai olah raga dari tadi, setelah mandi dan ganti baju, enggan pergi ke tempat lain. Dilihatnya Sri begitu akrab dengan Yuni, harusnya dia bisa mendapatkan informasi lebih, kan? Saat sedang serius, Budi tiba-tiba menjingkat saat pundaknya ditepuk seseorang yang ternyata adalah Mr. “Selamat pagu, Mr. Anda sudah sarapan? Rapi sekali?” tanyanya sekedar basa basi.


 


Mr terkekeh, “Kau begitu perhatian dengan Dania, apa karena dia cantik?” Kenapa semakin lama seolah semakin tak suka dengan kehadiran Budi di rumah ini? Terlalu mengganggu pandangannya.


 


Budi terkekeh, “Tidak, ini hanya salah satu dari prosedur pekerjaanku. Oiya, aku lupa bertanya padamu, mobil mana yang harus kupakai?”


 


Mr menoleh ke Yuni, “Tidak ada mobil, Dania tak akan ke mana-mana, bayi itu masih kecil, aku tidak mau membahayakan siapa pun kalah kau mengajaknya ke luar.”


 


Budi malah tertawa, “Terkadang orang yang terlalu takut akan sesuatu malah benar-benar kehilangannya. Kalau aku jadi Mr aku akan melakukan yang terbaik selama siapa yang kita cintai hidup karena setelah dia yang kita cintai pergi atau bahkan mati, penyesalan selalu saja datang untuk mengejek.”


 


“Kau mengajariku tentang kehilangan?” tanya Mr.


 


“Tidak, aku hanya mengatakan bagaimana kodrat saling mencintai yang bauk dan benar.” Budi tak sedikit pun merasa terancam.


 


Masih mau berdebat, pelayan malah datang sekedar bilang kalau sarapan sudah siap, dan itu menjengkelkan. Mr pun tak melanjutkan pembicaraan, “Mari makan, semalam kau tak ikut makan denganku, kan? Aku ingin mengenal banyak hal tentangmu, Budi.”


 


Budi mengangguk cepat, “Tentu saja. Aku sudah menunggu sejak semalam. Kita bisa bicara banyak tentang apa pun.” Mengekor Mr hingga ke ruang makan dan duduk bersebelahan dengan Mr.


 


“Tentang apa maksudmu?” Mr terkekeh, Budi bisa menyebalkan dan konsol dalam satu waktu, unik sekali.


 

__ADS_1


“Tentang apa pun. Pekerjaan, kantor, wanita, atau bahkan ...” Budi tersenyum semakin lebar, “pembebasan lahan?”


__ADS_2