
Mobil yang dikendarai oleh David tiba di panti. David dan Keysha pun segera turun dari mobil. Mobil box yang berisi nasi kotak pun parkir tak jauh dari mobil David. Tak lama kemudian, mobil pengangkut sembako pun datang.
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam. Wanita tersebut memberikan sambutan hangat pada keduanya.
David dan Keysha menyalami punggung tangan wanita itu.
"Saya dan suami saya membawa oleh-oleh sedikit, Bu. Harap diterima," ucap Keysha.
"Terima kasih banyak, maaf kalau boleh tahu dengan Nak siapa?" tanya wanita tersebut.
"Keysha, Bu. Dan ini suami saya David." wanita itu pun tersenyum saat bertemu pandang dengan David.
"Anak-anak, ayo kesini! Kasih salam untuk tamu kita," ucap Ratih-pengurus panti.
Anak-anak yang tengah berada di dalam pun langsung keluar untuk menyalami keduanya. Keysha mengusap satu persatu puncak kepala anak-anak yang meraih tangannya.
Namun, pandangan Keysha mengarah pada satu anak. Seorang gadis yang tengah memeluk lututnya sembari duduk di pojok ruangan.
Setelah semua anak selesai menyalami Keysha, ia berjalan menuju gadis kecil yang ada di pojok ruangan tadi.
"Hai ...." Keysha mencoba menyapa gadis tersebut, tetapi gadis kecil itu tak membalas sapaan Keysha.
"Dia masih merasa terguncang, orang tuanya baru saja meninggal karena kebakaran," jelas Bu Ratih.
Keysha tersenyum lalu mencoba untuk mengelus puncak kepala gadis tersebut. Namun, gadis itu beringsut menjauh dari Keysha.
"Aku tidak akan menyakitimu, percayalah!" ucap Keysha.
Gadis kecil berumur sekitar 5 tahunan tersebut mendongak, menatap dalam saat Keysha melemparkan senyumnya.
"Siapa namamu?" tanya Keysha.
"Dini," timpal gadis itu lirih.
"Maaf, bisakah kau menguatkan volume suaramu? Aku tidak mendengarnya." Keysha menyelipkan rambut yang menutupi daun telinganya.
"Dini ...." gadis itu mengulangi ucapannya dengan suara yang sedikit keras. Keysha pun tersenyum sembari mengusap puncak kepala Dini dengan sayang.
"Senyum Tante mirip dengan ibuku," ujar gadis kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Keysha pun tertegun. Ia membawa Dini masuk ke dalam pelukannya. Melihat Dini yang menangis, membuat hati Keysha teriris.
"Aku rindu ibu hiks ...," ucap gadis itu sesegukan.
Keysha memegang bahu Dini. Ia menghapus air mata gadis kecil yang ada di hadapannya. "Jika melihat senyumku dapat menghapus kerinduanmu, aku bisa menjadi ibu bagimu," tutur Keysha.
__ADS_1
"Apakah kau bersedia menerimaku untuk menjadi ibumu?" tanya Keysha lagi.
Dini menatap Keysha dengan seksama. Perlahan ia pun menganggukkan kepalanya. Keysha tersenyum, ia kembali membawa gadis tersebut ke dalam pelukannya.
"Baiklah, mulai saat ini aku adalah ibumu dan kau adalah anakku," ujar Keysha.
Dini mengangguk, ia pun membawa gadis kecil tersebut untuk keluar dari ruangan. Menuju ke tempat pembagian nasi kotak yang ada di depan.
"Suamiku, tolong beri anak kita satu," ucap Keysha sembari tersenyum penuh arti.
David yang mendengar istrinya berucap demikian, langsung tertegun. "Anak?" tanya David mencoba untuk memastikan. Keysha pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Mulai saat ini, kau memanggilku dengan sebutan mama dan dia adalah papamu," ucap Keysha.
"Mama ...." Dini menatap ke arah Keysha.
"Papa ...." kini gadis kecil itu melayangkan pandangannya ke arah David.
Mendengar panggilan seperti itu, membuat hati David menghangat. Ia menghampiri Dini dan kemudian memeluk gadis kecil tersebut.
"Iya, Anakku." David tak kuasa menahan air matanya. Entah mengapa ia sangat terharu dengan panggilan itu.
"Suamiku, nanti kita menghadap ke Bu Ratih untuk mengurus surat-surat adopsinya Dini," ucap Keysha.
Dini mengangguk perlahan. Perasaan keduanya pun sangat bahagia. Meskipun belum diberikan seorang anak dari rahim Keysha, tetapi kini mereka memiliki sebuah anugerah yang di atur oleh Tuhan untuknya, yaitu Dini.
David mengambil nasi kotak yang ada di atas meja. Ia pun memberikan satu kotak nasi tersebut kepada Dini.
"Makanlah dahulu, Nak." David menyodorkan nasi kotak tersebut.
"Terima kasih, Papa." Dini meraih nasi kotak yang diberikan oleh David.
"Anak pintar," puji David sembari mengelus puncak kepala Dini.
"Ayo Nak kita duduk di sana, biarkan papa membantu untuk membagikan nasi terlebih dahulu," ajak Keysha.
Dini menganggukkan kepalanya. Keysha pun membawa Dini duduk di salah satu kursi. "Makanlah, Nak. Mama akan menemanimu di sini," ucap Keysha.
....
David dan Keysha saat ini tengah menghadap Bu Ratih untuk mengadopsi Dini. Bu Ratih menjelaskan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum hak asuh benar-benar jatuh ke tangan keduanya.
"Kami akan langsung mengurus semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan secepatnya, Bu." David meyakinkan Bu Ratih. Keputusan keduanya untuk mengangkat Dini menjadi anak mereka sudah mantap dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkan semua itu.
"Tapi ... bolehkah kami membawanya?" tanya David.
__ADS_1
Pria itu mengeluarkan kartu nama serta meninggalkan beberapa surat penting yang dibawanya sebagai jaminan.
"Kartu nama saja sudah cukup," ucap Bu Ratih yang mengembalikan surat-surat penting yang sempat dikeluarkan oleh David.
"Kami akan mengurus semuanya dengan segera, Bu. Terima kasih karena telah mempercayakannya kepada kami," ujar Keysha.
Bu Ratih tersenyum, "Saat melihat kalian berdua, aku melihat Dini kembali ceria. Saat berada di sini gadis kecil tersebut selalu terlihat murung. Tolong rawat Dini dengan baik," pesan Bu Ratih.
"Pasti, Bu. Kami akan merawatnya seperti anak sendiri," timpal David yakin.
Setelah cukup lama berada di tempat tersebut, keduanya pun berpamitan untuk pulang ke rumah. Dini menyalami Bu Ratih sebelum masuk ke dalam mobil.
"Jangan nakal ya sayang, mulai sekarang mereka adalah orang tuamu, jadi berbaktilah pada mereka." Bu Ratih mencium puncak kepala Dini sembari mengucapkan pesan tersebut.
"Kami pulang ya, Bu. Untuk persyaratannya akan kami urus dalam waktu dekat," ujar Keysha berpamitan pada Bu Ratih.
Keysha pun mengajak Dini untuk masuk ke dalam mobil. Saat mobil melaju, Dini sempat melambaikan tangannya sembari tersenyum.
"Sayang, kita singgah ke pusat perbelanjaan dulu untuk membeli perlengkapan Dini," ujar Keysha.
"Baiklah," ucap David seraya menginjak gas mobilnya menambah kecepatan laju kendaraan tersebut.
....
Keysha tampak memilih pakaian untuk keperluan Dini. Gadis tersebut mencocokan beberapa pakaian ke tubuh Dini, saat dirasa cocok ia pun segera membayar pakaian tersebut.
"Dini mau apa, Nak? Pilih saja, nanti mama akan belikan untukmu," tawar Keysha.
Gadis itu menggeleng pelan. "Dini tidak mau apa-apa, Ma. Pilihkan saja apapun untuk Dini, itu sudah lebih dari cukup," ujar gadis berusia lima tahun tersebut.
Keysha dan David menatap Dini sembari mengembangkan senyumnya. "Jika Dini menginginkan sesuatu, katakan saja pada mama atau pun papa. Kami akan membelikannya untukmu," ucap David.
Sore itu, mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja keperluan untuk Dini. Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali menuju ke rumah.
.
.
.
Bersambung...
jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️❤️❤️
yang belum favorit, cuss difavoritkan supaya mendapatkan notifikasi update terbarunya~
__ADS_1