
"Binar.....!!!"
"Binar...."
"Binar...."
Hisam terus saja memanggil-manggil nama istrinya,meski dengan suara yang lirih dan sangat lemah.
"Bu Widya hanya bisa menangis melihat keadaan putranya saat itu,karena Hisam pun menolak untuk di infus,bahkan mengusir Dokter Jayadi yang belum sempat memeriksanya keadaanya dengan akurat,Leo pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.Berkali-kali dia mencoba menghubungi Binar tapi telponnya tidak bisa tersambung.
"Dia berpikir kalau Saat ini yang bisa membuat tuan Hisam minum obat dan mau di infus hanyalah nona Mudanya,Dia tampak berpikir sangat keras sampai akhirnya dia mohon pamit pada Bu Widya untuk keluar sebentar.
*******
Siang berganti malam,Hisam tetap menolak untuk makan atau pun minum.
"Ayo sayang,"Biar sedikit saja,Dari kemarin perut kamu nggak di isi apa-apa"Bu Widya terus berusaha membujuknya untuk makan.
"Dia hanya mampu menggeleng,dengan wajah yang semakin pucat dan Bibir yang terlihat kering dan sedikit membiru karena mulai dehidrasi.
Bu Widya semakin khawatir melihat keadaan putranya saat itu,tanpa terasa air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya,masih terekam jelas di ingatannya saat dulu dia di hianati oleh wanita yang di cintainya,meski kelakuannya tak separah ini tapi butuh waktu yang lama untuk bisa membangkitkan semangat hidupnya kembali,bahkan beberapa minggu mogok makan dan kali ini dia sangat berharap kejadian itu takkan terulang lagi,karena ntah kenapa dia begitu yakin Putranya kini begitu mencintai istrinya,"
"Binar pulanglah Nak"ucapnya membatin sambil menghapus air matanya.Tak mau terlihat sedih di hadapan putranya.
"Bik,Bubur Ayamnya di simpan di sini saja dulu yah...???"Ucapnya pada Bik Ranti.
"Baik Nya"...kalau begitu saya mohon pamit ke belakang "pamit Bik Ranti dengan mata berkaca-kaca ikut merasa sedih melihat keadaan tuan mudanya saat itu.
Sepeninggal Bik Ranti,Tiba-tiba Leo muncul di balik pintu.
"Permisi..."Selamat malam Nyonya..."!!!
"Malam..."Eh Nak Leo...silahkan masuk !!!"Jawab Bu Widya sambil menyelimuti putranya.
"Bagaimana keadaan Tuan muda Nyonya??"
Mohon maaf tadi saya pamitnya hanya sebentar tapi baliknya baru sekarang,"Ucap Leo merasa sedikit bersalah sambil mendekat ingin melihat keadaan tuan mudanya lebih dekat lagi.
"Masih seperti ini keadaannya,Dia masih nggak mau makan,minum Air putih hanya seteguk saja,itu pun harus dipaksa"Keluh Bu Widya sedih.
"Mohon maaf Nyonya saya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu tuan muda,"Ujarnya merasa tak berguna.
"Jangan berkata seperti itu Nak,Kita sama-sama membujuk Dia yah..!!!Semoga saja dia mau mendengarkan Nak Leo ini"
"Tuan muda apa anda mendengarkan saya bicara...???Tanyanya.
"Hisam hanya mengangguk tanpa mau membuka mata.
"Sebaiknya anda makan dulu baru bisa minum obat,saya sudah menebus resep obat yang di tulis tadi oleh Dokter Jayadi,tapi beliau berpesan,agar Tuan muda harus makan dulu baru obatnya di minum,karena nggak baik efeknya jika minum obat dalam keadaan perut kosong...
"Aku nggak butuh obat itu,Buang saja sana"Potong Hisam dengan suara lemah sambil mata tetap terpejam.
"Leo menarik napas yang panjang,ternyata menghadapi anak kecil yang lagi malas makan lebih sulit ketimbang menghadapi laki-laki yang ada di hadapannya ini,
__ADS_1
"Anda tidak boleh terus-terusan seperti ini tuan,Anda akan semakin lemah jika anda menolak untuk makan,Kasihan nona dia akan merasa sedih melihat keadaan anda seperti ini"Ucap Leo pelan sengaja mengatas namakan Nona mudanya agar Tuannya itu bisa dibujuk dan mau makan sehingga bisa minum obat.
"Apa dia peduli padaku???Nggak kan...???Mana mungkin dia peduli...!!!"Ucapnya lirih seakan enggan untuk membuka matanya.
"Bu Widya dan Leo hanya bisa saling pandang mendengarnya.
"Nona Sangat peduli kok Tuan...!!!"Dia bahkan tidak tega melihat tuan muda dalam keadaan seperti ini...???"Ucap Leo sambil menoleh ke arah Pintu,Dan memberikan bahasa isyarat pada Bu Widya untuk mengikuti arah pandangannya.
"Tampak sosok yang sama-sama mereka rindukan berdiri tepat di depan pintu,melempar senyum ke arah Bu Widya.
"Bu Widya hampir saja memekik kaget tak percaya atas penglihatannya,Untung Leo langsung memberi kode agar mereka tak bersuara.
Pelan-pelan Bu Widya berdiri menyonsongnya,memeluk dan mencium beberapa kali.
"Bagaimana kabarmu sayang...???"
Mama sangat merindukan kamu,Mama sangat senang kamu mau datang"Ucap Bu Widya sambil menangis terisak.
"Perlahan air mata Binar pun jatuh menetes membasahi pipinya,dia tak mampu berkata-kata,apalagi saat melihat kondisi suaminya saat itu yang sedang terbaring lemah dan tak berdaya.
"Bagaimana keadaan mas Hisam ma...???"tanyanya dengan suara sengaja dipelankan,agar tak kedengaran oleh suaminya.
"Ayo...!!!"kamu lihat sendiri keadaannya sayang,sudah beberapa hari ini dia menolak makan,dia bahkan nggak mau minum obat,dia hanya terus mengigau memanggil nama kamu"Bu Widya memberi penjelasan sambil menuntunnya masuk dan mendekat ke arah Hisam yang tengah berbaring sambil memejamkan mata,dia belum menyadari kehadirannya saat itu.
"Bu Widya menyuruhnya untuk duduk di samping suaminya,sambil memberi isyarat pada Leo tanpa bersuara.Dan Leo pun bisa langsung mengerti dan paham,sambil menunduk sopan di depan Binar dia pun mohon pamit keluar.
Kini tinggal mereka berdua,Binar masih terdiam mengamati wajah suaminya saat itu,wajah tampan itu kini terlihat pucat memutih seakan tak ada darah yang mengalir,tubuh yang mulai mengurus dan tak terawat lagi seperti biasanya,semakin membuatnya terenyuh dan tanpa sadar air matanya kembali jatuh bersimbah membasahi pipinya,Tak tega melihat keadaan suaminya yang begitu memprihatinkan.
"Binar...."Ucapnya lirih bersamaan dengan mata terbuka sempurna.
"Secercah harapan langsung tergambar begitu nyata di wajahnya saat melihat tangan siapa yang sedang di genggamnya saat itu terlebih ketika ekor matanya menangkap sebuah sosok yang sangat dirindukannya kini tengah duduk di sampingnya sambil menatapnya sedih,perlahan namun pasti air matanya pun menggenang di pelupuk matanya sampai menghalangi pandangannya,tapi dengan cepat di hapusnya karena tak ingin ada yang menghalangi pandangannya menatap wanita yang begitu di rindukannya selama ini.
"Binar...."Panggilnya lirih,ingin memastikan lagi bahwa itu benar dirinya".Dia terlihat menggapai-gapai berusaha bangun agar dia bisa meraba wajah itu dan memastikan kalau sekarang dirinya tidak sedang bermimpi.
"Binar meraih kedua tangan suaminya yang berusaha menggapai wajahnya saat itu,karena tak punya kekuatan untuk berucap sepatah kata.Dia hanya mampu membiarkan Hisam menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya.
"Ini benar kamu sayang"Ucapnya lirih meski dengan suara yang sangat lemah.
"Binar hanya mengangguk pelan,Hisam langsung mendekapnya erat.
"Terima kasih kamu mau kembali,kamu tau aku sangat merindukan kamu"Bisiknya lirih di telinganya,lagi-lagi Binar hanya bisa membalasnya dengan anggukan di kepala,sesekali dia hanya terisak di dalam pelukan suaminya,membiarkan Hisam larut sendiri ke dalam perasaannya.
"Aku sangat mencintai kamu,jangan pernah pergi lagi dariku karena aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa kamu"Sambil menangis tersedu,Hisam kembali mengutarakan semua isi hatinya meluapkan segenap perasaan yang ada sambil mencium pipi dan kening istrinya bergantian.
"Mas Hisam kenapa bisa seperti ini...???"Tanya Binar dengan suara serak sesaat setelah perasaan mereka sudah mulai sama-sama tenang,sambil meraba kepala suaminya yang terasa sangat panas.
"Wah Panas sekali,Mas Hisam demam...!!!pekiknya kaget sambil mencoba melepaskan pelukannya.
Hisam seakan enggan untuk melepaskan pelukannya,meski kondisinya saat itu terlihat sangat lemah tapi melihat kedatangan istrinya dia langsung punya semangat dan seperti ada energi positif yang di salurkan sehingga membuat hidupnya kembali bergairah.
Tiba.-tiba.....
"Auwwhhhhh...."Rintih nya,sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Mas Hisam kenapa...???"
"Apanya yang sakit...??"Binar langsung panik.
"Perutku sangat sakit"Desisnya mencoba menahan sakit yang semakin menyiksanya.
"Ya..sudah mas Hisam berbaring saja dulu,jangan banyak gerak"Sahut Binar sambil membantunya berbaring kembali.
Hisam menuruti perkataannya saat itu,sambil terus memegangi perutnya,karena dia merasa kliyengan pusing dan goyah,dia pun mulai berkeringat dingin.
"Sekarang mas Hisam makan dulu yah..???"Baru minum obat...!!!"
Hisam hanya mengangguk lemah,Mata Binar tertuju ke arah bubur ayam yang ada di meja nakas.
"Mas Hisam mau makan bubur ini...???Atau aku suruh bik Ranti untuk manasi dulu yah,karena kelihatannya uda dingin"Sambil mendekatkan satu sendok bubur ayam itu ke dekat bibirnya ingin memastikan masih panas atau nggak...???Dan ternyata sudah dingin.
"Hisam menggeleng,
"Mas Hisam mau makan ini aja...???
"Kembali menggeleng..."
"Binar mengernyitkan keningnya bingung,kalau mas Hisam nggak mau makan lantas bagaimana mas bisa minum obat...???
"Aku mau makan,tapi bubur Ayam bikinan kamu..."pintanya dengan sorot mata memohon.
Binar begitu tersentuh mendengar permintaan suaminya barusan.
"Baiklah,mas Hisam bisa menunggu...??
Hisam mengangguk pelan,sambil mengenggam erat kedua tangannya menatapnya dengan penuh cinta.
"Mas Hisam kenapa menatap aku seperti itu..???Katanya mau di buatkan bubur Ayam???Nggak jadi Nih...???Tanyanya sambil tersenyum simpul,
"Jadi dong...."!!!
"Kalau gitu lepasin dulu tangannya...!!!"
Seulas Senyum tersungging di sudut bibirnya,lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Sebentar yah mas,..."
"Iya,jangan lama-lama yah..."!!!
"Sebentar Aja kok....!!!"
Ini aku bawa sekalian juga ke bawah yah..??Ucapnya sambil meraih bubur ayam bikinan Bik Ranti tadi.
"Iya bawa aja,
Hisam seakan tak mau lepas menatap istrinya,Dia begitu enggan untuk di tinggalkan walau hanya sebentar saja tapi rasa sakit diperutnya lebih tidak membuatnya tenang,dan memaksanya untuk sedikit berdamai dengan hatinya saat itu,karena sekarang dia lebih merindukan kehadiran istrinya masakannya hanya bonus.
*************$$$$$$$$$$$*************
__ADS_1