
“Akh!” Yuni menahan pinggang Cahyo agar berhenti sejenak.
“Ini hanya sebentar.” Cahyo memagut bibir Yuni, di bawah sana sangat sulit untuk diterobos, Yuni memang memberikan semua padanya. Haruskan dia patut bangga? Buang dulu yang itu. Cahyo harus terus bergerak, memberi kenyamanan untuk Yuni, hingga erangan kembali terdengar merdu.
“Aahhhh ....” Yuni mulai bisa menikmatinya, mungkinkah ini perasaan yang sering orang ceritakan? Dia tak ingin usai. Meski tak tahu apa Cahyo akan membuangnya setelah ini. Hubungan ini akan membuatnya hamil, bisa saja besok, dan semuanya, pernikahannya, kisah cintanya, akan berakhir saat itu juga.
***
Cahyo menggeliat. Masih jam tiga dan dia sudah terbangun. Yuni yang terlelap dengan tubuh masih telanjang, Cahyo menutupnya dengan selimut, kemudian dia mengenakan piamanya dan pergi ke ruang kerja.
Bukan karena terlalu banyak pekerjaan, tapi karena ada rasa sesal sudah menyentuh Yuni. Bagaimana jika Yuni hamil? Itu adalah anaknya dan Nana? Cahyo duduk merenung di depan laptop dan notif dari email yang masuk membuatnya terkejut. “Siapa yang mengirim email sepagi ini?” Membukanya dan itu dari Mr.
Cahyo menghela napas, “Apa orang itu mulai gila? Sepagi ini malah mengirim jadwal untuk kerja nanti. Dia tidak tidur apa?” Cahyo membalasnya dan teleponnya malam berdering, “Mr, Anda sudah bangun?” Cahyo tersenyum, tidak biasa Mr melakukan panggilan video dengannya.
“Hahahaha. Aku malah belum tidur, kamu sendiri kenapa jam segini sudah bangun? Di mana nona Yuni? Aku sangat suka hadiah yang kuberi... ternyata sangat pas dan membuat nona Yuni senang.” Mr terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
Cahyo tertawa, “Yuni sedang tidur, Mr. Aku... hm... ada pekerjaan yang lupa kukerjakan tadi, jadi aku bangun lebih awal. Nanti Yuni juga ke kantor, Anda bisa meminta rekomendasi khusus dengannya, aku akan melibatkan Yuni mulai sekarang.”
“Oh! Tidak usah, Tuan Cahyo. Cukup Anda saja, aku memanggil nona Yuni karena suka dengan gaun yang dikenakannya tadi, soal pekerjaan aku selalu percaya padamu. Hm... sepertinya aku mulai mengantuk. Selamat istirahat, Tuan Cahyo.” Mr pun terkekeh dan memutus sambungan telepon itu.
Cahyo membuang napas kasar, apa yang sebenarnya direncanakan Mr? Tak mungkin terus ada di sini, Cahyo pun kembali ke kamar, memandangi Yuni sejenak, dan tidur kembali. Ini memang masih terlalu pagi, tak mungkin dia terus terjaga, bisa-bisa nanti malah mengantuk di kantor. Sepertinya baru beberapa detik dan Yuni sudah membangunkannya. Cahyo mengerutkan kening, “Kamu... sudah mandi? Apa tidak sakit?” Cahyo ingat saat pertama kali melakukan itu dengan Nana, saat itu Nana merengek, bahkan minta digendong saat ke kamar mandi, dan ini Yuni malah sudah ganti baju dengan rambut yang masih basah.
Yuni menunduk malu, “Aku... jalan pelan-pelan, Mas. Mas, tidak ke kantor? Aku akan menyiapkan jas dan tasmu. Mama sudah pulang.”
Cahyo mengangguk, “Aku mandi dulu. Kapan mama datang?”
“Baru, Mas. Hm... ini susu jahenya, aku turun dulu.” Yuni berbalik, dia akan mencarikan jas dan menyiapkan tas dulu sebelum ke luar.
Cahyo menoleh, dilihatnya Yuni berjalan sangat lambat, bahkan wajah itu sesekali meringis, dan Cahyo malah tertawa.
Yuni segera menoleh, “Kenapa Mas tertawa?”
“Tidak. Aku tidak tertawa. Aku ke kamar mandi dulu, Yun.” Kenapa Yuni terlihat lucu saat seperti itu? Cahyo tak bisa membayangkan, Yuni menahan semua di depannya, Yuni memang berbeda dengan perempuan lain. Ah! Apa dirinya mulai memperhatikan Yuni? Setelah selesai mandi, Cahyo memakai baju yang disiapkan Yuni, membawa tasnya dan turun. “Ma.” Sapanya sambil mendekat dan mencium pipi mamanya, “Mana papa?”
Mama Cahyo tersenyum lebar, “Di kamar, ngantuk katanya, kamu ke kantor? Tidak libur?”
Cahyo menggeleng, “Bukan tanggal merah, Ma. Mama lama sekali perginya, apa ada yang sakit?” Menerima makanan yang diambilkan Yuni dan mulai melahapnya.
“Tidak, mama pengen menikmati waktu mama dan papa saja, lagi pula mama gak mau ganggu kalian.” Mama Cahyo terkekeh sambil menoleh ke Yuni.
“Mengganggu apa?’ Cahyo tak paham dengan kalimat itu.
“Lupakan saja. Mama gak mau kamu terlambat. Ayo, sayang! Kamu makan juga.” Mam Cahyo menepuk kursi di sebelahnya.
Cahyo tak berpikir aneh, dia menghabiskan makanannya dan berangkat. Saat Yuni mengantarnya ke depan, Cahyo sangat ingin merapikan rambut Yuni, “Tidak usah ke toko, istirahat saja di rumah, Yun.” Merapikan juga rambut Yuni tak terlepas dari telinga.
“Tapi bukankah aku harus ke kantor? Jam berapa nanti ke sananya, Mas?” Yuni masih ingat dengan rencana semalam.
__ADS_1
“Tidak usah, Yun. Aku terganggu dengan cara jalanmu, di rumah saja, kalau sudah lebih baik, datanglah ke kantor.” Cahyo tersenyum, lebih mendekat ke Yuni, dan mengecup kening itu. Entah, kenapa dia sangat ingin melakukannya, “Aku... berangkat dulu.” Melambaikan tangan dan pergi.
Pipi Yuni merona, “Kenapa kamu melakukan semua ini, Mas? Jangan membuatku jatuh cinta padamu, aku takut kalau semua yang kamu beri, akan pergi suatu saat nanti.” Yuni terus menatap Cahyo hingga menghilang bersama dengan mobilnya juga.
Mama Cahyo yang mendengar ucapan Yuni, mengusap punggung menantunya, “Pergi ke mana? Sampai kapan pun kamu akan tetap di sini, Yun.”
“Mama? Hm... tidak. Aku hanya omong kosong. Mama mau ditemani?” Yuni akan menyimpan semuanya sendiri. dia yakin semua lebih baik dari pada menceritakannya ke mama Cahyo.
Malah terkekeh, “Ke mana, Yun? Jalanmu saja seperti itu.”
“Mama?!” Yuni sangat malu, bagaimana bisa mama Cahyo meledeknya? Bukankah itu sangat memalukan?
Mama Cahyo malah tertawa, “Mama senang, akhirnya kamu dan Cahyo bersatu, mama ini sudah banyak makan asam garam, Yun. Hal semacam itu saja tak akan luput.”
Yuni sangat malu dengan ucapan mama Cahyo.
“Mama senang sebentar lagi punya cucu dan kamu juga jangan kawatir, sampai kapan pun, Cahyo tidak akan menceraikan kamu.” Terus mengusap punggung menantunya.
“Mama ....” Yuni memeluk mertuanya yang sangat baik hati itu.
Cahyo... baru saja masuk ruang kerjanya dan sebuah surat ditemukan di sana. “Nana mengundurkan diri?" Cahyo mencebikkan bibirnya dan menaruh begitu saja surat pengunduran diri itu di meja. Banyak map yang sepertinya butuh tanda tangannya dan itu lebih penting dari hanya sekedar surat pengunduran diri saja.
Entah berapa banyak waktu yang dihabiskan Cahyo dengan semua map itu dan Surya sudah masuk dengan membawa map lain yang lebih tebal lagi. “Ahhhh... apa sudah waktunya?” Dia ingat kalau akan rapat dengan Mr dan Anton.
Mengangguk dan segera berdiri, Cahyo berjalan ke ruang rapat, jangan sampai Mr malah datang lebih dulu. “Selamat datang kembali.” Cahyo mengulurkan tangan, bersalaman dengan Anton, sepertinya dia akan sering bertemu dengan temannya ini.
Anton terkekeh, “Kita mulai saja, Mr bilang akan terlambat datang, dan nanti jam makan siang aku harus pergi, apa tidak masalah?”
“Tentu. Sur, kita mulai rapatnya.” Cahyo tak suka mempersulit apa pun. Saksama mendengarkan Surya menyampaikan penawaran hingga datang giliran Anton, Cahyo tetap nyaman sejauh ini.
Anton pun berdiri, “Di pantai akan dibangun kafe, beberapa ayunan, dan ini yang penting, jembatan hingga tengah pantai. Aku sudah membeli beberapa rumah tua, kita bisa menggunakannya untuk penginapan. Aku akan di sana mulai besok, kamu atau bahkan manager area juga bisa bekerja mulai besok juga.” Anton melingkari beberapa tempat yang perlu untuk dijabarkan.
Cahyo mengangguk, “Aku setuju, besok orangku akan turun juga, ada lagi pesan dari Mr?”
“Tidak. Mr juga belum datang, tapi pembahasan ini sudah selesai, apa tidak masalah kalau kita tutup saja?” Anton tidak mungkin melewatkan makan siangnya.
“Ya, kenapa tidak? Sampaikan saja salamku untuk Mr.” Cahyo menjabat tangan Anton, mengantarnya hingga depan pintu ruang rapat, dan masuk kembali. “Nana mengirimkan surat pengunduran diri.” Surya masih bersamanya dan Cahyo merasa perlu untuk cerita ke temannya itu.
Surya mengangguk, “Bagus. Lagi pula Hendra sudah mulai bisa diandalkan, kita bisa mengganti posisi Nana dengan Hendra.”
Cahyo mengangguk, “Ya, kamu benar. Kalau begitu siapkan semuanya, jangan sampai ada pekerjaan yang terlambat digarap karena Nana, kita tidak boleh terlalu santai.”
“Lalu soal Mr? Siapa yang akan ke sana?” Surya harap Cahyo tak melupakan hal penting itu.
“Aku sendiri yang akan ke sana, Mr memilih Yuni, sepertinya aku harus turun tangan, Sur.” Cahyo kawatir Yuni akan dijadikan alat oleh Mr.
__ADS_1
Surya mengangguk, “Okey, aku ke ruanganku dulu, Hendra akan kuurus.” Ke luar lebih dulu, pekerjaannya masih banyak, dia bukan bos seperti Cahyo yang bisa bersantai.
Cahyo pun berdiri, dia juga akan kembali ke ruangannya, tapi saat baru saja masuk, Nana mengejutkannya. Cahyo terkekeh, “Aku masih akan menemuimu.”
Nana membuang muka, “Sepertinya tidak perlu.”
Cahyo mengerutkan kening, “Kenapa? Itu terdengar aneh.” Cahyo mendekat, dia berniat memeluk dan mencium Nana, tapi malah dihalangi oleh Nana.
Menahan dada Cahyo dengan tangannya dan tersenyum, “Aku mencium Yuni di tubuhmu dan aku tidak suka. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini. Kau tidak suka saat aku tak sengaja masuk ke kamar Hendra dan begitu juga denganku, aku tak suka mencium parfum Yuni di tubuhmu, itu cukup adil, kan?”
Cahyo terkekeh, “Aku yakin bukan karena itu.”
“Terserah, tapi aku menganggapnya seperti itu. Aku pulang, jangan mencariku lagi karena aku tidak akan membantu apa pun, begitu juga dengan kantor ini.” Nana berbalik dan pergi. Meski jalannya tak terlalu cepat, nyatanya dia tak mendengar langkah Cahyo yang mengejarnya, sepertinya memang dia harus memberi pelajaran agar Cahyo tahu seperti apa rasanya tak dibutuhkan lagi. “Kita makan siang sekarang, Ton.” Nana memang pulang bersama Anton sekarang.
“Kenapa kamu ke luar tiba-tiba?” Anton mulai melajukan mobilnya, dia tahu Nana sekretaris hebat, akan mengejutkan dengan pengunduran diri kekasihnya ini.
“Aku sudah bosan, Ton. Bekerja di sini seperti robot, aku ingin waras, lagi pula kamu sudah bekerja sama dengan orang dari Singapura itu, apa yang membuatku kawatir? Kita tetap bisa makan setiap hari.” Nana tersenyum, dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi setidaknya Cahyo akan merasakan bagaimana saat dirinya pergi, mungkin dengan begitu Cahyo akan menghargainya.
Anton terkekeh, “Ya, aku juga tidak menyangka mendapatkan proyek sebesar ini. Mr datang begitu saja saat semua sudah limit, dia seperti dewa penolong.”
“Kapan proyek mulai berjalan?” Nana juga akan turun tangan, kekasihnya harus dapat dukungan penuh darinya, dengan begitu semua akan lebih baik.
“Besok. Datanglah kalau kamu mau.” Anton akan suka jika Nana ada di sana. Ditambah dengan anggukan dari Nana, sepertinya hidupnya akan lebih mudah lagi setelah ini, bukankah begitu?
Yuni... senja datang lebih cepat dari yang dia kira. Padahal seharian ini dia hanya di ruang baca, menemani mertuanya di sini setelah makan siang, hingga tinggal dirinya sendiri yang tak rela pergi setelah menemukan buku bagus menurutnya.
“Hhhssst!” Yuni meringis, dia ingin ke kamar mandi, tapi area sensitifnya sangat mengganggu. “Aku harus mandi. Kenapa ruang baca ini tak di lantai atas saja? Lebih dekat dengan kamar dan tak menyiksaku.” Yuni merengut, meski begitu dia tetap berjalan perlahan hingga sampai kamar, dan membersihkan diri. Setelah selesai mandi, dia malah membatu melihat Cahyo yang masuk kamar, kenapa saat dirinya hanya mengenakan handuk seperti ini?
Cahyo tersenyum, “Apa masih sakit?” Tanyanya sambil meregangkan dasi, melepas sepatu, dan bersiap untuk mandi juga.
Yuni menggeleng, “Mas, mau kubuatkan minuman hangat?”
“Tidak, Yun. Istirahat saja. Kamu sudah selesai?” Melihat Yuni mengangguk, “Bagus. Aku mandi dulu. Rasanya sangat gerah sekali.” Cahyo menyahut handuk dan berlalu melewati Yuni begitu saja.
Yuni menggigit bibir bawahnya sendiri, kenapa malah jadi canggung setelah kejadian semalam? Yuni tak nyaman di kamarnya sendiri. Setelah membuang napasnya kasar, Yuni pun ke ruang ganti, memilih gaun untuk dikenakan, dan Cahyo malam selesai mandi lebih cepat dari yang dia kira. “Mas, mandimu cepat sekali?” Yuni heran dengan kisaran waktu yang digunakan Cahyo.
“Aku mandi, Yun. Bukan berendam.” Cahyo memilih pakaian, sadar Yuni tak melakukan apa pun, dia menoleh juga, “Kamu akan seperti itu terus sampai nanti malam? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku? Atau mungkin kamu... ingin melakukannya lagi?”
“Tidak! Tentu saja bukan itu maksudku. Kenapa Mas bicara frontal sekali.” Yuni mengusap wajahnya, dia mengambil gaun sembarang, dan membelakangi Cahyo saat mengenakannya.
Cahyo terkekeh, dia tahu Yuni sedang gugup, tapi sepertinya sedikit mengajak Yuni bermain malah seru. Cahyo menempelkan tubuhnya ke Yuni, memeluk Yuni dari belakang, dan mengeratkannya. “Maaf, membuatmu menunggu selama ini. Aku tidak tahu seperti apa perasaanku padamu, tapi aku akan mencobanya." Mengecup tengkuk Yuni agak lama dan mengeratkan pelukannya lagi.
Yuni tersenyum, “Ak—aku sudah memaafkanmu, Mas. Jangan pernah mengatakan hal semacam itu lagi. Aku... suka Mas mau berubah.” Yuni harap semua ini tak akan pernah berakhir.
Cahyo mengangguk, “Cepat pakai bajumu. Aku tahu milikmu masih sakit. Umurku cukup mampu untuk menahannya, Yun. Aku tidak mau menyakitimu.” Mengecup tengkuk Yuni sekali lagi dan mengurai pelukan. Cahyo kembali mencari pakaiannya dan saat menoleh Yuni sudah ke luar dari ruang ganti ini.
__ADS_1
Yuni tak ingin tubuhnya jadi kaku karena terlalu lama di dalam. “Jangan sampai aku kena serangan jantung kalau sering dekat dengan mas Cahyo.” Duduk dan siap merias wajahnya. Baru saja mengambil krim dan ponsel Cahyo berdering. Dia mengambilnya, hanya sekedar ingin tahu siapa yang menelepon, tapi kenapa malah rasa sakitnya datang lagi? Yuni menarik napas panjang dan dalam, “Mas, Nana meneleponmu!”