
Matahari pagi kembali bersinar dari ufuk timur, sinarnya tampak sangat terang menyinari bumi seisinya. Langit terlihat cerah. Tidak ada awan mendung yang cahayanya terhalang
Terdengar beberapa kali ayam bertengger di atap dan bersenandung indah seperti biasanya. Seolah ia sedang membangunkan mereka yang masih terlelap.
Sungguh nuansa alam pedesaan dekat pantai ini sangat indah, begitu juga udaranya yang bersih. Membuat mereka yang mampir ke sana betah berlama-lama. Menikmati keindahan alam ini.
Pagi itu, Alexa baru sadar jika ia telat bangun. Matanya ia kerjapkan beberapa kali, hingga semua pandangan jelas terlihat.
Melihat kearah jendela, ternyata ia kesiangan bangun. Matahari sudah sangat terik sekali. Bagaimana mungkin ia bisa bangun sesiang ini. Bergegas ia turun, dan mencari Ibu Dewi.
Tampak disana, ia sedang membungkuk menyapu pekarangan rumah, Lexa menghampirinya dan turut serta membantunya.
"Sini Buk, biar saya yang bersihkan, maaf ya saya tidur pulas sekali, hingga saya tidak tahu waktu untuk bangun pagi," ucap Lexa sembari melanjutkan pekerjaan Ibu Dewi.
Wanita itu menjawab tidak masalah sedikitpun jika dia bangun siang. Sambil bekerja, ia menanyakan Sean. Karena ia tidak melihatnya pagi ini.
Ia mencoba membantu pekerjaan suaminya di kebun. Alexa tersenyum, pria itu mandiri. Meski kadang usil dia membantu tetap orang yang berbaik hati padanya.
"Oh seperti itu ya, dia baik kan , Bu Dewi?" tanya Lexa mencoba pendapat orang lain juga.
"Sangat baik."
Dor!
"Hayo, kalian ngomongin aku ya!"
Terdengar suara Sean dari belakang mereka. "Bisa tidak kamu bicara pelan? Kasihan Ibu Dewi sampai terkejut lho!"
Sean segera minta maaf pada beliau. Kali ini ia ingin mengajak Lexa bermain ke pantai. Sudah lama sekali mereka tidak pergi bersama.
Setelah membersihkan diri, mereka berjalan bersama ke pantai, yang letaknya tidak jauh dari sana.
Pria itu menutupi sebagian wajahnya, aga tidak yang mengenalinya.
__ADS_1
Sesampainya disana ...
Lexa terharu, tidak disangkanya ia bisa datang kemari bersama pria itu lagi. Hingga air mata itu tak dapat dibendungnya
Sean yang berjalan bergandengan dengan tangannya itu, mendengar Isak Lexa. Ia lepaskan tangan wanita itu, dan di menghadap kearahnya.
Jarinya menyeka guliran air mata yang membasahi pipinya itu." Kamu kenapa menangis begitu?" tanya Sean.
Dengan memegang dagu Alexa. Ia melihat itu hanya air mata kebahagiaan.
"Aku gak kenapa-kenapa. Hanya teringat saat kita bermain disini dulu bersama. Disaat kamu sudah menjadi milik orang lain, seketika itu harapanku pupus saat itu juga. Aku akan kehilangan kamu untuk selamanya Sean," ucap Alexa lirih.
"Dan saat ini bagaimana? Kamu tidak bisa mengatakan pada hatimu? Jika kita akan kembali bersatu? Sungguh cinta itu sangat sulit ku lupakan, berdiri bersamamu seperti ini saja, aku sangat bahagia Alexa." Meski ikut bersedih, ia tetap mencoba tersenyum.
Sean memeluk tubuh Alexa erat, beberapa kali ia melakukan ini untuk menghapus rasa rindu mereka. Cinta yg mereka tanam sejak masa kuliah dulu, hingga kini, rasa cinta ini tak pernah berubah.
Sean melepas pelukan itu. Dan menyeret tangan Lexa hingga ke bibir pantai. Mereka bak anak kecil yang bermain pasir disana, hanya mereka yang melakukan itu. Kebahagiaan nutupi rasa malunya.
Mereka membentuk sebuah istana pasir dan menulis nama Sean dan Lexa disana.
"Aku bahagia Sean, tapi bagaimana kedepannya hubungan kita? Kau sudah memiliki Dania, kalau aku, aku tidak akan mungkin kembali pada pria brengsek itu, lebih baik aku sendiri daripada bersamanya," ucap Lexa, dengan menguyur baju Sean dengan air yang tiba-tiba datang dari hantaman gelombang yang mengenai dirinya.
Sean tidak terima dan membalas nya. Sungguh keduanya seperti pasangan muda mudi yang sedang beradu kasih.
"Aku akan ceraikan, Dania. Di saat kamu sudah menjadi janda. Aku akan menikahimu, Lexa." Sean sepertinya ringan saja mengatakan hal itu.
"Lihatlah! Bukannya dia pria yang berada di beberapa media sosial dan cetak? Anak dari Direktur utama Andrea. Yang memberikan iming-iming uang 100 juta pada seseorang yang akan menemanimu.
Terdengar suara teriakan itu di telinga Sean, Ia menoleh, dan mengajak Lexa kabur dari sana.
Kedua orang yang tadi terdengar membicarakannya, ternyata mengejar mereka.
"Ayo tangkap pria itu!" teriaknya, terdengar ditelinga.
__ADS_1
Langkah kaki Alexa tidak mampu mengimbangi langkah kaki Sean untuk berlari. Hingga ia berulang kali jatuh bangun karenanya.
"Lebih baik kamu tinggalkan aku saja, Sean. Aku tidak bisa mengimbangimu untuk berlari. Karena saat ini keselamatanmu yang lebih penting!" suruh Lexa. Sudah merasakan pegal dikakinya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, kita pergi bersama dan pulang bersama, kita akan selalu bersama selamanya!" ucapnya tegas.
Lexa tersenyum dan berusaha sekuat nya untuk berlari dan menggandeng tangan Sean.
Di sebuah tikungan ia berhenti dan bersembunyi di sana. Hampir nafasnya putus, karena maraton yang dilaluinya barusan.
Alexa Ingin tertawa, namun cepat-cepat Sean membungkamnya. "Jangan mengeluarkan suara nanti terdengar, tahan!" ucap Sean, lirih.
Lexa menutup rapat mulut dan hidungnya sementara waktu dibalik lubang celah, dilihat mereka sudah berlari pergi meninggalkan mereka.
Lexa serta Sean keluar dengan lega. "Duh tempat ini membuat aku harus selalu maraton tiap saat. Aku gak ingin pergi dari sini karena pemandangannya yang indah, tapi rasanya tempat ini, ingin aku segera lekang dari sini. Masa dua kali aku di kejar-kejar gini? Haha."
Sean siang ini berniat mengajak Alexa kembali. Dia harus yakin jika wanitanya Sean bisa melindunginya.
Alexa masih takut kemurkaan Aston yang memiliki kepribadian ganda itu. Apa yang harus dia perbuat untuk menghindarinya. Tapi, disampingnya sudah ada Sean yang dia yakini bisa menjaganya.
Waktu sudah berlalu, tibalah ia berpamitan dengan Ibu Dewi. Wanita itu sangat berat melepas mereka pergi, namun Alexa mengatakan akan datang kembali ke sini untuk menjaga silahturahmi mereka bersama Sean. Setelah berterima kasih, mereka segera pergi. Dengan sedikit uang Sean yang ia pegang. Sean kembali pulang bersama Alexa, dengan senyum yang tidak ada pernah mereka kembangkan sebelumnya.
"Kamu takut Lexa?" tanya Sean saat mereka menginjakkan kaki di rumahnya.
Di depan pintu rumahnya, terlihat Dania berdiri. Matanya berbinar-binar melihat suaminya kembali.
"Sayang? Kau kah itu? Akhirnya kau pulang juga!" sapa Dania. Ia mengembangkan senyumnya untuk wanita itu.
Namun saat ia melihat Alexa dibelakangnya, wajahnya berubah. Bahkan sepertinya ia tidak terima Sean bersamanya. "Kenapa kau membawa Alexa kemari?"
"Cukup! Aku tidak ingin kamu banyak bicara. Semuanya sudah Alexa ceritakan padaku. Dan aku sangat muak melihatmu!" oloknya.
Ia menerobos pintu yang ia hadang dengan menggandeng tangan Alexa.
__ADS_1
Ada sesuatu dari wajah Dania yang ditutupi, dia seperti sedang ketakutan.