
Cahyo terenyak, dia masih telanjang di ranjang apartemen bersama Yuni, permainan tadi siang sangat panas, dia menyadari itu, tapi dia juga mengingat sesuatu. Melihat Yuni yang masih tertidur pulas, Cahyo mengusap rambut itu, mengecupnya dan segera pergi dari apartemen.
Cukup jauh jarak apartemen yang ditinggali Yuni dan Nana, tapi semesta yang berpihak membuat perjalanan ini lancar sampai Cahyo bisa datang tepat waktu tanpa terlambat. Dia segera masuk, melihat Nana tersenyum di depan cermin, dia pun ikut tersenyum juga, “Belum selesai?”
Nana semakin melebarkan senyumnya, “Tidak akan lama. Aku tinggal memakai ini,” Mengambil lipstik, “dan selesai!” Mengembalikan lagi lipstik itu ke kotak make upnya dan mendekati Cahyo. “Pekerjaanmu selesai lebih cepat, kupikir aku yang akan menjemputmu, tapi aku suka kejutan ini.” Memeluk Cahyo erat.
Terkekeh, “Aku hanya tak ingin membuatmu repot.” Tangan Cahyo mengulur ke perut Nana, “Apa dia baik-baik saja di sana? Tempat itu cukup?”
Nana malah tertawa, “Tentu saja cukup, dia masih kecil, dan muat di perutmu. Kalau sudah sembilan bulan, dia besar, perutku tidak muat lagi, dia akan ke luar menemuimu.”
Cahyo tertawa juga, mencium pipi Nana singkat, dan menggandeng tangan Nana, “Ayo! Jalan akan macet kalau kita terlalu malam.” Dia pun segera mengajak Nana ke restoran untuk mencicipi makanan yang akan dihidangkan untuk pernikahannya nanti.
***
Esoknya... Yuni bersiap dengan penuh semangat, dia akan bertemu lagi dengan Cahyo, dan mungkin kejadian kemarin juga akan terulang kembali. Yuni sangat menyukai sentuhan itu. Dengan mobilnya, Yuni berangkat, dan tak ada orang di pantai selain Mr. Dengan gugup, Yuni merapikan rambut dan segera turun, “Anda sudah datang? Apa saya terlambat?” Rasanya tidak enak sekali.
__ADS_1
Mr terkekeh, “Tidak, Nona.” Mengulurkan tangan untuk menerima tangan Yuni dan mengecup punggung tangan, “Anda juga datang lebih pagi. Hm... kita bisa keliling sebentar?”
“Ya, tentu. Mari!” Jembatan itu setengah jadi, Yuni segera mengajak Mr naik dan mulai menyusuri bersama, “Apa yang Anda ingin ubah? Saya sangat menyukai tempat ini, kita bisa berbaur dengan penduduk lokal, dan saya yakin produk kita tak akan kalah.”
Mr mengangguk, “Iya, benar. Aku hanya ingin ada tempat yang lebih luas, musik secara langsung oleh artis lokal, dan mungkin juga tarian atau apa pun. Aku suka Indonesia dengan keragaman budayanya, Nona.” Mr mengajak Yuni duduk di tepi jembatan, laut di bawah menghanyutkan, di sini indah jika digunakan untuk memadu kasih. Dia pun menoleh, “Apa kita perlu menambahkan payung?”
Yuni mengerutkan kening, “Tidak sudah, Mr. Biar saja anak muda itu kepanasan, tapi bayangkan,“ Yuni berdiri dari tempat duduknya dan memilih duduk di lantai dengan kaki menjulur ke pantai, “akan sangat indah jika senja.” Menoleh dan tersenyum ke Mr.
Tertawa sambil menggeleng, Mr ikut duduk di sebelah Yuni, “Aku tidak yakin, tapi sepertinya menyenangkan, ah! Aku melupakan sesuatu.” Mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya ke Yuni, “Untukmu, Nona.”
“No, no, no. It’s yours.” Mendorong kotak itu lebih dekat lagi ke Yuni.
Yuni tersenyum lagi, “Terima kasih.” Memasukkan kotak itu ke tas kecil yang dibawanya, dan kembali menatap laut lepas.
“Hm... kudengar hubungan Anda dengan tuan Cahyo kurang baik, Nona.” Mr tersenyum saat Yuni menoleh, “Datanglah kalau Anda membutuhkan sebuah tempat.”
__ADS_1
Yuni malah terkekeh, “Mr, sebuah pernikahan selalu berliku.”
“Tapi aku serius. Datanglah kapan pun, selalu ada tempat untukmu, Nona.” Senyum Mr lebih lebar lagi. Dia meyakinkan dengan setulus hati.
Yuni terkesima, dia mengangguk untuk menghormati penawaran gila itu, dan semua malah mengingatkannya ke Cahyo. ‘Wajahnya terlihat menyukaimu dan aku tidak suka.’ Kalimat itu seolah berputar. Cahyo menebaknya dengan benar.
“Mr?!” Keduanya menoleh dan Cahyo tersenyum kecut, “Anda sudah datang?” Dia melihat mobil Yuni dan kini pemandangan di depannya juga bukan hal bagus.
Mr terkekeh, “Ya, sebenarnya tidak ada yang terlambat, tapi kami sudah membicarakan semuanya. Bukan begitu, Nona?” Menoleh kembali ke Yuni meski tangannya berjabatan dengan Cahyo.
“Ah! Iya ....” Yuni sangat tak enak ditempatkan dalam posisi seperti ini.
Cahyo masih tetap tersenyum, dia tak akan bertingkah bodoh, andai Mr bukan klien besarnya, mungkin sebuah pukulan lebih pantas. “Saya akan membicarakan tentang permintaan Anda dengan Yuni nanti.” Cahyo ikut tersenyum juga ke Yuni.
“Nona Yuni sudah setuju, bukan begitu?” Mr menoleh kembali. Dia suka jika punya banyak alasan memandang Yuni.
__ADS_1
Yuni hanya membuka mulutnya, dia tak tahu harus mengatakan apa, kenapa Mr seolah mengibarkan bendera perang begini?