
Semua membara dan semakin baik. Cahyo ingin segera melakukannya. Hampir di ujung tanduk, tapi ada yang menarik perhatiannya tiba-tiba kala Cahyo berusaha memagut bibir Yuni, “Kita lakukan saja kapan-kapan, Yun.” Cahyo hanya mengecup, melepaskan Yuni, dan pergi ke kamar mandi. Dia tersiksa, tapi apa yang ada di depannya, bukan kenyataan yang dia mau.
Yuni memeluk lutut, dia menangis untuk beberapa saat, lalu ke luar dari kamar pengap ini.
“Ada apa, Sayang?” Mama Cahyo kaget saat Yuni tiba-tiba di kamarnya dengan wajah yang seperti itu. Dia baru mandi, mau menyiapkan sarapan, dan Yuni malah menangis di pelukannya.
Cahyo... bengong di ruangannya. Jarinya terus mengetuk meja dengan tempo lambat. Dia masih memikirkan kejadian tadi pagi.
Nana masuk setelah mengetuk pintu, tersenyum saat Cahyo menoleh padanya, “Tidurmu tidak nyenyak?”
Cahyo menggeleng, “Apa yang kamu bawa?” Cahyo membenarkan duduknya.
“Ini proposal kerja, aku berangkat lusa, kau tidak ingin menceritakan sesuatu?” Nana menaruh map di meja dan mendekati Cahyo, dia berniat duduk di pangkuan Cahyo, tapi jadi mengerutkan kening saat Cahyo melarangnya dengan gerakan tangan. “Kenapa?” Nana sangat penasaran karena Cahyo tak biasa.
Cahyo menggeleng lagi. Dia lebih memilih membuka map dan membubuhkan tanda tangan, “Aku bingung denganmu, Na.”
“Na?” Nana merasa aneh mendengar Cahyo memanggilnya dengan nama itu, biasanya ‘sayang’ dan kali ini cukup mengganggu.
Cahyo menghela napas panjang, “Aku harus apa? Kau dengan Hendra—“
“Lalu kau akan menganggapku asing? Bagaimana denganmu sendiri yang selalu gonta ganti pasangan di luar sana, Cahyo?!” Nana membentak lebih keras.
Cahyo menghela napas lagi, “Lalu?”
__ADS_1
“Lalu?” Nana menarik salah satu sudut bibirnya, “Kau seperti menyalahkanku saja, Cahyo. Bagaimana denganmu? Menikah dengan Yuni, serumah dengannya, dan kau pun tak punya banyak waktu lagi untukku. Kau masih menyalahkan aku bermain dengan Hendra? Apa hanya kau saja yang bisa menyalahkanku? Menyudutkanku? Apa aku benar-benar salah di sini?” Nana menggeleng, “Kamu jahat, Cahyo.” Nana berbalik dan ke luar dari ruang kerja Cahyo.
Cahyo tak mengejar, dia malah memperbaiki posisi map, memeriksa proposal satu per satu, memastikan semua sudah ditanda tangani, barulah dia pergi dengan membawa proposal itu. Pintu ruang kerja Nana terbuka, Cahyo ke sana, dia ingin mengembalikan proposal agar pekerjaan tak ada yang terhambat. “Apa yang kamu lakukan?” Nana sedang membereskan semua barangnya saat ini dan Cahyo tak suka melihat itu.
“Apa lagi? Bukankah ini yang kamu mau? Aku akan pergi. Sudah ada Yuni di sampingmu, dia yang akan memberimu keturunan, dan kamu tak membutuhkan kau lagi. Aku akan pergi.” Nana terus memasukkan miliknya yang berharga ke kardus berukuran lumayan besar.
Cahyo menaruh map itu, dia menghalangi gerakan tangan Nana, sangat tak suka dengan adegan semacam ini, “Jangan menilai semua dari sudut pandangmu saja, Na.
“Ah! Kamu harus ingat, aku tidak suka kamu memanggilku Nana.” Nana menghempas tangannya sendiri lalu melanjutkan urusannya.
“Nana!” Cahyo membentak. Dia mencekal tangan Nana. Tatapannya tak kalah jatam dengan tatapan Nana.
Nana mendorong Cahyo, “Lakukan semua sesuka hatimu.” Nana menarik tangannya, mengambil tas dan pergi, dia akan ke luar dengan meninggalkan semua barang-barang di sana. Banyak mata yang mengiringi langkahnya, itu karena Cahyo memanggil namanya dan terus mengejar, untung saja lift terbuka, dan Nana segera masuk. Dia turun tanpa Cahyo ikut juga ke lift itu.
Surya baru pulang rapat. Ada pertemuan di luar tadi. Cahyo beralasan kurang enak badan dan dia malah melihat drama, “Ada apa? Nana yang membuatmu tak enak badan?” Hanya lirikkan tajam dan itu tetap tak membuatnya takut. Surya malah terkekeh, “Mau sampai kapan, Cahyo?”
“Kamu gak ngerti, Sur.” Cahyo ingin mengejar, tapi dia meninggalkan kunci mobilnya di ruang kerja.
“Bukan gak ngerti, tapi kamu yang membuat hidupmu kesusahan.” Surya tertawa saat Cahyo mendelik, “Dah! Masuk yuk!” Menepuk pundak Cahyo dan mengajaknya masuk bersama.
“Ratih sibuk apa sekarang?” Cahyo langsung mengajak Surya masuk lift.
“Ratih? Tidak biasa kamu menanyakannya?” Surya yakin Cahyo tak pernah tertarik untuk ikut campur dalam hal apa pun, apa lagi masalah yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
__ADS_1
Cahyo menggeleng, “Yuni tidak punya teman. Dulu dia sering ke luar dengan Ratih. Mungkin kalau ke duanya masih sering bersama aku bisa tahu isi hati Yuni.”
Surya terkekeh, dia tahu Cahyo lebih suka memanfaatkan situasi dari pada apa pun juga, “Ratih ke mall sama Yuni kemarin, dia tidak cerita? Ratih punya mobil baru, jadi dia ingin mengajak semua temannya merayakan pencapaian pertamanya.”
“Semua temannya?” Cahyo merasa ada yang janggal dengan itu, “Apa maksudmu dengan Hendra juga?” Surya mengangguk, “Jadi Yuni, Ratih, dan Hendra kemarin bertemu?”
“Ya, mereka bertiga memang teman akrab, kan? Lagi pula kamu juga sudah tahu, apa yang kamu kawatirkan?” Surya merasa tidak ada yang salah.
Napas Cahyo memburu. Lift baru saja terbuka dan Cahyo langsung ke ruang kerja Hendra. Dia akan menghajar Hendra karena masih saja berani mendekati istrinya setelah dia peringatkan.
Kemarahan Cahyo cukup terasa, Surya mengekor, dan apa yang dia duga ternyata benar adanya. “Mau ke mana?” Surya menarik tangan Cahyo.
“Jangan menghalangiku, Sur. Aku mau memberi Hendra pelajaran agar dia terus mengingat ucapanku.” Cahyo sangat geram rasanya.
Surya menggeleng, “Kenapa memangnya kalau Hendra bertemu dengan Yuni? Kenapa memangnya kalau Ratih dan Hendra berteman dengan Yuni?”
“Aku tidak masalah dengan Ratih, tapi Hendra?” Cahyo terus menggeleng. Dia tak akan memberi kesempatan.
“Jangan seperti itu, Cahyo. Ini perusahaanmu, Hendra karyawanmu, di sini dia bekerja, jadi jangan mencampur urusan pribadimu ke kantor. Lagi pula kamu tak sepenuhnya menyukai Yuni, kalian hanya menikah tapi belum seutuhnya menikah, kamu sendiri yang bilang tak bisa suka dengan Yuni, lalu kenapa tak melepaskannya saja?” Surya tahu dia terlalu lancang, tapi dia juga tak ingin temannya itu terlihat buruk di depan semua karyawan Cahyo sendiri.
“Lalu aku harus bagaimana? Diam saja saat Yuni didekati Hendra?” Cahyo tak habis pikir dengan Surya dan semua kekawatiran tak penting itu.
Surya menghela napas panjang dan dalam, “Aku tidak tahu karena kamu yang ada di posisi itu. Jangan hanya memikirkan dirimu saja, Yuni? Tanyakan ke hatimu, Cahyo. Coba pikir sebagai Yuni sesekali. Mungkin dengan begitu kamu tahu apa jawabannya.” Surya pun pergi. Dia tak ingin mendikte temannya berlebihan.
__ADS_1