
Setelah berkutat di meja rias, Keysha pun keluar dari kamarnya. Dilihatnya Kevin yang baru saja menarik kursi untuk sarapan. Keysha menghampiri suaminya itu. Ia pun menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi tersebut.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Kevin.
Keysha yang baru saja hendak menyuap sesendok nasi goreng pun terhenti.
"Aku.. biasanya hanya menghabiskan waktu di rumah" sahut Keysha. Gadis itu kembali memasukkan nasi gorengnya ke dalam mulut.
"Apakah kau tidak merasa bosan? atau kau ingin keluar?" ucap Kevin.
"Ya, aku merasa sedikit bosan"
"Jika kau ingin keluar, pakai saja mobil yang ada di garasi" ujar Kevin
UHUKKK..
Keysha langsung tersedak saat mendengar ucapan dari Kevin. Entah mengapa setelah kejadian malam itu, pria yang ada dihadapannya sedikit berubah. Perlahan pria itu menunjukkan sisi romantisnya pada Keysha.
"Ini ..." ucap Kevin menyodorkan segelas air putih.
Keysha langsung meneguk air itu hingga kandas. Ia pun menatap Kevin sedikit heran.
"Kau mengizinkanku membawa mobil?" tanya Keysha.
"Hmmm.." timpal pria itu seraya menganggukkan kepalanya.
"Apakah ada yang salah dengan hal itu?" tanya Kevin.
"Tidak"
"Atau kau tidak bisa menyetir?" tebak Kevin.
"Jangan mengada-ada, aku bahkan sudah memiliki SIM." timpal Keysha seraya mengunyah makanannya.
Kevin terkekeh pelan. Pria itu meraba sakunya, meletakkan kunci mobil tepat dihadapan Keysha.
"Pakailah ini, kau bisa membawanya kemana saja." ujar Kevin yang kemudian melanjutkan sarapannya.
"Bukankah ini mobil yang kau beli beberapa hari yang lalu?"
Kevin menganggukkan kepalanya. Keysha kembali tercengang.
"Tapi aku tidak terlalu membutuhkannya"
"Tidak apa-apa, lagi pula aku memberikannya untukmu. Anggap saja itu adalah hadiah dariku." ucap Kevin.
Keysha merasa susah payah menelan makanan yang ada di mulutnya. Perubahan Kevin sungguh drastis dan sedikit membuat gadis itu terkejut. Kini dirinya pun mulai bertanya-tanya.
"Apakah Kevin juga sudah mulai membuka hatinya?"
__ADS_1
....
Seusai sarapan, Kevin pun pergi ke Kantor bersama dengan Riko. Setelah berpamitan pada Keysha, pria itu pun segera memasuki mobil.
Keysha menatap mobil yang dinaiki oleh suaminya itu melaju ke jalanan. Ada rasa senang di hatinya saat Kevin menunjukkan sisi hangatnya lagi. Ya mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan bahwa ia bisa menjadi istri yang baik walaupun pernikahan mereka awalnya tanpa dilandasi oleh cinta.
...
"Tuan, kami menemukan keberadaan Nyonya Icha" ujar Riko yang masih fokus menyetir.
Guratan bahagia pun terpatri di wajah tampan Kevin. Ia sangat senang karena bisa mengetahui kabar istrinya itu.
"Dimana mereka? apakah mereka sehat-sehat saja? putar balik mobil, kita akan menjemputnya!" ujar Kevin terdengar antusias.
Riko menghela napasnya, pria itu memilih untuk memberhentikan mobil yang ia bawa ke tepian jalan.
"Ada apa? mengapa kau memasang wajah muram seperti itu?" tanya Kevin heran.
"Maaf sebelumnya, Tuan. Tapi ini merupakan kabar baik sekaligus kabar buruk" ujar Riko.
"Apa maksudmu? katakan apa yang terjadi pada mereka berdua?"
"Saat ini Nyonya Icha serta Varo sedang berada dalam pengawasan Ardi. Dialah yang membawa Nyonya pergi dari tempat itu" jelas Riko.
"Ardi? Bagaimana bisa dia menemukan istriku?!" tegas Kevin dengan nada tinggi.
Kilat mata Kevin seketika berubah. Pancaran kemarahan yang luar biasa dapat dilihat dari sorot matanya. Pria itu mengepalkan tangannya dengan erat, sungguh ia jengah atas sikap saudara tirinya itu yang selalu saja mencari-cari kelemahan yang Kevin miliki.
"Putar balik sekarang! segera jemput mereka!!" seru Kevin.
"Maaf Tuan, alangkah lebih baik kita jangan bertindak gegabah. Saat ini Nyonya dan Varo dalam keadaan baik-baik saja. Jika Tuan bersikap terlalu keras, saya takut keduanya akan disakiti" jelas Riko.
"Lantas aku harus bagaimana? membiarkannya tetap berada disana?! Mereka adalah anak dan istriku, bagaimana mungkin aku harus bergerak lambat dalam hal ini" bentak Kevin.
"Iya saya tahu Tuan. Tapi tolong kali ini saja untuk mengesampingkan ego Anda." ujar Riko mencoba menenangkan amarah Kevin.
Dada pria itu naik turun menahan emosinya, sementara tangannya terkepal dengan kuat. Ia pun tampak meninju jok yang didudukinya beberapa kali karena kelewat kesal atas sikap saudara tirinya itu.
"Aku akan membunuhmu Ardi, lihat saja!!" ucap Kevin, terselip amarah yang besar dari nada bicaranya.
Di lain tempat, Icha menepuk-nepuk bokong Varo pelan untuk menidurkannya. Dilihat sang buah hati telah tenggelam dalam mimpinya.
Dengan pelan, Icha turun dari tempat tidur. Ia pun mengunci pintu kamarnya dan kemudian menatap ke arah jendela sembari memandang langit.
Setetes air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Wanita itu seakan menyesali takdirnya karena telah berurusan dengan Kevin.
Kini dirinya dalam belenggu adik tiri suaminya itu. Icha merasa penderitaan yang ia terima tak ada habis-habisnya.
Ia melayangkan pandangannya pada Varo yang tengah tertidur lelap. Hatinya terasa sakit saat melihat wajah lugu putranya itu harus menerima semua ini. Varo seharusnya masih bermain dan bergaul dengan anak-anak yang seumuran dengannya. Akan tetapi putranya harus menghadapi situasi yang rumit dan hanya berteman dengan sang ibu saja.
__ADS_1
"Maafkan mama Nak, maafkan mama yang sudah membawamu dalam kesengsaraan ini" gumam Icha menitikkan air matanya.
Flashback on:
Icha tengah menemani Varo bermain di teras rumahnya. Tak lama kemudian, wanita itu melihat sebuah mobil yang baru saja berhenti di depan rumahnya.
Ia pun tersenyum saat melihat ke arah mobil tersebut.Dengan cepat Icha berlari seraya menghampiri mobil itu. Icha mengira bahwa itu adalah suaminya. Karena tidak ada yang tahu tentang keberadaan Icha di rumah ini.
Namun saat orang yang berada di dalam mobil tersebut keluar, Icha mengernyitkan keningnya. Dia bukanlah Kevin! Hal itu membuat Icha mundur beberapa langkah.
"Kau.." Icha tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia adalah sosok yang pernah diceritakan oleh suaminya. Sosok yang harus ia hindari.
"Senang bertemu denganmu, Kakak Ipar" ujar Ardi seraya memperlihatkan senyum iblisnya.
"Ternyata hidupmu sungguh menyedihkan, disembunyikan layaknya sebuah kotoran. Sementara Kakakku menikmati hidupnya sembari tertawa bersama istri mudanya" ucap Ardi memperhatikan sekeliling halaman rumah.
Icha memang disembunyikan, Kevin memberikan hunian bak mansion yang posisinya berada di tempat terpencil .
"Ada perlu apa kau datang kemari?!" ujar Icha yang tampak panik.
"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu Kakak Ipar? ini adalah pertemuan pertama kita akan tetapi sepertinya kau tidak memberikan kesan yang baik" ucap pria itu.
"Pasti Kakak ku memberitahukan padamu bahwa aku adalah pria yang jahat, bukan? Ckckck.. tampaknya dia tidak pernah berkaca. Sebenarnya dialah yang pria yang jahat" tukas Ardi.
Varo berlari kecil memeluk sang mama yang tengah bersitenggang.
"Mama.. dia siapa?" tanya Varo.
"Hai keponakanku" sapa Ardi menyeringai.
Icha langsung menarik Varo ke dalam pelukannya. Dan mencoba pergi dari tempat itu. Ardi melemparkan tatapan pada pelayan yang biasa mengasuh Varo. Dengan lirikan mata dari Ardi, pelayan itu pun bergerak cepat menangkap Icha yang baru saja hendak melewatinya.
"Ada apa ini? lepaskan!" teriak Icha. Sementara Varo sudah menangis kencang karena melihat mamanya yang mulai ketakutan.
Dengan langkah yang cepat, Ardi menghampiri Icha. Pria itu pun memukul tengkuk Icha. Seketika penglihatan Icha pun menggelap.
Flashback off:
.
.
.
Bersambung...
Guys maaf ya up nya rada ngaret. Soalnya saat ini kondisi aku kurang memungkinkan untuk up nya cepet.
Kalau moodnya udah membaik besok aku bakalan up lagi❤️
__ADS_1