
Tak banyak bicara, bahkan sesampainya di salon, Cahyo langsung duduk di dekat Yuni.
“Mas? Kapan datangnya?” Yuni terkejut tiba-tiba melihat Cahyo dari pantulan cermin di depannya.
“Baru. Apa masih lama?” Sudah jam empat dan dirinya sendiri belum melakukan apa pun. Cahyo tahu kalau waktunya masih cukup, tapi duduk seperti ini saja akan membuatnya bosan, bukankah lebih baik dia juga melakukan sesuatu?
“Tidak, Tuan. Tinggal sentuhan akhir, tapi waktunya masih cukup lengang, jadi Non Yuni ingin kami melakukan semua sesantai mungkin. Kami juga memiliki perawatan untuk pria, Anda bisa bersantai, dan menikmati perawatan dari kami.” Pemilik salon yang kebetulan datang, menawarkan perawatan terbaik untuk tamunya kali ini, berharap semuanya puas.
Cahyo mengangguk, kedengaran menarik, dia pun menurut saat diarahkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, dipijat, dan mencari jas yang pantas untuk dipakai. “Aku tidak tahu yang mana. Apa kamu sudah melihat gaun Yuni? Cari saja yang pantas dipasangkan dengannya.” Cahyo pikir akan lebih bagus kalau dipilihkan saja.
“Baik, Tuan. Mari!” Pekerja itu memilihkan kemeja terlebih dahulu sebelum kemudian merias Cahyo.
Yuni tersenyum saat Cahyo kembali dan duduk di sampingnya lagi, “Kata Mr aku harus memakai pemberian darinya malam ini, jadi aku membawanya tadi, kemarin Mas sibuk, aku belum sempat memperlihatkannya ke Mas.”
“Aku akan melihatnya nanti, Yun.” Cahyo rasa itu bukan hal yang besar.
Yuni mengangguk. Tak lama pekerja mengajaknya ganti baju, dia pun ke kamar ganti, membiarkan pekerja itu membantunya memakai gaun, dan kemudian ke luar lagi. Yuni memperlihatkan senyum terbaiknya, “Mas.”
Cahyo menoleh, sial! Gaun merah dengan belah sepaha itu kenapa sangat pantas dipakai Yuni, “Duduklah.” Cahyo kembali menoleh ke cermin, jangan sampai Yuni tahu kalau dirinya baru saja mengagumi, itu akan membuat Yuni besar kepala. Cahyo menarik napas beberapa kali, masak iya dia gugup hanya melihat Yuni seperti itu saja? Konyol!
“Sudah, Tuan.” Pekerja itu mengejutkan Cahyo yang masih sibuk dengan pikirannya.
“Ya.” Cahyo berdiri, mengajak Yuni berangkat, mungkin kalau mengendarai mobilnya pelan-pelan akan sampai di sana tepat waktu karena ini masih kesiangan.
Yuni mengangguk. Semua di luar ekspetasi, dipikirnya Cahyo akan terkesima, ternyata tidak, Yuni hanya seperti badut saja.
Cahyo turun lebih dulu, “Tunggu di sini.”
Yuni terkesiap, kenapa dia harus menunggu di mobil? Bukankah itu membuang waktu? Untuk menolak juga tak berani, Yuni mengangguk dari pada berdebat di tempat umum, tapi saat Cahyo membukakan pintu mobil untuknya, dan mengulurkan tangan, pipinya malah merona.
“Berperanlah dengan baik, Yun. Mr adalah klien terpenting. Jangan membuatnya kecewa.” Cahyo mengajak Yuni berjalan sambil gandengan. Ada rasa senang melihat Yuni seperti ini, tapi Cahyo tak ingin Yuni terlalu percaya diri kalau dia memuji Yuni.
Orang pertama yang dicari Cahyo adalah Mr dan setelah melihatnya, Cahyo pun mendekat, “Mr, senang bisa bertemu lagi dengan Anda.” Cahyo mengulurkan tangan dan memamerkan senyum terbaiknya.
“Halo... Nona Yuni, senang melihatmu memakai gaun ini, seperti yang sudah kupikirkan, sangat sempurna.” Bukan Cahyo yang membuatnya senang, tapi Yuni.
Yuni terkekeh, “Terima kasih, Mr. Gaun ini terlalu indah.”
Mr malah tertawa, “Nikmati makan malamnya, aku akan keliling, cari tempat terbaik karena aku ingin melihatmu dan Tuan Cahyo menikmati malam ini.”
Yuni mengangguk sambil tersenyum, “Terima kasih, Mr.” Tak menyangka kalau dirinya yang malah disambut sebaik itu.
“Ck! Apa dia mulai gila?” Cahyo benci dengan tatapan itu.
Yuni mengerutkan kening, “Kenapa? Bukankah itu sangat ramah?”
Cahyo membuang napas kasar dan berkacak pinggang, “Bukankah di sini aku tamunya? Kamu hanya pemanis dan dia malah lebih memperhatikanmu dari pada aku? Konyol sekali.” Menggeleng, itu bukan karena cemburu, tapi ucapannya memang benar, kan? Harusnya dia yang disambut bukan malah Yuni.
Yuni tertawa, “Kamu cemburu karena Mr mengatakan gaun ini sempurna, Mas?”
“Jangan konyol, Yun.” Berjalan lebih dulu, mencari tempat seperti yang dikatakan Mr adalah pilihan terbaik dari pada mendengar ucapan tak jelas dari Yuni, hanya akan membuat Cahyo lelah.
__ADS_1
Yuni masih tertawa, dia mengekor Cahyo, apa boleh dia berbinar sekarang? “Kenapa hanya ada kudapan di sini? Tidak ada buah? Manis semua dan akan membuat kita cepat kenyang sebelum hidangan utama ke luar.” Yuni menggerutu sambil memutar piring kudapan di depannya.
Cahyo mengedarkan padangan, “Di sana ada salad, ambilah agak banyak, aku minta nanti.”
Yuni mengangguk lalu berdiri kembali. Salad lebih baik kalau buah tidak ada.
Cahyo terus memperhatikan Yuni, perempuan yang dia cap masih kecil itu, kenapa sangat menawan? Ah! Matanya sepetinya rusak. Cahyo menggeleng, meski begitu tak mengalihkan pandangannya dari Yuni, tak akan dia lewatkan.
Surya duduk di sebelah Cahyo, “Malam ini Yuni sangat cantik.”
Cahyo segera menoleh, “Bukankah kau bilang tak bisa datang? Mana Ratih?”
Surya terkekeh, “Kenapa mencari Ratih? Yuni sudah sempurna. Di mana kau beli gaun itu? Pas sekali di tubuh Yuni.”
“Jangan melihatnya seperti macan yang sedang lapar, Sur. Ratih akan membunuhmu.” Cahyo mengambil minum, tenggorokannya kering tiba-tiba, dan semua karena ucapan Surya.
“Hahahaha. Ratih tidak ikut. Aku sengaja melarangnya ikut karena ingin melihat Yuni.” Surya mengangkat ke dua tangan saat Cahyo menoleh dan menatapnya tajam, “Yuni selalu indah saat ada acara penting, tak kalah dengan Nana, tapi kamu tak pernah bisa melihat itu, kan? Sayang sekali.” Surya terkekeh kembali.
Cahyo mencebikkan bibir, “Biasa saja. Semua perempuan cantik saat memakai make up, jangan berlebihan, lagi pula Nana dan Yuni sama, apa yang berbeda.” Cahyo membuang muka, masih berpikir, apa memang benar kalau Nana dan Yuni berbeda? Cahyo kembali menoleh ke Yuni, perempuan itu berjalan ke arahnya saat ini, dan... memang ada yang berbeda. Cahyo tersenyum melihat itu.
Surya yang memergoki Cahyo tersenyum, lebih mendekat, “Kau melihatnya, kan?”
“Ck! Apa maksudmu?! Aku tidak melihat apa pun.” Cahyo membuang muka lagi.
Surya tertawa, temannya ini harga dirinya tinggi sekali, “Yun, dari mana?”
“Dia sibuk, apa ini porsimu?” Surya tak menyangka kalau selera makan Yuni sebesar ini.
Yuni tersenyum, “Ini untukmu, aku dan Mas Cahyo yang ini.”
Surya mengangguk sambil mencebikkan bibir, “Memang sepiring berdua terasa lebih enak, ya?” Mengaduk salad dengan garpu dan melahapnya.
“Ah, kau ini! Apa mulutmu rusak?” Cahyo heran, kenapa Surya punya hobi menyudutkan dirinya seperti ini? Bukan membantu malah membuat Yuni makin besar kepala.
Yuni tersenyum. Baru saja akan ikut bercanda, tapi suara pembawa acara sudah memulai makan malam.
Mr berdiri saat pembawa acara memanggil namanya, memegang mik, dan memperhatikan seorang saja. “Rasanya sangat menakjubkan bisa bergabung, apa lagi mengingat aku hanya WNA, tapi respons di sini sangat baik, terlebih dengan seseorang yang selalu menjamuku dengan baik, sampai aku akan memberikan sebuah proyek besar padanya, dia adalah Nona Yuni.”
Yuni membuka mulutnya lebar dan menoleh ke Cahyo, “Mas?”
Cahyo membuang napasnya kasar, “Apa maksudnya semua ini?”
Surya menggeleng, “Harusnya namamu, kan? Setidaknya sebut saja nama perusahaan kita kalau Mr membencimu.”
“Kemarilah! Kita akan bersulang untuk proyek besar ini.” Mr mengangkat gelas berisi wine dan mengacungkannya ke Yuni.
“Sebaiknya jangan gegabah, maju saja, Yun. Jangan sampai satu proyek pun terlepas dari tangan kita, apa lagi dengan Mr.” Cahyo memendam amarah, tapi dia di posisi yang tak menguntungkan untuk menolak, biar turis gila itu mempermainkannya hanya untuk malam ini saja.
Yuni mengangguk, dia berdiri dan berjalan dengan gugup mendekati Mr, “Ini... berlebihan, Mr.” Bahkan senyumnya jadi kaku karena dia tak di tempat yang semestinya.
__ADS_1
Mr tertawa, “Kita akan merayakan makan malam ini untuk kerja sama kita menggarap pantai di ujung Barat.” Ucapnya tak terlalu keras, setelah Yuni mengangguk, “Mari... bersulang!!”
Cahyo mengangkat gelasnya tinggi, senyumnya bahkan sudah hilang, dan dia segera meneguk hingga tanda. “Apa maunya Mr? Setelah membelikan Yuni gaun seperti itu, sekarang dia malah memanggil nama Yuni tanpa aku, apa dia mengajakku berperang, huh?!”
Surya menggeleng, “Aku juga tidak paham, baru kemarin Anton datang, bukankah proyeknya sekarang digarap Anton?”
Cahyo mengangguk, “Sepertinya ada yang direncanakan Mr. Apa dia ingin merebut Yuni dariku?” Cahyo melonggarkan dasinya, kembali menuang wine agak banyak, dan kembali menandaskannya dalam sekali teguk, kenapa tubuhnya panas begini?
“Setelah ini, kita akan sering bertemu, Nona Yuni. Proyek di ujung Barat, garaplah dengan epik, dan kita akan mengadakan makan malam lagi setelah semua berjalan tiga puluh persen.” Mr terus tersenyum kagum ke Yuni.
Yuni mengangguk, “Tentu, Mr. Aku... kembali dulu.” Yuni tak nyaman saat semua mata melihatnya begini. Setelah duduk di kursinya lagi, Yuni mengerutkan kening, “Mas, jangan terlalu banyak minum, kita belum makan, aku tidak mau perutmu sakit.”
Surya menggeleng, “Wine tak akan membuat kita mabuk, Yun.”
Cahyo terkekeh, makanan mulai dihidangkan, dan Cahyo mengajak Yuni dan Surya makan juga. Bersikap seolah tak ada apa pun meski pikirannya kembali penuh melihat kejadian tadi.
“Soal proyek di Barat, bagaimana?” Surya tahu tak pantas membicarakan pekerjaan di meja makan, tapi mau bagaimana lagi? Semua terlalu mendadak dan membuatnya terkejut dan dia yakin Cahyo juga merasakan hal yang sama.
Cahyo menggeleng, “Besok ikutlah ke kantor, Yun. Sepertinya harus ada yang kita bahas soal kantor.”
“Tapi aku tak paham apa pun tentang pekerjaan di sana, Mas.” Yuni sadar akan keterbatasan otaknya, beda jauh dengan Cahyo, dan yakin tak akan mampu mengejar.
“Tidak apa-apa, kita akan membahasnya di kantor, belajarlah perlahan, Yun.” Cahyo tersenyum, setidaknya dengan itu bisa menyemangati Yuni, “Makanlah!” Dia ingin acara ini cepat selesai.
Setelah makan dan pamit, Cahyo bersyukur Mr tak membuat banyak drama, dan sekarang dia di kamar, melepas kancing jas dan juga jam tangannya. Yuni melewatinya, gaun itu masih melekat indah, dan Cahyo menoleh ke Yuni, “Mandilah, Yun. Setelah itu aku.”
“Hm, iya, Mas.” Yuni menurutinya. Dia memang gerah sudah berdandan sejak tadi. Setelah selesai mandi dan segar, Yuni memperhatikan Cahyo yang masuk kamar mandi, sedangkan dirinya naik lebih dulu ke ranjang. Cahyo tak menyuruhnya tidur di lantai lagi jadi Yuni memutuskan memilih ranjang, tak salah, kan? Cahyo ke luar dari kamar mandi lebih cepat dari yang dia kira dan langkah mendekat itu malah membuta Yuni gugup.
Masih memakai handuknya, Cahyo duduk di ranjang, “Yun, aku mau minta hakku sekarang.”
Yuni terkesiap, kalimat itu seolah tak pernah dia dengar selama ini, dan kenapa mendadak? Yuni mengangguk, bukankah tak ada jawaban lain? “I—iya, Mas.” Meletakkan ponsel yang sejak tadi dimainkan di nakas.
Cahyo menarik napas panjang dan dalam, memejamkan mata sejenak, lalu mendekati Yuni. Dia memagut bibir itu, tak peduli Yuni yang tak membalas, Cahyo tetap melakukannya. Miliknya belum siap, tapi Cahyo sudah tak ingin menunda lagi, sudah cukup. “Berbaringlah dan lepas piamamu.” Cahyo juga berdiri dan melepas handuknya lebih dulu, tak peduli yang masih tidur, sebentar lagi juga bangun sendiri. Dia menatap Yuni agar tak banyak membuang waktu karena besok harus bekerja. Jangan sampai bangun terlambat.
Yuni membuka kancing piama, melepas celananya juga, membiarkan tubuhnya hanya mengenakan bra dan celana berenda. Malu. Cahyo menatapnya tanpa sungkan.
“Itu lepas juga, Yun. Kita ini mau bercinta, buat apa kamu menyisakannya, hanya akan membuatnya lebih lama saja.” Cahyo berkacak pinggang.
Yuni merengut, “Matikan lampunya, Mas. Aku... malu.”
“Ck!” Cahyo mencari sakelar untuk mematikan lampu dan kembali lagi menghadap Yuni.
Yuni membuang napas kasar, melepas juga dua tameng yang dia miliki, dan berdiri mematung. Biar saja Cahyo yang duluan, dia tak tahu harus bagaimana, kenapa Cahyo pun tidak peka?
Cahyo maju selangkah, meski dia sudah sering melihat Yuni telanjang, kenapa kali ini berbeda. Meski remangnya lampu tak terlalu sukses menyembunyikan Yuni, Cahyo nyatanya juga gugup, dia sedang tak jahat ke anak di bawah umur, kan?
Cahyo menggeleng, mengenyahkan pikiran buruk yang hanya akan menghambat rencana malam ini, dia mengulurkan tangan untuk memegang pinggang Yuni. “Aku tidak tahu harus selembut apa, tapi kalau sakit katakan saja, aku akan melakukannya lebih pelan.” Baru saja Yuni mengangguk, Cahyo sudah memagut bibir itu, tangannya juga menjamah pinggang, meraba punggung hingga membuat tubuh Yuni menegang. Tahu lutut itu sebentar lagi akan lemas dan Yuni kemungkinan akan terjatuh, Cahyo segera mengangkat Yuni dan membaringkannya ke ranjang.
Bercinta tanpa pemanasan, apa artinya? Cahyo akan menyiksa dirinya sendiri, kan? Nyatanya dia tetap turun, menyesap dada Yuni, menghisap, menciptakan suasana yang selayaknya, hingga saat miliknya sudah setengah bangun, Cahyo mengusap dan siap menghujam milik Yuni.
__ADS_1
“Ahmmm ....” Yuni meredam erangan di pundak Cahyo. Adegan ini tak seperti di novel pada umumnya, bukan seperti ini, kan? Harusnya ada adegan lanjutan, kenapa ini terlalu mengejutkan? Dia belum siap, Cahyo bahkan tak bertanya lebih dulu, bagaimana bisa? Ini sangat tidak adil untuknya.