Cinta Dalam Perjanjian

Cinta Dalam Perjanjian
Hasrat yang tertunda


__ADS_3

Seminggu kemudian kondisi Hisam pun berangsur membaik,Dia kembali menjalani rutinitasnya di kantor.


Seperti pagi itu dia tampak begitu bersemangat sekali dan sepertinya sudah tidak sabar menunggu kedatangan seseorang yang akan menjadi Manajer keuangan yang baru sekaligus menjabat sebagai sekertaris senior.


Sambil menunggu,dia menyibukkan diri mengerjakan beberapa file-file perusahaan yang sempat terbengkalai selama beberapa hari ini dikala dirinya sedang sakit,meski beberapa sudah Leo kerjakan tapi dia ingin memeriksanya kembali takut ada yang terlewat atau tidak sesuai dengan prosedur perusahaan.


Sementara itu Binar baru saja memarkirkan motornya di garasi kantor,Garasi termewah yang pernah di jumpai nya,meski hanya barisan mobil-mobil mewah kelas atas yang terparkir di sana tapi tidak sedikit pun membuat nyalinya ciut untuk ikut mensejajarkan motor matic kesayangannya itu,Sambil membenahi pakaiannya dia setengah berlari memasuki lobi kantor.


Di Liriknya jarum Jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 8 lewat 45 menit,itu artinya dia sudah terlambat 45 menit dari jam Kantor.


"Astagfirullah....!!!"


Baru hari pertama masuk,sudah telat begini...???Batinnya.


"Dengan terburu-buru dia menyetor kartu identitasnya di meja Resepsionis yang kebetulan hari itu Siska yang sedang bertugas,Siska cukup tertegun saat Binar menyodorkan kartu tanda pengenalnya.


"Maaf Nona,Anda ada keperluan apa datang kemari...???Perasaan Tuan Hisam nggak ada Skejul hari ini...???"Jawab Siska sedikit bingung karena mengingat hari itu nggak ada kegiatan atau pun meeting yang akan di gelar di Salim group bahkan Tuan Hisam menunda semua jadwal meeting nya sampai besok dan bahkan tidak mau menerima tamu.


Meski dia cukup mengenali sosok Binar tapi tidak mungkin membiarkan dia masuk tanpa perintah dari Tuan Hisam karena Tuan Leo pun tak memberikan kabar padanya,


"Tapi saya sudah ada janji dengan beliau hari ini"Jawab Binar tak bergeming.


"Apa....???"


Sejak kapan anda punya janji...???


Bahkan di buku besar ini tidak tertulis apa-apa,Tuan Hisam tidak ada jadwal menerima tamu hari ini"Ucap Siska dengan nada sedikit ketus karena memang dari dulu tidak suka dengannya yang merasa selalu di istimewah kan oleh Tuan Leo.


"Sebaiknya anda pulang saja,"Lanjut Siska kembali mempertegas ucapannya sambil melemparkan kartu pengenal itu di hadapannya.


"Siska jangan kurang ajar kamu yah...??Kamu belum tau siapa beliau ini...???teriak Leo tiba-tiba,Sontak mengagetkan Siska.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini Nona,Mari Nona silahkan masuk,tuan muda sudah menunggu anda dari tadi,lain kali nona tidak perlu lagi menyetor kartu identitas anda seperti itu"Sahut Leo sambil memberinya jalan.


"Baik tuan Leo,


"Aku tunggu kamu di ruangan-ku Nanti..!!!"Tegas Leo dengan tatapan tajam sambil melirik Siska yang tak bergeming menatap kepergian mereka,


"Dasar asisten Sialan,Kenapa sih dia selalu saja datang sebagai dewa penolong untuk perempuan itu,padahal dia sudah hampir saja aku usir pergi"Ujar Siska sangat kesal karena dia masih mengingat dengan jelas saat Binar mengancamnya waktu itu ((Kamu tau kalau sekarang aku memang tengah mengandung benihnya)) Ntah kenapa ucapannya waktu itu tak bisa dia lupakan begitu saja,bahkan semakin menumbuhkan benih-benih kebencian di hatinya setiap kali melihat kemunculannya di kantor itu.


"Dasar wanita murahan,bilangnya hamil anak tuan Hisam tapi perutnya kok tetap rata begitu...???Sungutnya semakin kesal.


"Sekali lagi mohon maaf atas kelakuan Siska tadi Nona,Saya tidak tau bagaimana reaksi tuan muda jika sampai dia tau soal kejadian tadi,dia bisa marah besar dan mungkin saja akan berimbas buruk pada karir Nona Siska sendiri"Ucap Leo menyesali sikap Siska tadi sesaat mereka sudah berada di dalam lift.


"Kalau begitu jangan biarkan dia tau tuan Leo,"Timpal Binar,


"Baik Nona,mari silahkan...!!!"


Leo hanya bisa mengantar sampai depan pintu ruangan Pribadi Hisam,dia tak mungkin akan ikut masuk tanpa perintah dari tuan Hisam sendiri.


"Belum sempat Binar mengetuk pintu,sebuah suara sudah berseru memanggilnya dari dalam,


"Ayo masuklah,

__ADS_1


"Oh....Rupanya mas Hisam bisa langsung tau kedatangan aku"Batinnya sambil mendongak ke atas ke arah CCTV yang berada tepat di atas kepalanya.


Maaf mas,aku datang terlambat..."Jawabnya pelan,


Sambil menutup pintu kembali.


"Kemarilah,ayo mendekat kemari"Panggil Hisam saat melihat Binar tampak ragu-ragu.


"Ayo sini,Ajaknya sambil merentangkan kedua tangannya memberi isyarat pada istrinya agar lebih mendekat lagi,Binar tampak ragu dan sedikit malu namun Hisam langsung menarik kedua tangan istrinya dan menuntunnya duduk diatas pangkuannya membuat Binar kaget setengah mati,namun apa dayanya dia tidak bisa menolak ataupun mengelak lagi karena Hisam refleks merangkul pinggangnya.


"Padahal kan kamu bisa saja datang tepat waktu,kalau tadi pagi nggak ngeyel naik motor"Sahut Hisam sambil terus menahan Binar untuk tetap duduk di atas pangkuannya.


"Aku kangen dengan motor kesayangan aku mas,Jadi mumpung tadi ada sedikit kelonggaran jadi nggak mungkin aku sia-sia kan"ucapnya berusaha lepas dari pangkuan suaminya karena takut bakal kepergok oleh siapa saja yang bisa datang secara tiba-tiba.


"Tapi itu hanya berlaku untuk hari ini saja,untuk ke depannya kamu harus berangkat dengan mobil dan sopir pribadi"Lanjut Hisam tak peduli dengan Kondisi Istrinya yang mulai risih duduk di pangkuannya.


"Sopir pribadi...???


"Iya..."


"Tapi mas....???"""


Tidak ada tawar menawar lagi,


"Oke tapi biarkan aku duduk di sopa itu saja mas,Aku nggak nyaman di sini...!!!"


"Lho memangnya kenapa...???


Aku malah Nyaman kamu duduk seperti ini,malah lebih memperlancar pikiran aku dalam bekerja"Jawab Hisam begitu santai sambil tangan kanannya terus bekerja dengan laptopnya dan tangan kirinya mengalun mesra di pinggang istrinya.


"Nggak akan ada yang berani masuk kemari tanpa permisi,


"Iya tapi aku nggak nyaman aja duduk di sini,"Kilah Binar berusaha membujuk suaminya agar melepaskan rangkulannya.


"Oke,Baiklah tapi ada kompensasinya"


"Apa...????


"Cium dulu..."Sahut Hisam sambil menunjuk pipinya membuat Binar jadi salah tingkah.


"Ish....Nggak Ah,"Tolaknya dengan rona malu sambil mengalihkan wajahnya.


Hisam tersenyum penuh arti saat melihat istrinya membuang muka sambil tersipu malu,Tak ingin membuang waktu percuma dia membalikkan tubuh Istrinya kemudian meraih wajahnya agar mau berbalik menatapnya sehingga tatapan mereka bertemu,Binar bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang begitu berat, Dalam jarak sangat dekat,Pahatan sempurna wajah laki-laki itu membuatnya semakin terpesona dan tanpa sadar menelan ludahnya demi membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering apalagi saat Netranya melihat wajah suaminya mendekat dan semakin mendekat,


Lalu,


Perlahan Menyatukan Bibirnya,Menyalurkan perasaan yang semakin bergelora di dada.


Hisam semakin di luar kendali,gerakannya yang mulanya sangat pelan kini semakin cepat mencecap Bibirnya sampai dia kesulitan bernapas dan kewalahan,dirinya hanya bisa pasrah saat Hisam mengalunkan kedua tangannya ke bahunya agar bisa di jadikan pegangan dan tumpuan demi mengimbangi ciumannya itu.


Merasa tak nyaman dalam posisi seperti itu,Hisam langsung menggiring tubuh mungil itu masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak di pojok ruangan itu,sambil tak menghentikan aktivitasnya,malah terdengar suara decapan dan deru napas keduanya semakin memburu.


"Perlahan tubuh mereka tumbang bersamaan diatas kasur,sebuah kamar yang dia jadikan sebagai tempat tidur di kalah dia merasa lelah dan capek saat tengah bekerja di kantor.

__ADS_1


"Tangan Hisam mulai aktif bergerilya ke sana kemari,menjangkau yang tidak bisa di jangkau oleh kasat mata,Ciuman itu pun semakin dalam bahkan kini menuntut yang lebih,Binar merasa terlena dengan perlakuan suaminya yang begitu lembut,perlahan ciuman itu pun melorot turun di sertai dengan jari jemari Hisam yang mulai menyentuh kancing baju Binar,namun baru dua buah kancing yang sempat dia buka dengan cepat Binar tersadar dan mendorong tubuh kekar suaminya lalu terbangun duduk.


"Astagfirullah,Apa yang ingin kamu lakukan mas...???"Lirihnya sambil memperbaiki kancing bajunya.


"Dengan perasaan kesal bercampur kecewa Hisam pun bangun dan duduk di sampingnya.


"Terdengar deru napasnya yang masih memburu dan tak beraturan,"


"Dia mengusap kasar wajahnya,menahan kecewa dan gelombang hasrat yang mulai menggebu namun harus terhenti begitu saja."


"Dia menarik napas yang panjang,menyesali kelakuannya yang hampir saja tak terkendali,padahal Dokter Jay sudah mewanti-wantinya dari kemarin-kemarin agar menjauhi area terlarang itu sampai dengan waktu yang tidak bisa di tentukan,Sampai kondisi Binar benar-benar pulih dan siap lahir batin."


"Maafkan aku Sayang..."Ucapnya dengan suara serak karena menahan hasrat,


"Maafkan aku...."sambil menatap Binar dengan penuh penyesalan."


"Aku yang minta maaf mas,maaf kalau aku...???


Hisam langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuknya,


"Nggak usah di lanjutkan,kamu nggak perlu minta maaf itu semua karena aku yang tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuhmu"Ucapnya lalu mengecup keningnya.


"Binar begitu tidak tega menatap wajah suaminya yang terlihat kecewa demi meredakan hasratnya.


"Aku ke kamar mandi sebentar yah,mau cuci muka"Ucapnya segera bangkit tanpa menunggu tanggapan darinya.


Binar hanya bisa terdiam melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi.


Cukup lama Hisam baru keluar dari kamar mandi tapi di lihat dari wajahnya dia tampak segar dan lebih baik,


Dia melemparkan senyum melihat wajah istrinya yang begitu gelisah menantinya.


"Kelamaan yah...???"Ucapnya.


"Binar hanya mengangguk,kamu nggak usah tau apa yang aku lakuin, tapi itu lebih baik ketimbang harus membuatmu kesakitan,"Sambil tersenyum penuh arti dia duduk di samping istrinya kembali yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.


"Boleh minta cium lagi nggak...???"


"Apa...???"


"Iya hanya sebatas ciuman di pipi saja,Takutnya kebablasan lagi"Ucapnya sambil nyengir.


"Melihat sorot mata suaminya yang begitu tulus dan nggak main-main membuatnya jadi tidak tega untuk menolaknya.


Dengan malu-malu dia mencium pipi kanan suaminya,


"Kok cuman kanan doang...??yang kiri juga dong..???


"Apa...???"


Tapi dengan cepat dia kembali memberi ciuman ke kiri saat Hisam menyodorkan pipi kirinya,lalu menundukkan wajahnya malu tak berani menatap wajah suaminya yang terlihat berbunga-bunga karena telah berhasil menggodanya.


"Ya..udah yuukkkk,Kita keluar ada banyak kerjaan yang harus kamu kerjakan sebagai hukuman karena ini baru hari pertama kamu masuk kerja tapi sudah datang terlambat"Ujar Hisam sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Binar sempat melotot mendengarnya,tapi demi melihat senyum seringai dari bibir suaminya membuatnya hanya pasrah mengekor keluar.


****************$$$$$$$$$$$*************


__ADS_2