
Sesampainya di rumah sakit, Sean memanggil beberapa perawat jaga yang berada di depan pintu masuk rumah sakit tersebut. Ia menggendong tubuh Alexa dan meletakkan di ranjang pasien yang baru saja didorong didekatkan ke mobil Sean.
Pria yang masih memakai setelan jas rapi itu ikut mendorong ranjang Lexa bersama tiga orang perawat. Ruang UGD tidak jauh dari sana, mereka segera membawanya keruang utama itu.
"Isi data pasien dulu ya, Pak! Dan tunggu istri Anda di depan ruangan! Kami akan melakukan pemeriksaan dan observasi!" perintah salah satu perawat, perawat lain memanggil dokter umum.
Sean mengangguk pelan. "Baiklah!"
"Oh ya, apakah Bapak tidak perlu dirawat juga? Karena wajah Anda penuh luka, itu harus segera diobati! Takut infeksi." kata perawat memberi argument , seorang wanita yang memakai hijab putih selaras dengan seragamnya.
"Tidak perlu! Selamatkan saja wanita didalam ruangan;" titahnya.
"Baiklah, Pak!"
Tidak lama kemudian Dania dan Aston sudah sampai di sana, mereka buru-buru berlari ke arah Sean yang berdiri di depan ruang UGD. Berlipat tangan didada dengan perasaan cemas. "Bagaimana keadaan, Alexa!" tanya Aston.
"Kamu tidak perlu menanyakan keadaan Alexa! Sebaiknya kamu pergi dari sini, karena semua yang terjadi pada Alexa itu atas kesalahanmu! Biarkanlah dia di sini bersamaku, aku akan menjaganya! Bawa wanita ini juga!" Dengan menunduk Dania uang sudah berstatus istrinya.
Dania menggelengkan kepala. "Aku tidak mau pergi, aku akan menjaga Alexa bersamamu. Karena kamu suamiku dan dia sahabatku," ucap Dania penuh sandiwara.
"Bullshit! Haha, perkataan mu sungguh membuatku geli! Sudahlah Dania, kamu pergi dari sini, atau saat ini juga aku talak kamu!" ancam Sean, membuat Dania bergidik.
Wanita itu meneteskan air mata. Tidak dia sangka Sean bisa mengucapkan kata-kata terlarang dalam suatu hubungan pernikahan. Padahal akad nikah baru dilangsungkan tadi pagi.
__ADS_1
Dania menyeka air matanya. "Sean, please jangan sebut kata itu, aku tidak ingin mendengarkannya lagi." Dania terpaksa memutar tubuhnya meninggalkan Sean yang tidak peduli padanya sambil berlari.
Diluar rumah sakit, mulut Dania tidak berhenti menyulut, mengumpat, karena ini masih menjadi masalah serius untuknya. Alexa akan selalu menjadi bayang-bayang hubungannya dengan Sean.
"Aku tidak perduli, jika wanita itu mati sekalian. Aku akan membunuhnya sekarang juga bila perlu!" ancam Dania berkata sendiri.
Wanita itu mengingat jika Aston belum mengirimkan video yang sudah dia buat sedemikian rupa hingga Alexa nampak menjadi wanita menjijikkan di atas ranjang bersamanya pada malam itu. Itu akan menjadi satu ancaman untuk Lexa, dan Sean akan meninggalkan reksa untuk selamanya. Karena perbuatan terkutuk yang tidak ia lakukan.
"Haha, benar. Aku akan mengirimkan video atas perbuatan menjijikkannya Lexa. Kartu as akan kembali untukku, ingat Lexa, kau tidak akan menjadi siapapun lagi, aku bersumpah! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah masuk pada kehidupan saya kembali," ucapnya dengan menyeringai.
Beberapa saat kemudian setelah dokter dan para perawat menangani Alexa di dalam ruangan UGD. Salah satu dari perawat itu keluar, wanita yang berseragam putih itu disambut Sean dan Aston mereka segera berjalan ke arahnya. Sean bertanya padanya, "Sus, Bagaimana keadaan wanita di dalam? Apakah dia baik-baik saja?"
Wanita itu tersenyum sambil mengatakan, "Bersyukurlah keadaannya baik-baik saja, dia hanya terkejut oleh sebuah hantaman diwajahnya, masih terlihat lebam namun tenang kami sudah mengobatinya, dan sebentar lagi dia akan segera sadar."
"Saya permisi ya," ucapnya seraya berjalan meninggalkan mereka.
Satu dokter pria baru keluar dari ruang Lexa, menyampaikan kepada kedua pria yang masih berdiri di depan ruang, jika setelah ini Lexa akan dipindahkan ke ruang inap.
Selang beberapa menit kemudian, Lexa mengerjapkan kedua netranya beberapa kali, untuk mendapatkan pandangan yang jelas. Kali ini kedua netranya belum bisa melihat sekelilingnya dengan baik. Hingga ia harus membantu dengan kedua tangannya untuk mengusapnya.
Setelah benar-benar jelas Ia baru sadar jika saat ini sedang berada di dalam ruangan sebuah rumah sakit. Ia melihat beberapa peralatan medis menyatu dengan tubuhnya. Ia mengerengitkan kening sambil menyipitkan kedua mata karena merasakan nyeri di wajahnya akibat pukulan Aston yang tidak sengaja mengenainya.
Ia baru sadar ada dua orang pria sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sean? Aston? Kalian di sini menungguku?"
__ADS_1
"Syukurlah kau sudah sadar! Bagaimana keadaanmu sekarang Alexa? Apa yang kau rasakan?" tanya Sean dengan cemas. Yang membelai rambut Lexa yang tergerai disebuah bantal berwarna putih, dengan menunduk, memperhatikan keadaan wajahnya yang terlihat memar.
Pemandangan itu membuat Aston cemburu, rasanya ia ingin menghajar ulang Sean, padahal saat ini dia sudah terikat pernikahan dengan Dania. Masih saja terang-terangan mendekati Alexa dengan cara seperti ini.
Lexa terlihat menjauhi Sean, bukannya ia tidak ingin dekat-dekat dengan pria itu, " Aku sudah tidak apa-apa, sebaiknya kamu pulang karena Dania menunggu. Kau sudah menjadi suami Dania, jaga dia baik-baik Sean, kau jangan sampai melukai hatinya," pesan Lexa padanya. Meski sebenarnya hatinya tidak ingin mengatakan hal itu.
"Kau tidak dengar Sean? Alexa memintamu untuk pergi dari ruangan ini. Jadi sekarang angkat kaki dari tempat ini biar Alexa Aku yang menjaga! Aku adalah kekasihnya, dan kau sudah menjadi mantan bahkan suami orang!" suruh Aston dengan menggertakkan gigi-giginya.
'Maafkan aku Sean, aku tidak sanggup mengatakan hal itu,' batin Lexa.
"Maaf, pergilah! Dan maafkan aku karena telah merusak acara pesta pernikahan mu," ucap Lexa, menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis.
"Aku masih menyayangimu Lexa!" ungkap Sean tanpa ragu .
"Jika kau masih menyayangi Lexa, apa yang telah kau buat saat kalian berdansa tadi? Kau melemparkan menjatuhkannya ia tersungkur ke lantai! Apa itu yang dinamakan cinta? Sudahlah semua omong kosong pergi saja kau dari sini!" Kata Aston.
Ting Ting Ting!
Sebuah pesan dari ponsel Sean berbunyi, ada beberapa pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau. Ia menghentikan percakapannya dengan mereka dan bergegas mengambil ponsel di dalam saku celananya.
Berapa chat dari kontak Dania. Sebenarnya ia malas membuka namun kali ini bukan pesan yang ia kirim, melainkan beberapa video berdurasi panjang. Sean penasaran dan segera ia membukanya.
Satu pesan chat video dari atas ia bukannya, kedua mata Sean bulat sempurna, sepertinya ia ingin mempertegas video yang ia lihat. Benar saja dengan jelas ia melihat wajah wanita yang berada di atas ranjang tanpa busana tersebut. Bukan wanita lain melainkan Alexa. Darahnya seakan mendidih melihat pemandangan menjijikkan itu.
__ADS_1
"Bia_dap!" ucapnya dengan tegas penuh kemarahan.
Ucapan Sean membuat keduanya terkejut. Apa yang sebenarnya ia lihat dari benda pipih yang baru dipegangnya.