
Lexa menunggu Aston bicara, selepas ia meminta pertolongannya, pria itu terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. Alexa bertanya lagi, "Aston, Apa yang kau pikirkan? Jikalau kau tidak bisa membantuku, aku akan mencari tahu sendiri jawabannya."
Aston mencoba untuk berkata jujur padanya, Namun sepertinya sekarang ini belum saatnya. Terpaksa ia berbohong untuk menutupi. "Baiklah, Aku akan menolong mu, dengan satu syarat, kau harus mau menikah denganku secepatnya!"
Alexa terbelalak mendengar persyaratan yang baru diucapkan oleh Aston. "Hah? Menikah? Emangnya kau pikir perasaan itu bisa dibuat main-main? Tidak Aston, aku tidak bisa memenuhi persyaratanmu itu. Semua itu terasa berat."
Pria itu tertawa kecil, ia mengangkat kedua sudut bibirnya hingga terlihat melengkung. "Haha, memangnya kau pikir aku sedang serius? Enggak lah aku cuma bercanda. Sudah saat ini pikirkan untuk kesembuhan kamu dulu, biar semuanya serahkan padaku. Haha, tapi kau bisa berpikir untuk kedua kali, jika mau aku nikahi? Karena hubunganmu dengan Sean sudah tidak bisa disatukan kembali."
Perkataan itu membuat Alexa berpikir keras, ia sendiri tidak bisa memutuskan kehidupannya mendatang. Bagaimana jika ia hamil tanpa seorang ayah? Dan ketika ia lahir lalu besar menanyakan ayahnya, apa yang harus dia jelaskan pada malaikat kecil itu nanti? Tapi dalam dirinya ia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan, juga pun iya takut untuk mengetesnya.
Aston pamit pada Lexa, yang menyuruhnya untuk segera beristirahat agar kondisinya cepat pulih dan segera bisa pulang secepatnya. Terlihat dari wajahnya yang masih pucat karena tekanan darahnya rendah.
Suatu hal yang sudah direncanakan oleh Aston, ia mendatangi dokter yang menangani Alexa tadi, pria itu menyuruh dokter Arta untuk memberikan informasi palsu akan keadaan Lexa. Ia meminta dokter Arta menunjukkan bukti informasi jika Alexa sedang hamil. Aston memberinya sejumlah uang tutup mulut.
Setelah ia menjalankan aksinya itu pria yang dari awal sudah membohongi Alexa tersenyum menyeringai. Usahanya untuk mendapatkan wanita itu akan segera diwujudkan.
Dokter Artha siang itu memberikan sebuah suntikan yang ia campur dari suntikan selang infusnya. Di saat Lexa sedang beristirahat. Tidak ia ketahui ada dokter di ruangannya.
Selang beberapa jam kemudian ia dibangunkan oleh Aston untuk makan siang dan minum obat. Kala itu ia tidak nafsu makan, malah kali ini ia terasa mual-mual. Pria yang berpura-pura sabar itu, membantu dengan menyuapinya sedikit demi sedikit, namun beberapa kali ia memuntahkannya. "Ada apa denganku, Aston? Kemarin ataupun tadi pagi rasanya aku tidak apa-apa, berapa kali ini kondisi tubuh sangat lemah bahkan terasa mual terus menerus seperti ini?"
__ADS_1
Pria sok baik itu, menawari nya untuk makan sesuatu yang dia inginkan. Lexa menggelengkan kepala. "Aku tidak mau, Aston. Aku cuma ingin istirahat saja, badanku sangat lemas."
Kecemasan Aston dapat dilihat oleh Alexa, ia menilai dia adalah pria yang baik dan pengertian meskipun mereka baru saling mengenal. Namun Alexa salah, Aston adalah pria yang sudah menjadi temannya semasa kuliah dulu, Ia hanya pangling karena perubahannya yang besar. "Kamu tunggu sebentar ya, aku akan panggilkan dokter yang menangani-mu tadi!" Alexa menunduk.
Dokter masuk kembali kedalam ruang kamar Alexa, lalu membuat drama seakan ia memeriksanya dengan intensif. Tadi lakukan pengecekan, yang minta izin kepada keduanya untuk pergi ke laboratorium dan memeriksa hasilnya.
Tidak lama kemudian dokter Arta kembali dengan membawa satu lembar kertas putih yang berisikan hasil dari pemeriksaan yang ia lakukan sebelumnya dia menunjukkan kepada keduanya dengan mengangkat kedua sudut bibirnya ia tersenyum lebar.
Aston bertanya kepada dokter, "Bagaimana dokter kesehatan, Alexa? Apakah dia mengalami sakit yang serius hingga ia terlihat sangat lemas dan mual, apa yang terjadi padanya?"
Ia menyerahkan lembaran kertas itu kepada Aston dan berkata, "Selamat ya, Pak Aston. Anda akan segera menjadi seorang ayah." Sambil menjabat tangannya.
Aston tidak mengerti dan bertanya lagi untuk kedua kali, memastikan ucapan yang dikatakan oleh dokter Arta barusan benar adanya. "Dokter, apa benar Lexa hamil?"
Dokter Artha tertawa terbahak-bahak mendengarkan pertanyaan aneh Aston. Dokter pun menjelaskan perihal kehamilannya. "Haha, ya benar, istri anda sedang mengandung. Wajar jika ia mengalami kondisi tubuh yang lemah dan sering mual-mual ini adalah kehamilan trimester pertama, jadi saya harap anda dan istri anda menjaganya dengan baik karena pada masa itu, janin pada rahim istri anda masih sangat lemah."
"Baiklah terimakasih dokter Artha," ucap Aston dengan mengedipkan sebelah matanya.
Disaat pria berpakaian serba putih tadi keluar dari ruangan, Alexa terlihat semakin terpuruk dan menangis kembali, membelai telapak tangannya, dan menenangkan wanita itu untuk bersabar.
__ADS_1
"Sudah ya, kamu Jangan menangis lagi. Ingat kata dokter kamu harus menjaga kehamilan muda-mu ini. Jaga agar janin itu sehat. Kalau kamu sedih, dia juga ikut sedih," tuturnya, bak seorang suami menasehati istri.
Lexa dia tidak bergeming. "Kamu keluar saja Aston, aku mau istirahat. Kamu juga kan harus berkerja, jadi jangan sampai kamu kehilangan kesempatan emas buat kemenangan perusahaan kamu, hanya Karen menunggu aku disini."
"Tidak apa-apa, ada Fiva di kantor. Dia sudah menghandle semuanya. Aku akan menunggumu kk kamu sembuh," ucap Aston pengertian. "Maaf ya Pak Aston, aku harus bolos kerja. Padahal baru aku diterima di kant nnti."
"Gak apa-apa. Kan ini kamu lagi sakit. Uda aku tunggu sampai kamu sembuh," ucap Aston memberi pengertian.
"Terimakasih banyak ya Aston."
....
Sementara Sean kali ini sedang berada di diskotik besar, tempat di mana ia terkadang menempatkan seluruh kesalahannya dengan meneguk minuman beralkohol tinggi.
Tak jarang ia marah-marah kepada rekan yang ia ajaknya ke sana, bukan cuma itu saja ia sering ngamuk-ngamuk pada pelayan yang dinilainya kurang cekatan dalam melayaninya. "Woy wanita tidak terhormat, pelayananmu kurang memuaskan. Sekedar menuangkan minuman saja kau lamban sekali. Tahu tidak, kali ini aku sedang kesal. Jadi kau jangan menambahi kekesalanku, jika kau tidak mau aku menebar murka padamu! Cepat tuangkan lagi minuman itu!"
Wanita yang hanya bisa menerima perlakuan pembeli yang ia anggap raja itu hanya bisa diam saja dan menuruti kemauannya, terkadang kasihan juga jika mereka terus-terusan minum. "Tapi anda sudah menghabiskan 4 botol sendiri, Tuan. Apa sebaiknya tidak dihentikan saja daripada Anda nanti mabuk berat?"
Brak!
__ADS_1
"Woy, kau jangan berani-beraninya memerintahku, kamu itu hanya seorang pelayan yang bekerja di sini, hanya pelayan!" Bentaknya, setelah ia menggebrak satu tangan kanannya dengan keras di atas meja.