Cinta Dan Luka

Cinta Dan Luka
Bab 18 Akan Secepatnya Menikah


__ADS_3

Dania berjalan mendekati Sean yang terlihat bahagia bersama dua wanita cantik dengan tubuh padat memenuhi gaun minimnya itu. Ia menyuruh mereka pergi, karena pria yang tergeletak dengan menyandarkan punggungnya di sofa itu adalah suaminya. "Pergi kalian! Aku akan membawanya pergi, dia sudah mabuk berat!"


Di bantu oleh pak sopir mereka memapah kembali tubuh Sean yang setengah tidak sadar. Mulutnya sedikit banyak bersuara namun tidak jelas dalam pendengaran. "Bantu Masukkan ke dalam mobil, Pak!"


"Baik Nona, Dania."


Setelah di mobil, Sean kembali bicara, "Hey, Dania! Sku rasa kamu tidak punya kuping ya! Aku sudah berkata padamu, jika jangan selalu mencampuri urusanku, kenapa kamu tidak dengar? Apa aku harus bicara sampai ribuan kali hingga kamu paham! Hah?" tanya Sean, wajah yang kusam, mata yang di sipit-kan, dengan nada suara yang tidak jelas di dengar.


Dania tidak menjawab, Sean lagi tidak sadar, jadi dia tidak mau sampai terbawa emosi olehnya. Sean geram, karena ucapnya di abaikan oleh Dania. "Woy Dania! Kamu dengar gak sih aku bicara? Hah?" lagi, suaranya sedikit dikeraskan.


Ia memandangi Sean dengan iba, 'Astaga, kenapa pria ini berubah? Hanya karena cinta, Sean yang aku kenal pria berkarisma ini menjadi seorang pemabuk.'


"Aku dengar Sean, tidurlah disini, dipangkuan-ku. Saat tiba di rumahmu, aku bangunkan kamu." Dania mendorong kepala Sean agar diletakkan di atas pangkuannya. Tak lama kemudian pria itu memejamkan mata. Tangis iba wanita yang merasa menjadi istri teraniaya itu berjatuhan, sebagian terjatuh di wajah Sean. Segera ia mengusapnya.


'Aku mengira jika pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untukku, tapi ternyata semua angan-angan itu bertolak belakang dengan yang terjadi sekarang. Benar aku menjadi istrinya, tapi ia sama sekali tidak menganggapku sebagai bagian dari hidupnya. Sangat tragis, tapi inilah yang sekarang terjadi padaku. Akankah ku akhiri ini semua? Tidak! Aku tidak mau usahaku sia-sia. Aku harus memperjuangkan semuanya lagi. Aku mencintai Sean, aku tidak ingin pria ini dimiliki orang lain, cukup aku, dan selamanya!' ucapnya teguh tanpa suara.


Sesampainya di rumah Andrea, Pak sopir membantu Dania memapah lagi pria tak sadarkan diri itu naik ke lantai atas. Dania mencoba mencari ide, agar Sean mau sedikit membuka hati untuknya. Ia membuat drama kembali, dengan membuat foto-foto jepretannya sendiri dengan Sean dalam keadaan tidak sadar. Mungkin dengan membuatnya hamil olehnya, Sean akan berubah membuka hatinya untuk Dania.

__ADS_1


Semua foto yang ia ambil sudah siap, dan hasilnya cukup bagus, membuat Sean terkejut. "Haha, ternyata aku bakat juga menjadi seorang fotografer dadakan. Aku yakin setelah ini pria ini akan mencintaiku."


Kembali, keesokan harinya Dania berpura-pura masih terlelap, ia menunggu Sean bangun, dan melihat semuanya dengan nyata. Benar, tak lama kemudian, pria yang tidak mengenakan pakaiannya itu terbangun. Ia terkejut melihat dia dan Dania yang tertidur di sebelahnya, tanpa busana. "Astaga! Apa-apaan ini? Apa yang terjadi tadi malam!" Suaranya yang keras dan lantang membuat wanita yang menghadap ke dinding itu tersadar.


"Dania, apa yang terjadi semalam? Kenapa kita dalam keadaan seperti ini?" teriak Sean dalam murka.


"Maaf Sean, kau yang menginginkan semua ini, aku selaku istrimu hanya bisa patuh," ucap Dania dengan menundukkan kepala, sembari mengangkat selimutnya ke atas dada.


"Kenapa kau pergi ke bar dan membawaku pulang! Lancang sekali kamu Dania! Sudah aku katakan, aku tidak ingin dekat denganmu, apa lagi sekamar! Pakai pakaianmu, dan keluar dari sini, cepat!" bentaknya dengan mengacungkan jari telunjuknya kearah pintu.


Pria yang sudah berusia 25 tahun ini membuang muka, selagi Dania turun dan mengenakan pakaiannya. Ia tidak sedih meski Sean membentaknya, Karena setelah ini ia sangat yakin jika suaminya itu akan selamanya mencintainya. "Maafkan aku Sean, tapi semuanya sudah terjadi."


Brak!


Mantan kekasih Lexa itu membuang barang pecah belah di atas mejanya, darah seakan mendidih, tubuhnya mulai panas, masih tidak percaya dengan yang ia lakukan bersama istri yang hanya status saja. "Sialan!"


****

__ADS_1


Malam itu Aston mengajak Alexa pergi ke pernikahan rekan kerja bisnisnya. Mereka terlihat sangat serasi di mata pasangan yang hadir. Banyak yang iri melihat mereka, sampai tak sedikit yang ingin juga menjadi bagian dari kekasih Aston, ataupun kekasih Alexa. Mereka berdua bak pangeran dan putri di gedung itu.


Aston mengenalkan Lexa pada semua rekan yang hadir, ia mengatakan jika Alexa adalah calon istri dan tidak lama lagi akan menikahinya. Banyak pujian yang mereka dapatkan, bahkan doa-doa dipanjatkan untuk Aston dan Lexa.


"Wah, kalian pasangan serasi. Aku merasa iri jadinya, tampan dan cantik, keduanya benar kompak, selamat ya, semoga kalian bisa segera menyusul, jangan lupa kabar-kabar kalau mendekati hari H-nya," ucap seorang rekan kerja wanita Aston beda perusahaan dengan menjabat tangan keduanya.


Lexa tersenyum dan membalasnya. "Terimakasih semuanya, dan terimakasih juga untuk doa kalian."


Salah satu dari rekan mereka adalah teman Sean, ia menginformasikan pada mantan kekasih Lexa tersebut, jika mereka akan segera menikah. Entah bagaimana keadaan Sean kala itu. Hidupnya sudah hancur karena patah hati, dan sekarang kabar buruk itu sampai juga di telinganya.


Acara yang berlangsung meriah itu, membuat Lexa sudah hampir bisa melupakan Sean dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, perasaan cintanya pada Aston mulai tumbuh, ia yakin saat menjadi istrinya nanti sepenuh hidupnya hanya untuk pria itu. Tidak akan ada lagi ruang kosong bagi Sean.


"Aston, apa kamu sudah yakin akan menikahi aku, aku hanya wanita kotor. Dan aku hamil anak pria lain, apa kamu mau mengakuinya sebagai anakmu kelak?" tanya Lexa, berbisik di telinga Aston, saat mereka berdansa bersama dala acara puncak pesta.


"Kamu tidak melihat kesungguhanku? Aku benar-benar mencintai mu sejak dari dulu, aku tidak perduli kamu hamil sekalipun! Aku akan mencintaimu dan anak kita, aku janji," jawab Aston, hanya mereka yang bisa mendengar ucapan masing-masing.


Lexa tersenyum gembira, sebenarnya ia tidak yakin, jika akan ada pria yang mau menerima wanita yang sudah di hinakan sepertinya. Air mata berlinang dan mulai berjatuhan. Aston mendengar Lexa terisak, ia mencoba menenangkannya. "Hey, kenapa kamu menangis? Nanti orang berkata apa tentang aku? Aku sudah membuat wanita yang terlihat sempurna di pesta ini menangis? Ayo halus air mata itu sekarang, sebelum orang memperhatikan kita."

__ADS_1


"Ya Aston, bawel! Selain bawel kamu juag cerewet!" oloknya dengan tertawa.


"Dasar!"


__ADS_2