
Sean menjatuhkan kembali tubuhnya di atas ranjang. Hari ini izin cuti beberapa hari paska menikah, sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan kantornya. Karena tanpa pengawasannya, perusahaan itu agak goyah. Sama sekali tidak ia percayakan pekerjaan beratnya pada anak buah kantor nya.
Sean tenggelamkan wajahnya di sebuah bantal berwarna putih miliknya. Bayangan Lexa selalu ada dalam benak pria itu. "Shitt! Aku kepikiran kantor. Tapi aku juga pengen istirahat beberapa hari ini. Buat tenangin pikiran untuk sekedar melupakan Lexa. Wanita jahanam itu sudah tidak pantas lagi untuk ku pikirkan."
Beberapa saat kemudian, terlihat Andrea masuk ke dalam kamar Sean dengan wajah tidak sedap dipandang. Sean masih memperhatikan langkahnya menuju keranjang tidurnya dengan berteriak. "Sean bangun!"
Pria yang masih malas menghadapi kehidupan itu enggan mengeluarkan wajahnya dari atas bantalnya. Hingga Andrea perlu tindakan khusus dengan menjewer kupingnya. "Bangun kata Mama!"
Sean kesakitan sampai meringis minta dilepas. "Astaga, sakit, Ma! Kira-kira dong! Ada apa Mama pagi buta ke kamar Sean?"
Andrea duduk di samping Sean yang duduk dengan bersila, sambil memegangi kupingnya yang masih terasa panas. "Apa yang kau perbuat pada Dania? Sampai dia nangis?"
Sean malas menjawab. 'Dasar bayik! Bisa-bisanya ngadu pada Mama!'
"Kenapa mukamu gitu! Jawab! Dia itu istrimu, dan kau baru menikahinya kemarin, Kenapa kamu menyuruhnya keluar dari kamar ini! Kau harus merubah sikapmu itu! Cintai dan sayangi dia setulus hati! Mama tidak mau kau membuat dia menangis lagi! Ngerti kamu Sean?" ancam Andrea dengan melipat tangan di pinggang.
Ia masih enggan menjawab. Namun atas desakan Andrea ia pura-pura menurut saja. "Ya, Ma."
****
Sementara hari berikutnya Alexa sudah dinyatakan pulang oleh dokter karena keadaannya sudah membaik. Terpaksa ia menerima tawaran Aston, untuk tinggal di kediamannya. Kali ini ia benar-benar tidak memiliki apapun. Beberapa bulan ia menunggak pembayaran di kontrakannya, ini diusir oleh pemilik rumah sederhana yang ada tempat itu.
__ADS_1
Untuk saat ini, ia tidak memiliki siapapun untuk dimintai pertolongan kecuali pada Aston saja. Dan senang hati pria itu mengajak Alexa tinggal bersamanya.
Sesampainya di kediaman Aston Marck.
"Bibi Ijah, tolong kamu bersihkan ruang tamu atas, akan ada yang menempati setelah ini. Ini juga tas tolong kau bawa ke sekalian. Dia akan menunggu diruang tamu bersamaku sebelum kamu selesai membersihkan kamarnya," ucap Aston Marck pada asisten rumah tangganya.
Aston tinggal sendiri di rumah itu bersama satu asisten yang membantu pekerjaan rumah. Kedua orang tuanya tinggal di luar negeri. Ia membangun perusahaan itu sendiri mulai dari nol. Ia kembangkan dengan kemampuannya, udah sampai saat ini perusahaan itu mencapai puncak kejayaannya. Semua didapatkan dari hasil usaha kerasnya yang tidak cukup dari satu sampai dua tahun.
Penjelasan Aston yang lumayan lama membuat Alexa merasa lapar, terdengar perutnya berbunyi berapa kali, sampai dibuat malu olehnya karena terdengar oleh pria di sampingnya itu. "Kau lapar, tunggu sebentar ya, aku lihat ke dapur apa ada makanan, kalau tidak ada, aku akan memesankan lewat delivery order." Alexa mengangguk tanpa bersuara.
Aston Marck tidak tampak lagi dari pandangan Lexa, karena tertutup dinding yang berada pada tiap ruang. Mata Lexa mengedar keseluruh sisi dinding. Banyak karya seni lukis yang terpampang di sana. Baru menyadari jika Aston Marck menyukai lukisan.
"Terimakasih Bik!"
Sejak hari itu, Lexa tinggal bersama Aston dalam satu atap. Bukan satu kamar. Lexa sedikit lebih bugar dari hari biasanya, sampai terkadang Bibi Ijah menggodanya. Karena tidak segera menikah saja dengan Tuannya yang baik hati.
Bibi menjelaskan jika pria itu tidak pernah sekalipun marah terhadapnya, dia sangat menjunjung sekali wanita. Dari bangku sekolah menengah atas, ia hidup mandiri hanya bersama bibi dan satpam yang terkadang meropel menjadi
seorang sopir nya.
Bibi Ijah juga bercerita bahwa ia pernah memasuki bangku kuliah, Di sana ia dibully beberapa teman nya. Mereka mengatakan jika Aston adalah pria cupu. Sebelum nama Aston adalah nama baru, sebelumnya pria itu bernama Miler. Karena sebuah hujatan yang bertubi-tubi, Bibi Ijah menyuruhnya untuk mengganti nama, dan melepas kaca mata tebal yang membuat dia dipandang buruk oleh orang lain.
__ADS_1
Di saat itu Alexa terdiam dan mengingat sesuatu tentang masa lalunya. Ia baru ingat jika pernah juga memiliki teman yang bernama Miller. Ia menanyakan tempat kuliah Aston pada saat itu, dan secara kebetulan universitas mereka sama. Dari itu Lexa sudah mengira jika Miller ini adalah teman satu kampusnya dulu yang dibully beberapa temannya karena dipandang buruk, dan rendah. Bahkan Sean pun ikut dalam pembullyan tersebut, dan dialah yang menjadi dewi penolong untuknya. Kurang dari 1 tahun mahasiswa itu keluar dari universitas tanpa kabar.
Lexa berkata tanpa suara. Ia tidak bisa tenang sebelum semua jelas. 'Mungkinkah Miller yang dimaksudkan Bibi, adalah Miller yang sama dengan mahasiswa itu? Aku pernah memberi harapan padanya, sekedar mensuport nya, tapi kala itu aku sudah menyukai Sean. Apa dia masih mengharapkan cinta itu? Oh, bersalahnya aku jika mengingat pria itu."
"Nona Lexa," panggil Bibi.
Lexa terkejut, wanita paruh baya itu memanggilnya, lamunannya buyar seketika. "Ya, Bik? Ada apa?"
Dengan malu-malu Bibi mengutarakan perihal yang tidak ia duga. " Apa Nona tidak ingin menikah dengan Tuan Aston?"
"Hah? Bibi bertanya apa? Hahah." Alexa tertawa, entah ia harus menjawab apa. Karena memikirkan masa depannya itu membuatnya takut.
"Sebenarnya Tuan Aston sangat menyukai Nona, sejak di bangku kuliah dulu," kata Bibi Ijah spontan. Semua yang ia katakan benar adanya, pria itu selalu mencurahkan isi hatinya pada bibi, karena Bibi Ijah sudah di anggapnya seperti ibunya sendiri.
"Apa, Bik? Bibi jangan bercanda. Masih sore loh!" Gurau Lexa. Sambil membantu pekerjaan wanita tua itu di dapur.
"Ya Nona, bibi tidak bercanda. Selama beberapa tahun, bibi tidak melihat Tuan bersama wanita manapun, dia sering bercerita tentang kamu Non," jelas Bibi, sambil membawa piring kotor dan mencucinya.
Lexa menatap tajam Bibi Ijah, dalam batinnya Apa benar yang dikatakan bibi. Jika Miller menunggunya? Lexa menepis pikirannya, dan kembali menyiapkan bahan-bahan yang akan di eksekusi untuk makan malam, sebelum Aston Marck datang dar kantornya.
Setelah itu, Lexa berhenti membicarakan Miller ataupun Aston. Lexa tidak ingin banyak tahu tentang pria itu. Cukup ia mengaguminya saja. Entah kedepannya ia tidak tahu. Sementara yang I pikirkan adalah bayi dalam kandungan yang akan bertambah besar.
__ADS_1