
Alexa melihat ke semua sudut ruangan, ia merasa asing di sana. Masih memegangi kepalanya yang terasa pening. Terakhir kali ia mengingat setelah kabur dari beberapa preman, dan ia tidak sadar setelah itu.
Terdengar suara langkah kaki, semakin jelas mendekat ke arahnya, dia melihat di sana ada perempuan paruh baya sedang membawakan sebuah makanan dan minuman dalam gelas.
"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya wanita itu, dengan menyodorkan makanan itu ke arahnya.
"Saya ada di mana, Bu? Kenapa saya ada di sini?" Lexa masih bingung.
"Minumlah dulu supaya kamu lebih tenang, nanti saya ada yang jelaskan padamu," suruh wanita itu.
Beberapa saat kemudian ada seorang pria yang datang kesana. Ia menggunakan topi menutupi wajahnya. Alexa sepertinya mengenal postur tubuh pria itu, sangat tidak asing baginya.
"Siapa pria itu, Bu?" tanya Lexa kembali.
Perlahan Ia membuka topi itu, netranya sangat memperhatikannya dengan perlahan. Dalam hatinya ia menerka. 'Mungkinkah itu, Sean?' dia menepis semuanya sebelum tahu wajah asli nya.
Saat tidak ada penghalang, menghalangi wajahnya ia bisa melihat sikap pria itu adalah kekasihnya dulu.
"Sean? Benarkah itu kamu?" Sapanya lirih, sambil mencerna apa yang baru ia lihatnya. Merasa tidak percaya dengan semua yang dilihatnya sekarang.
Pria itu berjalan pelan ke arahnya, ia mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Lexa, aku Sean. Kamu tidak sedang berhalusinasi, ini aku Sean." Jelasnya pada Lexa.
Wanita paruh baya itu hampir menangis melihat mereka. Ada segurat kesedihan yang membuatnya menitihkan air mata.
"Silahkan kalian bicara satu sama lain, aku tinggalkan supaya bisa berbicara dengan nyaman." Wanita itu meninggalkan mereka.
Dua orang itu saling melepas rindu, membuat tidak sadar ucapan Ibu saat akan pergi, tak masalah buatnya. Karena keduanya sedang fokus pada perasaan mereka masing-masing.
"Sean, aku minta maaf! Seharusnya aku tidak langsung bicara seperti itu padamu, hingga membuat pernikahan kita di batalkan. Sekali lagi, aku menyesal. Semuanya sudah terlambat. Dan kau sudah menikah dengan Dania," jelasnya dengan perasan sedihnya.
Sean menekan bibir Lexa untuk diam dengan jari telunjuknya. Ia tidak ingin wanita itu melanjutkan ucapannya. "Bisa diam?"
__ADS_1
Segera ia menarik tubuhnya, lalu memeluknya dengan erat. Tidak banyak yang mereka katakan, dia diam merasakan kehangatan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Biarlah seperti ini dulu dalam waktu lamanya. Air mata Alexa tidak mampu lagi di cegahnya untuk turun. Tergelincir saja tanpa di aba-aba.
Semua tercurahkan dalam pelukan kerinduan mereka. "Apa sudah selesai kangennya? Malah nangis bukannya tertawa, gimana sih kamu? Gak senang ya bertemu aku?"
Sean melepas tubuh Lexa, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya. Wanita itu tersenyum bahagia. "Kamu jangan mengajak aku bercanda di saat seperti ini, biarlah untuk sementara waktu dunia milik kita berdua. Aku ingin kau selalu bersamamu seperti ini Sean, please ... "
Suara Lexa parau, hampir tercekik di tenggorokan. Ia tidak bisa menghentikan Isak tangisnya. Mencoba untuk mengehentikan namun tidak mampu. Terlalu bahagianya Lexa.
"Udah donk Lexa, apa lagi yang membuat kamu menangis seperti ini? Please ... " Ungkap Sean, kembali menyeka air mata Alexa.
"Ini air mata kebahagiaan, Sean. Syukurlah aku bisa menemukanmu."
Mereka mencurahkan semua yang ada di hati masing-masing. Hingga terpikirkan ia pada sosok Aston yang berbeda .
"Bagaimana bisa kamu sampai di sini? Apa kamu melarikan diri dari Aston? Hah?" tanya Sean dengan mengangkat dagu Lexa.
Sean menggeleng, menunggu Lexa melanjutkan ucapannya tadi..
"Semua yang membuat drama adalah Aston! Ia yang telah yang telah melakukan semuanya tanpa kita tahu, kamu tahu dia juga yang berada di dalam video itu."
"Kapan kita kembali, Sean? Aku masih takut berhadapan dengan pria itu, kemarin dia menyekap-ku di dalam kamar, setelah saat ku tahu dia ternyata sekongkol dengan Dania, aku tidak bisa memaafkan kesalahan yang begitu saja." Lexa menggenggam jari Sean yang masih terpaku melihatnya.
Sean menggeleng kepala, ia tidak tahu jika Dania pun terlihat di dalamnya. Tenyata wanita itu hanya berkedok malaikat saja, di depan teman
tapi ia pun juga ternyata musuh terbesar..
"Maafkan aku ya Lexa karena telah mempercayai Dania. Tapi jujur dari awal aku tidak memercayainya."
Sean menyuruh wanita itu makan dulu , untuk mengisi perutnya yang terus menerus bernyanyi riang.
__ADS_1
"Udah jangan banyak bicara lebih baik sekarang kamu isi perutmu, apa mau aku suapi ? Aku rindu masa-masa ini," ucap Sean membuat Alexa tersenyum.
"Karena kamu telah berhasil menemukanku.
Apakah kamu mau menerima uang yang dijanjikan oleh mamaku? Hehe." Sean bergurau, hampir membuat Lexa tersedak, yang kala itu mencoba satu suapan.
Uhuk uhuk!
"Ah, maaf maaf. Kamu lanjutkan lagi makannya!"
"Tidak usah kamu menanyakan soal uang itu, saat menemukanmu? Kamu pikir aku ini wanita penggila uang? Berarti kurang lama Kau mengenalku Sean?" Wajah Alexa sudah tidak tampak manis lagi.
Sean tersenyum melihat wanita itu seperti itu, cemberut. Dia terlihat manis, hingga ia tidak ingin kehilangannya lagi. "Kita akan bersatu kembali Lexa," ucapnya kemudian.
Wanita paruh baya itu melihat mereka dari pintu, ia terharu melihat ini. Pemandangan yang biasanya hanya ia lihat dari televisi tetangga.
Lexa ternyata menyadari adanya bibi di luar pintu. Wanita itu masuk ke dalam, ia pun masuk dan menanyakan keadaan Lexa sekarang. Dan Lexa-pun menjawabnya dia sudah lebih baik dari sebelumnya.
Memang pada saat itu kondisinya sedang lapar, tubuhnya gemetar dan akhirnya ia pun tidak sadar kan diri.
"Kamu menginap di sini dulu, nanti setelah kondisimu sudah benar-benar baik kalian boleh lanjutkan tujuan kalian!" Titah wanita itu, ia seperti seorang ibu kandungnya saja.
"Terimakasih Bu, kalian sekeluarga sangat baik pada kami dan kami tidak bisa membalasnya nya biar semoga Yang Kuasa yang membalas kebaikan ibu dan bapak." Doa Lexa pada sang bibi yang sudah menolong mereka.
"Amiinnn. Sean, biarkan Lexa jika ia mau istirahat, jangan di ganggu dulu ya, yuk keluar!"
Wanita yang selera humornya tinggi itu menyeret Sean keluar. Dan terkadang ia sedikit nakal dengan menggoda sang bibi yang dipanggilnya ibu tersebut.
"Aku mau sekamar sama pacar saya, boleh kah Buk! Hehe," ucap Sean dengan menggaruk kepalanya. Ia berusaha membuat Lexa dan ibu itu tertawa.
Dan usahanya berhasil, mereka terbahak-bahak, melihat kekonyolan Sean. Ia menjewer kuping Sean keluar kamar Lexa, dan wanita itu menutup pintunya.
__ADS_1