
Cahyo menghela napas, Nana datang lagi ke kantornya, “Kenapa ke sini? Bukannya masih besok?” Tangannya berhenti di samping laptop, Cahyo sangat sibuk sekarang, dan Nana malah menambah beban.
Nana mencium pipi Cahyo, tadinya ingin ******* bibir itu sebentar, tapi Cahyo memalingkan wajah, jadi Nana hanya mendapatkan pipinya saja. “Aku mau mengajak kamu ke salon. Kalau kamu tahu pernikahan kita besok, ada apa dengan wajahmu? Kusut sekali?” Biasanya Cahyo selalu rapi, bukan kusut dan berjambang begini.
Cahyo terkekeh, “Beberapa hari ini aku sangat sibuk. Pergilah sendiri, Na. Aku tidak bisa ke luar, lusa juga aku tidak bisa cuti, jadi jangan manja untuk beberapa hari ini. Semua klien ingin pekerjaan kita cepat selesai.”
Nana mengerucutkan bibirnya, “Kamu banyak berubah, Cahyo. Semua karena Yuni, kan?”
Cahyo menatap Nana tajam, apa lagi saat Nana tertawa tiba-tiba, tak ada yang lucu, malah memancing emosinya saja. “Uangmu kurang? Aku akan mentransfernya sekarang.” Cahyo mengambil ponselnya.
“Cinta tak hanya membutuhkan uang, Cahyo. Waktu juga. Kamu tahu kan kalau kita tidak bisa membeli waktu?” Nana menggeleng dan itu sukses membuat Cahyo meletakkan kembali ponselnya. “Aku tahu Yuni meninggalkanmu, tapi aku dan anak kita membutuhkanmu, jadilah adil untukku juga." Nana berbalik dan pergi.
Cahyo mengepalkan tangannya sendiri, dia kesal dan ingin marah, tapi pada siapa? Semua hari begitu buruk dan dia tak tahu harus bagaimana. Malamnya, Cahyo yang malas tetap pulang juga, tapi kali ini berbeda, dia melihat papa dan mamanya di ruang keluarga, “Ma, Pa, sudah pulang?” Memberikan tas kerjanya ke pembantu dan meregangkan dasi yang dikenakan. 'Plak!' Tak ada kata yang ke luar setelah sebuah tamparan dari papa Cahyo mendarat di pipi. Hanya satu yang Cahyo bingungkan, kenapa papanya melakukan itu? Apa salahnya kali ini?
Papa Cahyo segera menarik kerah kemeja putranya, “Katakan dan jawab saja yang jujur. Apa Yuni sedang hamil?”
__ADS_1
Cahyo terkekeh, “Papa, sudah dengar? Apa yang membuat Papa menamparku? Kehamilan Yuni? Apa bedanya dengan kehamilan Nana, Pa?”
‘Plak! Plak! Plak!’ Entah apa dosanya di masa lalu sampai punya anak seperti Cahyo, “Di mana otakmu, hah?! Di mana?!!”
“Yuni tidak hamil anakku.” Cahyo menegaskan ucapannya.
Mama Cahyo yang dari tadi duduk sambil menangis, berdiri dan mendekati putranya meski segera ditahan oleh suaminya. Dia yang ingin memukuli Cahyo, ganti dengan memukul udara saat ini, “Bagaimana bisa kamu mengatakan hal semacam itu, Cahyo?! Mama tahu kalian sudah bersama, apa yang membuatmu ragu dengan Yuni? Itu cucuku, kembalikan cucuku, itu cucuku, Cahyo!!” Terus meraung, apa yang begitu diinginkan hilang begitu saja, dan semua karena kebodohan putranya itu, Cahyo.
“Karena aku mandul, Ma! Anakmu ini mandul!!” Cahyo lelah menyimpan semua sendiri. Bukan hanya mamanya yang berhenti menangis, bahkan papanya pun berhenti membela diri, kini Cahyo menjatuhkan diri di lantai, “Aku mandul, tak akan ada wanita yang bisa hamil denganku, tapi Nana berbeda, dia ikut program hamil dengan dokter yang menanganiku, lalu Yuni?” Cahyo menoleh ke mamanya sambil menggeleng, “Anak siapa itu, Ma? Apa Mama bisa memberiku jawaban, huh?!”
Dengan cepat Cahyo kembali dari kamar, mengambil sebuah amplop besar, dan membukanya. Tak sulit untuk mengeluarkan isinya dan Cahyo memberikannya ke mamanya, “Mama bisa datang dan ikut aku periksa kalau surat itu tak juga cukup meyakinkan Mama dan Papa.” Tak menunggu mamanya bicara, Cahyo duduk dengan lemah di kursi, “Aku melihat sendiri Yuni pergi beberapa kali dengan Hendra, makan siang, di kantor, bahkan mereka berpelukan di pantai. Apa yang harus membuatku ragu, Ma? Kalau di pikir aku di sini yang menjadi korban. Aku memang salah sudah menyiksa Yuni, membuatnya terluka, bahkan mungkin membekas juga di hatinya, tapi bagaimana dengan hatiku? Apa Mama dan Papa pernah memikirkannya?” Cahyo menggeleng, seolah apa yang dia simpan harus dikeluarkan saat ini juga, rasanya perih sekali.
Mama Cahyo menyeka air matanya, “Aku yang menyuruh Yuni dan Hendra, dia tak bisa naik mobil, kamu sibuk, dan kursus hanya memakan waktu. Yuni harus jadi wanita yang mandiri dan aku percaya menantuku tak akan setega itu bersama pria lain. Aku yakin itu, Pa.” Mendongak ke suaminya.
Tak bisa berkata-kata, papa Cahyo hanya diam, mencermati semua ucapan demi ucapan yang dia dengar. Saat ruang keluarga ini terlalu hening, papa Cahyo pun menghela napas, “Tidurlah, di kantor pasti lelah, kan? Besok hari besar untukmu, jangan sampai—“
__ADS_1
“Pa?!” Tentu saja protes, mama Cahyo tak setuju dengan usulan suaminya.
Mengusap punggung istrinya, “Bagaimana pun juga, Cahyo ini putra kita, Ma. Jangan terlalu keras padanya.” Menoleh ke putranya lagi, “Naiklah! Istirahat yang cukup untuk besok.”
Cahyo mengangguk, dia pergi dengan meninggalkan surat pernyataan mandulnya, aib itu terbongkar juga sekarang.
Ratih... sedang spa dengan Surya, dan dia menghela napas beberapa kali merasakan Yuni, “Aku bingung, Yuni dan Hendra temanku, dan aku tahu apa isi hati mereka.”
“Lalu?” Surya memijat kepala Ratih agar tidak pusing dan lebih segar untuk besok.
“Hendra mencintai Yuni, tapi dia sadar kalau tidak mungkin bersamanya, dia menyerah, dia berjanji akan mengenalkan pacarnya di pernikahanku besok, dan Yuni sangat mencintai Cahyo, tapi kenapa dengan pria itu? Kekerasan sangat dilarang, kan? Kenapa dia melakukannya?” Hanya itu yang membuat Ratih tak habis pikir.
Surya terkekeh, “Cahyo itu mencintai Yuni, awalnya memang tidak karena pernikahan itu mendadak dan terpaksa, tapi semakin lama cinta mereka pun tumbuh. Aku yakin Cahyo hanya tidak mengerti dan tahu bagaimana mengutarakan rasa cemburunya. Cahyo sangat mencintai Yuni, percayalah!”
Ratih menghela napas sambil mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Surya, Cahyo mencintai Yuni, dia sering mendengar seperti apa perhatian Cahyo ke Yuni, dan itu memang cinta. “Kalau besok dia berani datang ke acaraku, dia akan menyesal karena Yuni datang dengan pria dari Singapura. Apa kamu mengenalnya?” Ratih mendongak untuk melihat wajah Surya.
__ADS_1
“Singapura? Maksudmu Mr?” Melihat Ratih mengangguk, Surya jadi bisa menyimpulkan sesuatu, “Ceritakan lagi tentang mereka, apa Mr bersikap aneh dengan Yuni?”